
" Bajra kalau kamu ingin kuat, Nenek akan melatih fisikmu, karena jika ingin menjadi Pendekar harus memiliki tubuh yang kuat itu adalah dasar dari segala ilmu beladiri,"
" Baik Nek,"
" Mulai sekarang kamu harus berlatih dengan berlari, cari targetmu kemudian kejar sampai dapat jangan sekali-kali menggunakan busurmu,"
" Baik Nek,"
" Tapi ingat jangan sampai jauh kedalam Hutan, karena Hutan ini sangat berbahaya,"
Bajraloka penasaran dengan ucapan Nyi Ending, namun dia merasa bahwa Nyi Ending perlu dipatuhi.
Bajraloka mulai mencari target buruannya untuk dijadikan latihan, Cutcit dan Gading terus mengikuti Tuannya.
" Kresek,"
Seekor kelinci berbelok arah saat dia melihat didepannya ada mahluk lain yang lebih besar darinya.
Gading yang memiliki insting yang kuat sudah berlari mengejar terlebih dahulu.
" Gading jangan dikejar, itu untuk latihan ku,"
Seketika Gading berhenti.
Bajraloka mulai mengejar kelinci yang sudah jauh namun masih bisa dilihat.
Merasa ada yang mengejar, kelinci itu makin mempercepat larinya.
Bajraloka dengan keahliannya berlari akhirnya dapat menangkap kelinci itu.
Sudah lima ekor kelinci yang ditangkap Bajraloka kemudian dia menyerahkan kelinci itu kepada Nyi Ending.
Nyi Ending sangat puas dengan hasil yang diperoleh Bajraloka.
Didalam hatinya Nyi Ending berkata.
" Anak ini benar-benar memiliki bakat, semoga suatu saat dia menemukan seorang Guru,"
Nyi Ending tiba-tiba mengernyitkan dahinya
" Seperti ada yang memperhatikan, sebaiknya aku harus mengajak pulang Bajraloka,"
" Nek kenapa melamun?,"
" Ayo kita pulang, Nenek sudah mendapatkan apa yang Nenek cari,"
Keduanya kemudian meninggalkan Hutan, sampai dirumah Nyi Ending, mereka segera menguliti daging kelinci.
" Bajra, Nenek minta satu ekor buat Nenek masak, segeralah pulang orangtuamu pasti cemas,"
" Baik Nek, Bajra pulang,"
Bajraloka dan peliharaannya meninggalkan rumah Nyi Ending membawa empat ekor kelinci, diperjalanan banyak warga yang melihat Bajraloka.
" Wah, anak itu membawa empat ekor kelinci, aku mau beli satu ekor buat lauk malam nanti,"
Banyak warga yang menawarkan untuk membeli kelinci Bajraloka.
" Hai Bajra, maukah kau menjual daging kelinci itu untuk Bibi?,"
" Eeeeehhh Bibi, Bibi mau daging kelinci?,"
" Iya mau, Boleh Bibi beli?,"
" Kalau Bibi mau, ambil satu Ndak usah beli,"
" Jangan gitu, kamu kan capek,"
" Bajra sudah punya tiga ekor, ini lebih dari cukup Bi,"
Wanita itu dengan senang hati menerima pemberian dari Bajra.
" Terimakasih nak Bajra,"
" Sama-sama Bi,"
Bajra kembali melanjutkan perjalanan, sampai dirumah Ki Wongso dan Nyi Kerti sangat senang melihat anak semata wayangnya pulang.
" Bajra kamu kehutan lagi?," Tanya Ki Wongso
" Ki jangan dibahas apa kau tidak kasihan, melihat anakmu," Nyi Kerti bukannya membela Bajraloka tapi dia tidak mau ada keributan.
Mendengar pembicaraan kedua orangtuanya Bajraloka hanya bisa menundukkan kepalanya, takut kena marah.
" Bajra jawab kenapa malah diam," Ki Wongso memandangi Bajra dari atas ke bawah.
" I-i-i- ya , tapi bersama Nek Ending," Bajra berkata dengan rasa takut.
" Bapak tahu, anak-anak disini tidak ada yang mau bermain samamu nak, karena kita miskin, tapi jangan kehutan anak sekecil kamu sangat berbahaya," Ki Wongso dengan nada ditahan berusaha membuat Bajraloka mengerti.
" Apa benar yang dikatakan para warga, kalau kau berkelahi?,"
" Iya Bapak,"
" Kenapa bisa begitu nak," Nyi Kerti begitu khawatir sehingga dia memeriksa seluruh tubuh Bajraloka takutnya ada yang terluka.
" Lain kali hindari berkelahi, nanti banyak musuh, Bapak Ndak suka banyak musuh," Ki Wongso menasehati anaknya sambil mencomot singkong rebus.
" Iya pak, tapi mereka mulai duluan, mereka mau merampas busur kesayangan Bajra, dan piaraan Bajra," Bajra berusaha memberi pengertian kepada Bapaknya.
" Ya, sudah jangan dibahas lagi, Bajra mandilah sana, ibu sudah siapkan air buatmu," Nyi Kerti dengan kasih sayang menggamit lengan Bajra.
Bajra yang sudah merasa dirinya sudah besar menolak.
" Ibu, Bajra jangan diperlakukan seperti anak kecil, Bajra sudah besar," Ujar Bajra yang agak sombong ala anak kecil sambil berjalan menuju pancuran yang ada dibelakang rumah.
" ckckck," Nyi Kerti hanya menggeleng pelan.
" Nyi, jangan sampai Bajra tahu, sakit Bapak, jika suatu saat Bapak dipanggil menghadap Dewa, tolong awasi dia jangan sampai jadi orang jahat," Ki Wongso dengan menitikkan Airmata berkata sambil rebahan di dipan yang terbuat dari bambu.
Nyi Kerti memandang kedepan dengan tatapan kosong.
" Ki, meskipun Aki sakit, tidak seharusnya berbicara seperti itu, Dewa pasti mengabulkan permohonan kita seperti kita dihadirkan Bajra," Nyi Kerti tanpa terasa menitikkan Airmata, hatinya sakit ketika membayangkan hidup tanpa Ki Wongso orang yang selama ini setia menemani hidupnya.
Malam berlalu begitu tenang seperti malam-malam biasanya, dirumah Ki Wongso kini sepi, hanya terdengar suara-suara Serangga sebagai nyanyian penghantar malam.
****** Bersambung......