Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch.42 Ratu Palmasari tiba Di istana Tirta Yukti



Ratu Palmasari dan Keduabelas Putrinya duduk diatas segumpal Awan, atas perintah Ratu Palmasari Awan tersebut langsung membawa mereka melesat terbang melintasi Kota Kasada Dwipa, banyak para Dewa-Dewi yang berpapasan merasa sangat kagum dengan kecantikan mereka yang tidak biasa.


Ratu Palmasari dan Keduabelas Putrinya tersenyum ramah kepada mereka yang berpapasan sambil menganggukkan kepalanya.


" Lihatlah pemandangan di Kota Kasada Dwipa ini begitu indah, Kota ini dikelilingi Sungai yang sangat indah dan berkelok-kelok seperti seekor naga yang sedang terbang, tanaman Bunga-bunga yang berbagai jenis tersusun rapi seperti dirawat sangat baik," Kata Dewi Mandasari antusias membuat saudaranya yang lain jadi tersenyum melihat tingkah Dewi Mandasari.


" Kau benar Dinda, keindahan ini membuat aku ingin turun dan merasakan keindahan itu sendiri, semoga suatu saat kita bisa menikmatinya secara langsung," Ujar Dewi Nawaratri yang tak kalah antusiasnya.


" Lihatlah disana, sepertinya ada berbagai macam pertunjukan, bukankah disana ada yang menarikan tarian Dewi Bulan yang sering kita tarikan pada saat menyambut Purnama," Ujar Dewi Sulasih sambil memandangi saudari-saudarinya secara bergantian.


Semua saudari-saudarinya awalnya tersenyum namun setelah mendengar perayaan Bulan Purnama mereka raut wajah mereka menjadi berubah muram, pasalnya sudah lewat beberapa Purnama mereka tidak merayakan meriahnya perayaan Bulan Purnama akibat dari ulah Sangkala Sura yang kejam.


Ratu Palmasari memandangi semua Putrinya dengan mencoba tersenyum meski harus dipaksa.


" Putri-putriku, bersabarlah semua pasti berlalu, yakinlah Sangkala Sura yang jahat itu akan mendapatkan karmanya, apapun yang terjadi nanti semua sudah kehendak para Dewa-Dewi di Surga, Ibunda yakin kebahagiaan yang kita impikan akan terwujud meski jalannya masih menjadi misteri," Ratu Palmasari memberikan wejangan singkat kepada putri-putrinya, Keduabelas Putri pun langsung memeluk Ibunda secara bersamaan.


Suasana haru pun terjadi tak terasa gumpalan Awan putih itu sudah sampai di pintu Gerbang Istana Tirta Yukti.


Awan putih mendarat dengan sangat sempurna tepat didepan para Prajurit jaga.


Melihat kedatangan para Dewi- Dewi yang sangat cantik turun dari gumpalan Awan, Prajurit jaga langsung menghampiri mereka dan bertanya.


" Maaf para Dewi-Dewi yang cantik, kalian telah berada di pintu Gerbang Istana Tirta Yukti apakah kalian tersesat atau memang ingin memasuki istana?," Tanya Sang Prajurit dengan sopan sambil memasang senyum termanisnya tebar pesona.


" Tuan Prajurit kami ingin menemui Yunda Ratu Dewi Kanawa, katakan padanya bahwa Ratu Palmasari dan Keduabelas Putrinya sudah tiba di istananya," Kata Ratu Palmasari secara terus-terang karena beliau merasa tidak ada yang perlu lagi disembunyikan.


Mendengar pengakuan dari Ratu Palmasari, para Prajurit penjaga Gerbang menjadi kaget kemudian memasang senyum sinisnya dan salah satu Prajurit langsung menanyakan tanda bukti.


" Maaf, kami bukannya tidak sopan, bisakah kalian tunjukkan lencana yang kalian miliki, kami harus melakukan ini mengingat suasana yang terjadi saat ini," kata salah satu Prajurit jaga.


Ratu Palmasari sangat malas berdebat mengingat keadaan yang sangat genting, kemudian mengeluarkan lencana Keratuannya dan diikuti Keduabelas Putrinya.


" Prajurit tunjukkan ini pada Yunda Dewi Kanawa sekarang juga, karena aku tak mau berlama-lama disini," Tegas Sang Ratu.


Melihat lencana tersebut para Prajurit jaga yang tadinya hampir menertawai pengakuan Ratu Palmasari dan Keduabelas Putrinya kini agak segan namun masih ragu, karena tidak menutup kemungkinan Sangkala Sura akan melakukan berbagai macam cara termasuk menjelma menjadi sosok yang lainnya.


" Baiklah, kalian boleh tunggu disini sebentar, aku akan melapor terlebih dahulu," Kata salah satu Prajurit jaga tersebut yang sambil membawa lencana yang diterima dari Ratu Palmasari dan Keduabelas Putrinya.


Tak berselang lama Prajurit itu kembali ke Gerbang penjagaan, sampai di Gerbang Prajurit itu tiba-tiba memberi hormat kepada Sang Ratu dan Keduabelas Putrinya. Selesai memberi hormat Prajurit itu mempersilahkan Ratu Palmasari dan Keduabelas Putrinya dipersilahkan memasuki Istana dengan diantar oleh salah satu Prajurit penjaga Gerbang.


Sang Ratu Dewi Kanawa yang sudah mendapat laporan akan kedatangan Ratu Palmasari dan Keduabelas Putrinya langsung menyambut kedatangan mereka di pelataran depan Istana.


Setelah melewati beberapa pos penjagaan akhirnya Ratu Palmasari dan Keduabelas Putrinya tiba di pelataran istana, terlihat Ratu Dewi Kanawa beserta Prabu Dewa Sri Binasaka beserta Permaisuri dan putra-putrinya dan Prabu Dewa Sri Purna Dharma beserta Permaisuri dan putra-putrinya serta beberapa Punggawa Kerajaan menyambut kedatangan mereka.


Ratu Dewi Kanawa langsung menghampiri mereka.


" Sembah hormat kalian kami terima," Dewi Kanawa setelah berkata langsung memeluk Ratu Dewi Palmasari, mereka berpelukan menumpahkan beban yang mereka pendam selama ini.


Suasana haru menyelimuti semua yang hadir diseluruh pelataran Istana tatkala mendengar suara Isak tangis kedua Ratu tersebut.


Prajurit penjaga Gerbang yang mengantar Sang Ratu Dewi Palmasari dan Putrinya langsung lemas melihat' bagaimana Ratu mereka menyambut tamu yang sempat diragukan tadi.


" Aku harus cepat- cepat pergi dari sini, Gusti Ratu Dewi Kanawa pasti sangat murka jika beliau mengetahui jika penyambutan tamu Agungnya di Gerbang Istana biasa-biasa saja, bahkan terkesan meremehkan," Bathin Prajurit penjaga Gerbang tersebut.


" Aduhh, mati aku," Prajurit itu menepuk jidatnya sendiri dan buru-buru pergi.


Tiba-tiba dalam suasana keharuan itu Sang Mahapatih Tirta Yukti yang bernama Dewa Sri Purwa Trenggana menyela.


" Gusti Ratu, Hamba mohon maaf jika menyela suasana hati Gusti Ratu, sebaiknya Gusti Ratu Dewi Palmasari dan Keduabelas Putrinya dibawa ke Pendopo Agung, tidak baik tamu Agung dibiarkan berlama-lama disini," Ucap Sang Mahapatih dengan hormat.


Semua yang mendengar jadi tersentak malu, kemudian tersipu-sipu, terutama Gusti Ratu Dewi Kanawa, Ratu Palmasari dan Keduabelas Putrinya pun tersenyum.


" Paman Patih, Paman benar, tamu istimewa harus diperlakukan istimewa juga, benar begitu Dinda Dewi Palmasari," Ucap Sang Ratu Dewi Kanawa sambil menggaet tangan Sang Ratu Dewi Palmasari.


Sang Ratu Dewi Palmasari mendapatkan perlakuan yang berlebihan merasa sungkan namun Dia merasa senang karena masih dihormati.


" Yunda, jangan berlebihan seperti ini, hanya akan menjaga jarak diantara kita," Ucap Sang Ratu Dewi Palmasari.


" Sepertinya, aku juga terlambat datang, ternyata semua sudah berkumpul disini, ayo Yunda kita Kependopo Agung Sekarang juga ada yang ingin aku bicarakan," Kata Sang Ratu Dewi Palmasari sambil tersenyum.


" Baiklah, mari kita Kependopo sekarang juga ," Setelah memberi perintah Ratu Dewi Kanawa langsung berbalik dan melangkah menuju Kependopo Agung diikuti oleh yang lainnya.


********


Sangkala Sura kini sudah sampai Diistana Lawang Praja disana juga sama tidak ada penghuni, hanya terdengar suara-suara Serangga kecil.


Sangkala Sura sangat geram dan jengkel.


" Kurang ajar, sudah sejauh ini aku belum menemukan satu sosok Dewa pun, kemana mereka pergi," Kata Sangkala Sura dengan mengepalkan tangannya.


Sangkala Sura terus menggeram, namun tiba-tiba ada suara yang mengejutkannya.


" Sepertinya semua penghuni Kahyangan Sloka berkumpul di suatu tempat Raja Iblis," Kata suara tersebut yang membuat Sangkala Sura menoleh kesegala arah.