Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch.58 Bajraloka dan Nyi Ending



Gading terus mengejar sigemuk, sigemuk yang sudah kelelahan tidak sanggup lagi untuk berlari, nafasnya ngos-ngosan akhirnya sigemuk terjatuh karena kakinya lemas tak bertenaga.


Gading yang sudah terlanjur marah, langsung menerkam sigemuk.


" Toloooong, tolong," Sigemuk berteriak meminta tolong.


Beruntung Sigemuk ada warga yang lewat, seorang warga itu menolong Sigemuk, dia menakut-nakuti Gading dengan sebatang kayu.


Gading akhirnya berlari menjauh kembali ketempat Bajraloka, meskipun mendapat pertolongan namun tangannya terluka akibat gigitan dari Gading.


Setelah berhasil mengalahkan lawannya, Bajraloka, Gading dan cutcit melanjutkan perjalanan kerumah Nyi Ending.


Sampai dirumah Nyi Ending Bajraloka memanggil-manggil Nyi Ending.


" Nek, Nenek Ending," Bajraloka langsung masuk kedalam rumah yang tak dikunci setelah tak ada jawaban.


Bajraloka celingak-celinguk berharap Nyi Ending dirumah.


" Bocah nakal ada apa pagi-pagi dah kesini," tiba-tiba suara Nyi Ending terdengar dari belakang rumah.


" Nek," Bajraloka setelah mendengar sahutan Nyi Ending dari belakang rumah langsung membuka pintu belakang.


Dilihatnya Nyi Ending sedang mencabut kunyit Bajraloka pun ikut membantu Nyi Ending.


" Sudah cukup segitu saja," Kata Nyi Ending sambil memasukkan kunyit kebakul.


" Nek, Bapak melarang agar tidak berburu lagi," Bajraloka langsung berbicara pada kekecewaan hatinya.


Nyi Ending memang menyayangi Bajraloka dia sudah menganggap Bajraloka seperti cucunya sendiri maka setiap Bajraloka bersedih pasti larinya ke Nyi Ending.


" Kalau begitu ya turuti saja," Kata Nyi Ending sambil melihat ekspresi wajah Bajraloka, mendengar jawaban Nyi Ending Bajraloka tidak senang dia mengkerut-kerutkan wajahnya sehingga Nyi Ending tersenyum.


" Orangtua harus dituruti itu tandanya dia menyayangi mu bocah nakal,"


" Kenapa harus dilarang aku bisa jaga diri, kan ada Gading dan cutcit,"


Cutcit mendengar namanya disebut langsung ngoceh begitu juga si Gading.


" hehehehe, cepat kau bersihkan semua umbi-umbian ini, Nenek mau bikin obat,"


Bajraloka menuruti perintah Nyi Ending, dia memang selalu membantu Nyi Ending itu makanya Nyi Ending sangat menyayangi Bajraloka.


Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari halaman rumah Nyi Ending.


" Nyi, dimana bocah nakal itu Nyi," Kata para warga yang saling bersahutan sehingga terdengar begitu gaduh.


Nyi Ending dan Bajraloka yang mendengar ribut-ribut langsung keluar menemui para warga.


Begitu Bajraloka muncul para warga meneriaki.


" Nah itu dia bocah nakal itu," Kata salah satu warga.


Nyi Ending yang tidak mengerti permasalahan langsung memandang Bajraloka.


" Nyi, dia telah melukai anakku, tangannya patah ini semua gara-gara bocah ceking itu," Kata salah satu warga yang ternyata Bapak dari bocah yang dipanggil juragan.


" Benar, Anjingnya juga telah menggigit tangan anakku, dia harus bertanggung jawab," Kata salah satu warga yang ternyata Bapak dari Sigemuk.


.


" Tenang, tenang jangan terbawa emosi seperti ini," Kata Nyi Ending.


" Bagaimana kita bisa tenang, kalau anakku menderita gara-gara dia, Nyai jangan membela bocah nakal itu," Kata Bapaknya juragan.


" Aku tidak akan membelanya kalau dia salah tapi kalau dia benar maka Nyi Ending patut membela yang benar," Kata Nyi Ending bijak.


" Bajra apa benar yang mereka katakan," Tanya Nyi kepada Bajraloka.


" Saat diperjalanan menuju vkesini, mereka mencegatku dan bermaksud merebut Busurku serta ingin mengambil cutcit," Sergah Bajraloka membela diri dengan tenang bahkan tidak memiliki rasa takut sedikitpun.


" Hai kau, apa benar yang dikatakan Bajraloka, jangan berani berbohong kalau kau berbohong maka bekas inanganku ini akan menyiksamu," Nyi Ending menunjuk kearah anak kecil yang dipanggil juragan.


" Puuhh," Nyi Ending menembakkan bekas inangan itu kearah pohon, seketika pohon yang terkena inangan Nyi Ending berasap dan gosong.


" Bagaimana bocah, kau bohong atau tidak," Nyi Ending dengan menggertak membuat tiga bocah itu bergetar ketakutan.


" Rasanya aku sudah tidak sabar, sepertinya kalian ingin gosong seperti pohon itu," kembali Nyi Ending berbicara, gertakannya lebih keras hingga membuat tiga bocah itu tanpa komando langsung duduk bersimpuh.


" Aaaaampun Nyi, kaaaaami tidak beeeeeerbohong, yaaaaang dikatakan, Baaaaaajraloka itu semua beeeeenar," Sijuragan terbata-bata gemetaran karena takut.


" Nah, kalian dengar semua, cucuku Bajraloka pantas membela diri," Kata Nyi Ending


" Kalau tidak ada urusan lagi, saya tidak punya cukup persediaan makanan untuk menjamu kalian," Nyi Ending memang dikenal kalau bicara seenaknya saja maka para warga sudah tidak merasa heran dan marah.


Semua warga membubarkan diri, Bajraloka dan Nyi Ending kembali melanjutkan pekerjaannya.


" Bajra, Bagaimana kau bisa mengalahkan mereka yang yang lebih besar darimu," Tanya Nyi Ending yang merasa bangga dengan Bajraloka.


Bajraloka dengan sombongnya menceritakan pertarungannya dengan kedua bocah nakal itu, dia juga menceritakan kalau selama ini mereka terus mengganggu dirinya.


" Nek, apakah Nenek tidak marah sama Bajra," Tanya Bajraloka dengan agak merasa takut Nyi Ending marah.


" Hehehehe, Nenek tidak akan marah kalau kamu itu benar, kecuali kalau kamu bikin gara-gara," Nyi Ending yang merasa gemas menjuwir hidung mancung Bajraloka.


" Nek, boleh tidak Bajra kehutan, Bajra mau makan daging kelinci, kalau dapat banyak kan bisa dijual kepasar," Bajraloka dengan gaya merajuk takut Nyi Ending tidak menginginkan.


" Boleh saja, kebetulan Nenek juga mau kehutan mencari bahan-bahan obat," Kata Nyi Ending.


Bajraloka begitu senang mendengar Nyi Ending mengizinkannya untuk kehutan, mereka akhirnya bersiap-siap untuk pergi kehutan.


Dalam perjalanan kehutan yang tidak begitu jauh, Bajraloka menanyakan tentang aksi Nyi Ending kepada warga.


" Nenek hebat tadi, Nenek pasti seorang pendekar sakti,"


Nyi kaget mendengar pertanyaan Bajraloka


" hehehehe," Nyi Ending terkekeh, selama dia berada di Desa Kunir satu pun warga tidak tahu kalau dia seorang pendekar.


" Nek,"


" Iya,"


" Nenek bisa tidak mengajari Bajra ilmu tadi?,"


" Untuk apa?,"


" Untuk menjaga diri,"


" Hanya itu?,"


" Iya nek,"


" Ilmu Nenek tidak cocok buat laki-laki,".


" Memang ada bedanya Nek?,"


" Ya tentu ada, kalau laki-laki mempelajari ilmu Nenek maka dia akan menyimpang,"


" Menyimpang gimana nek,"


" hehehehe, menyimpang tubuhnya laki-laki tapi bersikap seperti wanita, Nenek tidak mau cucu nenek seperti itu,".


" Iiiihhh serem nek,"


" Hehehehe,"


Nyi Ending mengelus kepala Bajraloka dia berkata didalam hatinya.


" Kalau Ki Rengkyang masih hidup, dia pasti senang dengan bocah ini, sebab bocah ini jika dilatih akan menjadi Pendekar hebat,"


Tidak terasa mereka sudah memasuki wilayah Hutan, Hutan itu termasuk Hutan Rimba yang luas dan lebat oleh pepohonan yang besar tinggi menjulang, banyak Binatang buas menghuni Hutan tersebut, para warga lebih memilih hidup bercocok tanam ketimbang memasuki wilayah Hutan, karena dulu ada sepuluh warga yang mencoba berburu sampai ketengah Hutan tapi sampai sekarang belum kembali.


Hanya Nyi Ending, Bajraloka dan Ki Wongso serta Istrinya yang berani memasuki wilayah Hutan itupun hanya dipinggir saja.