
Malam berlalu berganti pagi, Bajraloka sudah bangun, hari ini dia mau kepasar menjual daging Rusa yang tersisa, uang hasil penjualan daging Rusa rencananya dipakai untuk membeli obat buat Bapaknya yang sakit.
Ki Wongso Sekarang memang sakit-sakitan, terkadang sehat terkadang sakit, Nyi Ending sudah berkali-kali memberi obat namun hasilnya hanya sementara.
" Ngger, apakah kamu yakin kepasar sendiri?," Nyi Kerti khawatir karena melihat umur anaknya masih kecil.
" Ibu jangan khawatir, Bajra bisa jaga diri apalagi ditemani Gading sama cutcit," Bajraloka bersiap untuk pergi kepasar, karena semua persiapan sudah disiapkan ibunya.
" Uhukkk, uhukkk, uhukkk," Suara batuk Ki Wongso pertanda dia sudah bangun
" Ngger, jangan membikin masalah dipasar," Ki Wongso keluar dari kamarnya.
" Baik Pak, Bu, Bajra pamit," Sebelum melangkah pergi Bajraloka menciumi kedua tangan orangtuanya.
" Hati-hati ," kata Nyi Kerti, pandangannya terus mengikuti sosok anaknya, yang berjalan semakin jauh.
Gading dan cutcit berjalan paling depan, mereka sangat gembira.
Selama perjalanan kepasar, Bajraloka menjadi perhatian para warga, mereka tidak tahu bahwa itu adalah Bajraloka karena selama ini mereka tidak pernah melihat bagaimana Bajraloka tumbuh menjadi seorang pemuda tampan meski baru berumur sepuluh tahun.
Para gadis didesa itu mulai kasak-kusuk, tapi tidak ada yang berani mendekati karena malu.
" Rinti, sini, siapakah pemuda itu dia begitu tampan, dan kuat. Lihatlah bawaannya begitu banyak tapi dia tidak merasa berat," Kata seorang gadis kepada temannya.
" Kau benar Sati, dia seperti seorang Dewa, aku belum pernah melihatnya," Sahut gadis yang bernama Rinti.
" Kalau aku mau menjadi istrinya, belum pernah aku melihat pemuda setampan itu," Kata gadis yang bernama Sati.
" Kau jangan bermimpi Sati, nanti Kang Sulim marah kalian kan sudah dijodohkan," Rinti mengingatkan Sati agar Sati tidak berharap dan kesempatan mendekati pemuda itu lebih banyak tanpa halangan.
Kasak-kusuk para warga terutama para gadis pun didengar oleh Bajraloka, namun Bajraloka hanya menanggapi dengan senyuman.
" Hai kalian semua, masak kalian siapa dia?," tiba-tiba salah satu warga nyeletuk diantara para warga yang berada dalam rombongan pergi kepasar.
" Memangnya kamu tahu siapa dia?," tanya warga yang lainnya.
" Kalau melihat dari piaraannya dan kalung Bajra yang dikenakannya sepertinya dia itu Bajraloka tapi kok bisa sebesar itu, padahal menurut perhitunganku dia baru sepuluh tahun,"
" Bajraloka...? apa???? Serempak mereka semua terkejut tidak percaya.
"Bajraloka," Serempak mereka memanggil dan Bajraloka yang dipanggil pun menoleh, akhirnya mereka benar-benar percaya bahwa pemuda yang dikira asing itu Bajraloka.
Salah seorang warga berlari mendekati Bajraloka.
" Paman, terimakasih atas pujiannya," Bajraloka menjawab dengan singkat kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.
Perjalanan kepasar dengan berjalan kaki bisa ditempuh setengah hari, karena pasar terletak Didesa Semanggi harus melewati satu Desa lagi yaitu Desa Bambu hitam, setiap Desa berbatasan dengan Hutan kecil.
Bajraloka sampai dipasar ketika Matahari belum sampai diatas kepala, dia memang lebih cepat daripada rombongan yang lainnya karena Bajraloka terus berlari tanpa henti, warga yang lain mencoba mengikuti berlari tapi belum sampai sekilo jarak yang ditempuh sudah tidak kuat.
Dipasar Semanggi aktivitas pasar sedang ramai-ramainya, Bajraloka langsung membuka lapaknya paling pinggir, karena lapak ditengah pasar sudah pada penuh, Bajraloka menawarkan dagangannya kepada para pengunjung pasar.
Melihat Bajraloka yang tampan menggelar dagangan para pengunjung pasar menjadi tertarik terutama para gadis-gadis, mereka langsung mendekati dan berbelanja, tidak membutuhkan waktu yang lama dagangan Bajraloka habis terjual.
Para pedagang pasar lainnya langsung timbul rasa tidak suka akan kehadiran Bajraloka.
" Pemuda itu benar-benar kurang ajar dia telah mengambil rejeki kita,"
" Ya benar, kita dari subuh disini, dagangan kita cuma ada beberapa yang laku, lha dia baru saja datang dagangannya malah sudah habis,"
" Apa mungkin dia itu gagah dan tampan, lihatlah yang belanja kebanyakan para gadis-gadis,"
Begitulah kasak-kusuk antara pedagang satu dengan pedagang lainnya, mereka benar-benar iri melihat keberuntungan Bajraloka hari ini.
Bajraloka setelah dagangannya habis terjual langsung menuju kepedagang obat-obatan, Banyak para gadis-gadis memandang Bajraloka dengan tatapan gairah sehingga Bajraloka sedikit merasa risih.
Tampak dari jauh ada seorang gadis cantik dipayungi oleh seorang dayang dan dibelakangnya ada dua pengawal berbadan tinggi tegap, kelihatannya dia berasal dari keluarga terpandang, pakaiannya pun bagus dan mahal terbuat dari beludru.
Gadis cantik itu dengan angkuh berjalan ketengah-tengah pasar, orang
" Gusti Putri Maitri, silakan mampir diwarung kami," kata salah satu pedagang yang menawarkan dagangannya kepada gadis cantik itu.
Putri Maitri adalah seorang anak kepala Desa Semanggi juga merupakan orang terkaya Didesa tersebut bahkan warga desa Kunir dan Desa bambu hitam tidak ada yang menyamai kekayaan kepala Desa Semanggi.
Putri Maitri yang ditawarkan tidak menoleh dia terus berjalan, namun ketika pandangannya jatuh kepada Bajraloka putri Maitri mengulas senyum.
" Pemuda yang sangat tampan dan gagah, melihatnya hatiku menjadi bahagia dan juga kenapa jantungku bisa berdetak seperti ini," Putri Maitri berkata didalam hatinya.
" Gusti Putri kenapa berhenti, adakah Gusti sudah menemukan yang dicari," Tanya dayangnya putri Maitri.
" Bibi dayang, aku ingin kesana," Putri Maitri menunjuk kearah dimana Bajraloka berada.
.melihat Bajraloka dayang itupun terpesona.
******Bersambung......