
Diluar rumah Ki Wongso, Pak lurah dan warga Desa sudah banyak berkumpul untuk mencari Bajraloka bersama-sama, karena hari mau gelap mereka membawa obor dan senjata tajam.
" Ki, ayo cepat kita harus segera menemukan Bajraloka!," panggil Pak lurah dari luar.
Ki Wongso dan Nyi Kerti yang sedang terkesiap melihat Putra satu-satunya tiba-tiba tertidur ditempat tidur dengan nyenyak, terhenyak mendengar panggilan Pak lurah dari luar.
Ki Wongso buru-buru keluar menemui Pak lurah dan warga yang menunggu diluar rumah.
" Pak lurah dan warga Desa semuanya, maafkan saya telah merepotkan kalian, anak saya Bajraloka sudah kembali kerumah, sekarang dia sedang tidur nyenyak didalam," Ucap Ki Wongso dengan raut wajah yang tak enak hati.
" Benarkah Ki?," Tanya Pak lurah dengan rasa tak percaya.
" Benar saya tidak bohong," Ki Wongso lalu menceritakan tentang Bajraloka yang tiba-tiba sedang tertidur ditempat tidur.
" Syukurlah kalau begitu, Ki kalau begitu kami harus pulang, jaga kesehatan aki," Kata Pak lurah.
" Ayo semuanya kita kembali kerumah masing-masing!," Pak lurah memerintahkan semua warganya untuk pulang.
Semua warga kini membubarkan diri, halaman rumah Ki Wongso kini menjadi sepi.
Keesokan harinya Ki Wongso dan Nyi Kerti bangun pagi-pagi, hari ini mereka harus pergi kesawah untuk menggarap sawah milik Pak lurah, sejak mereka punya anak Ki Wongso dan Nyi Kerti giat bekerja sebagai buruh tani tempat Pak lurah, karena mereka tidak memiliki sawah seperti yang lainnya.
Dulu waktu pembagian lahan, Ki Wongso mendapatkan bagian yang sama dengan warga yang lain, namun karena sibuk berdoa Ki Wongso tidak sempat mengurus sawah, dan akhirnya sawah harus dijual kepada pak lurah.
" Uhukkk, uhukkk, uhukkk,"
Terdengar suara batuk dari belakang rumah,
Nyi Kerti yang sedang sibuk mempersiapkan bekal kemudian memanggil suaminya.
" Ki, kalau kambuh lagi, Aki Ndak usah pergi kesawah hari ini," Kata Nyi Kerti
" Uhukkk, uhukkk,"
" Nyi, Aki Ndak apa-apa, hanya batuk biasa, Nyai ndak usah khawatir," Ki Wongso menyahut dari belakang rumah sambil memberikan pengertian kepada Istrinya.
" kalau bapak sakit, bapak ndak usah memaksa biar aku yang bekerja," tiba-tiba Bajraloka nyeletuk membuat Ki Wongso tersenyum kemudian langsung menggendong Bajraloka.
" kamu jangan mengkhawatirkan bapak, lihatlah, bapak sehatkan," Ki Wongso berkata sambil menjuwir hidung Bajraloka yang mancung dengan gemas.
" Kamu dirumah saja jagain Belang dan yang lainnya, nanti kasih makan rumput biar mereka gemuk dan sehat," Kata Ki Wongso yang selalu memanjakan Bajraloka.
Bajraloka yang bocah aktif tidak senang mendengar ucapan bapaknya dia merengut, mulutnya pun dikerucutkan lucu.
" Satu lagi, jangan masuk Hutan, itu berbahaya banyak binatang buasnya," Tambah Ki Wongso.
Mendengar larangan bapaknya Bajraloka yang memang senang masuk Hutan berburu tambah kesal.
Dia langsung nyelosor turun dari gendongan bapaknya kemudian berlari pergi.
" Bajra ndak suka bapak," Ki Wongso hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya.
Bajraloka pergi kerumah Nyi Ending dengan berlari, cutcit dan Gading yang melihat Tuannya berlari langsung mengikuti, cutcit yang terbang langsung bisa menyusul dan bertengger dibahu Bajraloka sedangkan Gading masih ketinggalan dibelakang sambil menggonggong.
Jarak antara rumah Nyi Ending dan Ki Wongso memang cukup jauh melewati beberapa rumah penduduk.
Tiba-tiba ditempat yang sepi tiga orang bocah yang badan dan umurnya lebih besar dari Bajraloka menghadang Perjalanannya.
" Hei ceking, berhenti kau," Bajraloka segera menghentikan larinya ketika dihadapannya ada tiga bocah lebih besar darinya menghadang.
Dengan dua jari berada didagunya kepala agak dimiringkan sepertinya sedang memikirkan cara.
" Bocah ini sudah membuat kita kesal beberapa hari yang lalu, maka hari ini kita harus bikin dia takut kepada kita," kata bocah yang dipanggil juragan dengan nada menggeretak.
Bajraloka yang mendengar percakapan mereka hanya mengernyitkan alisnya beberapa kali, dia memang tidak merasa gentar sehingga ketiga bocah itu semakin kesal.
" Hai ceking, mau kemana kamu," Tanya bocah yang dipanggil juragan.
" Aku mau kerumah Nyi Ending," Jawab Bajraloka dengan santai kedua tangannya dilipat didadanya.
" Serahkan Busur dan anak panah itu," Gertak bocah yang dipanggil juragan.
" Ini milikku, bukan milik kalian," Kata Bajraloka dengan sikap menantang.
" Juragan dia benar-benar melawan kita, kita rebut saja, kemudian kita ikat dia dipohon yang ada semurnya," Bocah yang satunya menimpali sambil mempengaruhi juragannya.
" Hah kau benar, ayo kita rebut," Tiga bocah itu langsung menyerbu Bajraloka.
Bajraloka meskipun tubuhnya kecil dan kurus berkat sehari-hari dia berburu, berlari, meloncat, dan kadang menghindari terjangan binatang buruan yang melawan menjadikan tubuhnya lincah dan gesit.
Gading tak tinggal diam dia langsung menetapkan lawan yang bertubuh gemuk.
Bocah yang dipanggil juragan mencoba mengambil busurnya namun dihadang oleh tinjunya Bajraloka, Karena kepalan tangan Bajraloka yang kecil, Juragan itu meremehkan, setelah tinju dan cengkeraman bertemu, Juragan itu mengaduh kesakitan sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
" Aduuuhh sakit," juragan itu tidak menyangka dia bisa dikalahkan.
Bajraloka dengan gesit menghindar ketika dari belakang ada yang ingin meringkusnya, alhasil bocah itu terus lolos tanpa bisa mengerem sehingga dia harus menabrak si Juragan yang sedang kesakitan.
" Debruakkk,"
" Aaaahhh bagaimana kau ini, dasar bodoh cepat bangun," Dengan menahan malu si Juragan mendorong temannya.
" Hahahaha," Bajraloka tertawa ngakak melihat kedua lawannya.
" Kurang ajar kau ceking, awas kau," sijuragan menyerang Bajraloka dengan hati-hati karena dia tidak ingin dipermalukan lagi.
Sijuragan mengambil kayu sebesar lengan anak kecil yang tergeletak dipinggir jalan.
Dengan kayu tersebut sijuragan ingin memberikan pelajaran kepada Bajraloka, dia mengayunkan kayu tersebut kearah Bajraloka.
Bajraloka menangkis dengan menggunakan busurnya.
" Heatt mampus kau ceking," Teriak sijuragan memberi semangat kepada dirinya sendiri.
Kayu diarahkan dari atas kekepala Bajraloka, Bajraloka menyambutnya dengan menangkis mengarahkan busurnya keatas.
Setelah kayu tertahan sejengkal diatas kepala, Bajraloka melihat kelengahan sijuragan, dia mengarahkan tendangan kaki mungilnya kearah perut sijuragan.
Sijuragan tiba-tiba terdorong mundur dan jatuh terduduk dengan memegangi perutnya.
Anak buah sijuragan langsung mengarahkan tendangan dari belakang Bajraloka, Bajraloka yang lincah langsung berbalik dan menghindar, tendangan lolos lagi Bajraloka tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan gerakan memutar sekali, Bajraloka sudah berada disamping kaki lawannya dia langsung meninju pergelangan kaki lawannya , lawannya mengaduh kesakitan, namun Bajraloka tidak berhenti dia menerjang dengan tendangan kaki mungilnya dan bocah itu terdorong mundur hingga jatuh.
****** Bersambung......
"