
Nyi Dewi Raksi sedang bersembunyi didalam sebuah Goa yang tertutup awan tebal, Dia merasa ketakutan tubuhnya gemetar menggigil setelah melihat bagaimana Sangkala Sura membantai para Dewa-Dewi dengan kejam.
Dua Dewa-Dewi yang mencari keberadaan Nyai Dewi Raksi tidak menemukan dikediamannya bahkan Rumahnya hancur, para Dewa-Dewi itu bernama Dewa Sandu dan Dewi Kalsatri sedang celingak-celinguk mencari, namun belum juga menemukan Nyi Dewi.
" Dewa Sandu, gunakan Telepatimu agar bisa menemukan Nyai Dewi," Ucap Dewi Kalsatri.
" Baiklah, aku akan menggunakannya," balas Dewa Sandu yang langsung memejamkan mata memusatkan pikirannya tanpa duduk bersila.
Sekejap setelah memusatkan pikirannya muncul sebuah sinar didalam pikiran Dewa Sandu yang langsung meluncur mencari Nyai Dewi Raksi tidak terlalu lama keberadaan Nyai Dewi Raksi dapat ditemukan.
Dewa Sandu membuka matanya kemudian dia mengajak Dewi Kalsatri ketempat Nyai Dewi Raksi.
" Ayo Kalsatri kita Kegoa awan dingin Nyai Dewi Raksi bersembunyi disana," ajak Dewa Sandu, Dewi Kalsatri pun mengikuti Dewa Sandu.
" Nyai Dewi Raksi keluarlah aku Dewa Sandu dan Dewi Kalsatri ingin bertemu denganmu," Dewa Sandu memanggil Nyai Dewi Raksi berulang- ulang.
Nyai Dewi Raksi mendengar panggilan berulang-ulang untuknya akhirnya memberanikan keluar dari Goa.
" Sandu dan Kalsatri kau rupanya, ada apa kau mencari ku?," tanya Nyai Dewi Raksi.
" Nyai Dewi, Desa kita telah dihancurkan oleh Raksasa itu, kita harus segera meminta bantuan kepada Kerajaan, hanya Nyai Dewi yang bisa melapor dengan tanpa halangan dari penjaga Istana, maka kami minta," belum kelar Dewi Kalsatri bicara Nyai Dewi Raksi sudah menimpali.
" Jangan banyak bicara, kalau begitu ayo kita ke Istana sekarang juga," kata Nyai Dewi Raksi.
Tanpa banyak bicara mereka segera melesat pergi meninggalkan Goa Awan dingin.
Setelah melewati beberapa Pulau-pulau yang melayang akhirnya mereka sampai Diistana,
tanpa adanya hambatan dari Prajurit jaga Nyai Dewi Raksi langsung menuju ke pendopo Agung, sampai disana Prajurit yang menjaga langsung menyapa Nyai Dewi Raksi.
" Nyai Dewi ada perlu apa sehingga Nyai tergesa- gesa seperti itu," tanya salah satu dari Prajurit jaga tersebut.
" Baiklah, tunggu disini biar aku melapor kepada Gusti Ratu," setelah berkata Prajurit itu langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Tidak menunggu lama para Prajurit itu datang kembali.
" Nyai, Gusti Ratu mempersilahkan Nyai dan kawan nyai untuk menemui Gusti Ratu dipendopo Agung," kata Prajurit tersebut.
" Terimakasih Prajurit," setelah bicara dengan Prajurit jaga Nyai Dewi langsung terbang kearah pendopo Agung.
Dipendopo ternyata sudah ada Duabelas Putri dan penasehat Dang Acarya Dewa Sri Sudarsana serta Mahapatih Dewa Sri Tungku Geni.
Sampai Dipendopo Agung Gusti Ratu Dewi Palmasari mempersilahkan Nyai Dewi Raksi untuk melapor.
" Nyai Dewi Raksi langsung saja, apa yang hendak kau lapor," kata Gusti Ratu dengan tegas dan berwibawa.
Setelah memberikan hormatnya, Nyai Dewi Raksi pun melapor.
" Ampun Beribu Ampun Gusti Ratu Dewi Palmasari, jika kedatangan Hamba mengganggu ketenangan Gusti Ratu, adapun kedatangan Hamba ini ingin meminta bantuan Gusti Ratu Dewi Palmasari, Desa Kumitir yaitu Desa Hamba saat ini sedang dihancurkan oleh Raksasa jahat, Kami tidak sanggup melawannya, mohon bantuan dari Gusti Ratu," Nyai Dewi Raksi membeberkan maksud dan tujuan kedatangannya dan semua yang hadir dipendopo Agung terkejut.
" Raksasa....? kenapa bisa ada Raksasa, darimana datangnya Raksasa itu Nyai," tanya Gusti Ratu Dewi Palmasari dengan alis dikernyitkan.
" Kami juga tidak tahu Gusti Ratu, tiba-tiba Raksasa itu datang dan menanyakan sebuah Permata yang kami tidak tahu," Dewa Sandu menjawab pertanyaan Gusti Ratu.
" Sangkala Sura....!!! kekacauan ini sudah dimulai, Paman Mahapatih bawa sepuluh ribu prajurit untuk menangkap Raksasa itu dan perintahkan sebagian Prajurit untuk melindungi Desa-desa yang lain dan sisanya menjaga Istana, laksanakan segera," seru Gusti Ratu Dewi Palmasari dengan sedikit berkeringat.
" Baiklah Gusti Ratu, Titah Gusti Ratu akan Hamba laksanakan," Mahapatih Dewa Sri Tungku Geni memberi hormat dan kemudian langsung meninggalkan pendopo Agung.
****** Bersambung....