Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch.44 Pengakuan Dewi Ambarwati



Disebuah Ruangan besar nan megah, yang bernama Pendopo Agung sebagai tempat untuk berkumpulnya para pembesar Kerajaan yang biasanya dipimpin oleh Raja dan Ratu untuk membahas suatu masalah, baik masalah didalam lingkup Istana maupun diluar lingkup Istana agar mendapatkan kata mufakat yang bisa diterapkan.


Ratu Dewi Kanawa duduk disebuah singgasananya yang mewah didampingi para dayang-dayang kepercayaan serta beberapa Prajurit pilihan dan juga Satu Menteri


Pemberi komando pada saat Rapat dimulai


Disamping kanan dan kiri duduk para Keluarga Kerajaan, Kemudian dibawahnya disamping kanan duduk Mahapatih Purwa Trenggana dan samping kiri sejajar dengan Sang Mahapatih duduk penasehat Dang Acarya Dewa Sri Sujana.


Disusul para pembesar lainnya karena bentuk singgasananya berundak, semakin kebawah semakin kecil jabatannya, kemudian kursi para tamu.


Namun kali ini Ratu Dewi Kanawa mengajak Ratu Dewi Palmasari duduk disampingnya dengan menggunakan kursi singgasana cadangan itu karena Ratu Dewi Kanawa ingin menghargai Ratu Palmasari bukan sebagai tamu tapi sebagai saudara dan itu mendapat persetujuan dari pembesar Kerajaan lainnya,


Ratu Dewi Kanawa ingin mengajak juga Keduabelas Putri tapi mereka menolak, mereka sudah sangat bahagia Ibundanya diperlakukan istimewa.


Terdengar suasana sangat hening ketika menteri komando mengumumkan rapat akan dimulai.


" Terimakasih untuk yang sudah hadir Dipendopo Agung, kali ini kita kedatangan para tamu dari jauh yaitu dari Kerajaan Batu Angin, mereka adalah Gusti Ratu Dewi Palmasari dan Keduabelas Putrinya," Menteri komando membuka acara suaranya sengaja menggunakan tenaga dalam agar semua dapat mendengar dengan jelas.


" Terimalah Sembah sujud Bhakti kami kepada gusti kami Gusti Ratu Dewi Kanawa semoga Gusti Ratu panjang umur dan sejahtera,. begitu juga dengan Gusti RatuDewi Palmasari dan Keduabelas Putrinya, semoga Gusti Ratu Dewi Palmasari dan Putrinya senantiasa mendapatkan perlindungan dari para Dewa-Dewi Disurga," Kata Menteri komando sambil mencakupkan kedua tangannya diulu hati dan badannya menunduk, tindakan Menteri komando diikuti oleh pembesar Kerajaan yang lain.


" Gusti Ratu Dewi Palmasari, jika ada yang perlu disampaikan mohon disampaikan kami siap mendengar," kembali menteri komando membuka pembicaraan.


Mendengar ucapan dari Sang Menteri, Dewi Palmasari mengangguk, kemudian memandang kearah Ratu Kanawa, Ratu Kanawa yang kebetulan menoleh kearah Ratu Palmasari tersenyum dan mengangguk, Ratu Palmasari yang mendapatkan isyarat itu kemudian mengalihkan pandangannya kepada Keduabelas Putrinya yang duduk di kursi kebesaran para tamu.


Para Putri yang mendapatkan pandangan dari Ibundanya kemudian tersenyum dan mengangguk.


" Yunda Ratu Dewi Kanawa, aku ingin mengatakan jika hal ini akan disampaikan oleh Putriku," Ucap Sang Ratu Dewi Palmasari kepada Sang Ratu Dewi Kanawa.


" Kalau begitu silahkan kami siap mendengarkan," balas Sang Ratu Dewi Kanawa dengan singkat


Setelah mendengar Titah dari Ratu Dewi Kanawa, Dewi Ambarwati selaku yang tertua melangkah kearah tengah-tengah aula, semua mata kembali memandang kearah Dewi Ambarwati, rasa kagum akan kecantikan sang Dewi kembali terbersit dihati mereka semua dan juga kagum dengan kewibawaan yang ditampilkan semua hadirin tidak ada yang bergeming.


Dewi Ambarwati menghaturkan sujud sembah kepada Sang Ratu Dewi Kanawa dan Beliau pun membalas dengan senyuman, kemudian selanjutnya Ibundanya sendiri, lalu bergantian kepada semua yang hadir secara berurutan sesuai jabatannya.


Setelah selesai melakukan sembah sujud Dewi Ambarwati kemudian membuka pembicaraan.


" Ampun Beribu Ampun Gusti Ratu yang Agung, Hamba, Ibunda Hamba serta saudari-saudari Hamba datang kesini ingin menyampaikan sesuatu mohon Gusti Ratu dan hadirin semua Sudi kiranya mendengarkan," Kata Dewi Ambarwati yang penuh dengan kesopanan.


" Putriku Dewi Ambarwati, jika kau ingin menyampaikan sesuatu silahkan," Dewi Kanawa memberikan perintah kepada Dewi Ambarwati yang memang sudah dianggap sebagai anaknya, agar segera menyampaikan uneg-unegnya.


" Sebelumnya saya meminta maaf kepada seluruh Rakyat Negeri Kahyangan Sloka dan semoga mereka semua Sudi kiranya memaafkan kami semua, disini saya sebagai Putri pertama mewakili keluargaku untuk menyampaikan sesuatu hal yang berhubungan dengan kekacauan yang diakibatkan oleh Iblis terkutuk Sangkala Sura," Dewi Ambarwati diam sejenak menghembuskan nafas beberapa kali sebelum melanjutkan berbicara.


" Mungkin Gusti Ratu dan para Paman pembesar Kerajaan bahkan seluruh Rakyat Negeri Kahyangan Sloka mengetahui apa penyebab dari kehancuran ini," Kembali Dewi Ambarwati sebelum melanjutkan pembicaraannya menghela nafas sejenak.


Semua yang hadir merasa tercengang mendengar penuturan Dewi Ambarwati yang terakhir termasuk Gusti Ratu Dewi Kanawa.


" Anakku Dewi Ambarwati apakah seburuk itu, kenapa kita dihadapkan dengan situasi yang rumit seperti ini," Dewi Ambarwati mengangguk setelah ditanya oleh Ratu Dewi Kanawa.


"Oh Jagad Dewa Bhatara mohon petunjukmu, agar kami semua terhindar dari malapetaka ini," Mendengar Ucapan Ratu Dewi Kanawa semua nampak sedih.


" Ambarwati Anakku kalau ada yang mau disampaikan lagi, katakanlah kami siap mendengarkan," Pinta Ratu Dewi Kanawa.


Mendengar perintah Ratu Dewi Kanawa, Dewi Ambarwati mengangguk dan melanjutkan ceritanya.


" Disini, kami sebagai Keduabelas Putri yang menjadi biang dari kehancuran ini, akan dengan ikhlas menyerahkan diri kepada Sangkala Sura, agar kita terbebas dari teror yang menekan kita," Kata Dewi Ambarwati memandang kesekeliling sambil meneteskan air matanya.


" Gusti Ratu biarkan Hamba mengutarakan pendapat Hamba," Prabu Dewa Sri Binasaka menyela semua yang hadir memandang kearahnya.


" Kanda Prabu Dewa Sri Binasaka, kami siap mendengarkan," Kata Gusti Ratu Dewi Kanawa.


" Terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada Hamba Gusti Ratu, menurutku ini tidak adil, Bagi Keluarga Kerajaan Batu Angin Kanda Gandara Daksa dan seluruh Rakyatnya, mari kita sama-sama berjuang demi kejayaan negeri Kahyangan Sloka," Ujar Prabu Dewa Sri Binasaka dengan wajah yang berapi-api.


" Gusti Ratu ijinkan Hamba bicara," Sela Gusti Prabu Dewa Sri Purwa Dharma.


" Kanda Prabu silahkan," Sahut Ratu Dewi Kanawa.


" Terimakasih Gusti Ratu atas kesempatan yang diberikan, Hamba Sangat prihatin dengan kondisi kita sekarang ini, jika kita memikirkan hal yang akan datang maka kita akan jelas-jelas terpuruk, menurutku pikirkan hal yang terjadi sekarang, apapun harus kita lakukan, itulah pendapatku Gusti Ratu tapi Hamba tidak memaksa untuk disetujui," Ucap Sang Prabu Dewa Sri Purwa Dharma.


" Apa maksud kau berkata seperti itu kanda Prabu?," Tanya Sang Prabu Dewa Sri Binasaka yang memang lebih muda dari Prabu Dewa Sri Purwa Dharma


" Aku tidak memiliki maksud apapun Dinda prabu, hanya saja sekarang ini adalah sebuah kenyataan yang harus kita jalani bukan sebuah gambaran," Jawab Prabu Dewa Sri Purwa Dharma tegas.


" Itu artinya Keduabelas Putri harus menyerahkan diri untuk dipersunting oleh Sangkala Sura," Tebak Sang Prabu Dewa Sri Binasaka.


" Itu artinya kau tidak mempercayai ramalan itu," Sang Prabu Dewa Sri Binasaka kembali menebak maksud dari Sang Prabu Dewa Sri Purwa Dharma.


" Maafkan aku jika tidak sependapat dengan kalian semua," Sahut Sang Prabu Dewa Sri Purwa Dharma.


Setelah mendengar pengakuan dari Sang Prabu Dewa Sri Purwa Dharma ruang Pendopo Agung menjadi riuh ada yang setuju dan ada yang tidak setuju.


Ratu Dewi Palmasari dan Keduabelas Putrinya langsung berdiri dan berjalan menuju ketempat Dewi Ambarwati yang berada ditengah-tengah aula.


********Bersambung......


Ternyata bikin satu chapter panjang tidaklah mudah, harus banyak curi-curi waktu luang, apalagi melihat dukungan makin berkurang**.