
Lima Tahun telah berlalu kini Bajraloka sudah berumur Sepuluh Tahun, Perawakannya sudah seperti seorang pemuda berumur limabelas Tahun, berkat latihan keras yang dilakukan dihutan bersama Nyi Ending.
Tubuhnya tinggi kekar, padat berisi dengan otot-otot yang menonjol, dengan dada bidang, kulitnya putih bersih dengan hidung mancung, bibir tipis dengan sorot mata yang tajam, rambutnya hitam sebatas leher membuatnya lebih berkharisma, siapapun yang memandang pasti terpesona.
Penduduk Desa Kunir tidak ada yang mengetahui perubahan Bajraloka karena sehari-hari Bajraloka hanya dihutan berlatih kekuatan fisik atas arahan Nyi Ending.
Nyi Ending tersenyum melihat kegigihan Bajraloka.
" Anak ini, begitu menakjubkan, kalau dia menjadi pendekar aku yakin suatu saat akan banyak para gadis yang mengejar-ngejarnya.
" Bajra, sudah cukup latihannya jangan diulangi lagi," Nyi Ending dengan suara tuanya berteriak memanggil Bajraloka.
Bajraloka menghentikan latihannya, dia meletakkan sebuah batu besar sebesar seekor kambing yang dipanggulnya.
Bajraloka hari itu memanggul sebuah batu sambil memanjat tebing, Sudah lima bulan terakhir ini dia melakukan latihan ini, kegagalan demi kegagalan tidak membuatnya putus asa dan hari ini dia mampu menyelesaikannya dengan sempurna.
" Baik Nek," Selesai meletakkan batu Bajraloka langsung berlari kearah Nyi Ending yang duduk disebuah pondok tanpa dinding dengan sangat cepat, pondok itu sengaja dibuat oleh Nyi Ending untuk menemani latihan Bajraloka.
" Bajra, latihan fisikmu sudah selesai, Nenek akui dengan umurmu yang masih bocah sudah bisa menyelesaikan latihan seberat orang dewasa, bahkan orang dewasa pun jarang bisa menyelesaikan latihan ini, Nenek akui bakatmu luar biasa, kau mungkin sudah lapar makanlah daging panggang ayam hutan ini," Nyi Ending memuji Bajraloka sambil menyodorkan satu ekor panggang ayam hutan.
Bajraloka yang mendapat pujian seperti itu hanya tersenyum tipis namun senang karena selama latihan Nyi Ending hanya tersenyum tipis tanpa memberikan komentar.
" Nek, apa benar yang Nenek katakan tadi,"
" Kau ini, sudah tidak percaya lagi sama Nenek,"
" Bukan begitu Nek,"
" Kalau begitu jangan tanya lagi,"
Bajraloka hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dia tahu perangai Nyi Ending yang berbicara pedas tapi baik.
Bajraloka kemudian memakan panggang ayam ditangannya.
" Nek, sekarang Bajra sudah menyelesaikan latihan fisik, sesuai janji Nenek, Nenek mau membuka rahasia Nenek, yang selama ini Nenek simpan,"
" Anak ini," Nyi Ending sebenarnya merasa keberatan membuka rahasia dirinya, namun karena sebuah janji, maka dia harus menepatinya meskipun janji itu dikatakan hanya untuk memberi semangat kepada Bajraloka, namun ternyata Bajraloka memintanya.
" Baiklah nak," kemudian menarik nafas untuk memulai bercerita.
" Dulu ketika masih gadis, Nenek adalah termasuk pendekar wanita yang disegani, dan Nenek dikenal dengan pendekar sirih sakti, Nenek memang bukan penduduk Desa Kunir yang asli, Nenek berasal dari Desa yang jauh, yaitu Desa Bukit Randu dari Kerajaan Gelagah. Karena Nenek selalu membenci kejahatan Nenek menjadi buronan salah satu Punggawa Kerajaan yang jahat, Dia adalah Senopati Garangjati, Nenek mengetahui rahasia kejahatannya, dia takut jika Nenek membongkar kejahatannya kepada Sang Prabu maka Nenek difitnah bersama kekasih Nenek yang bernama Ki Rengkyang.
Dalam pengejaran itu akhirnya Ki Rengkyang tewas, mereka terus melakukan pengejaran sampai ditengah perjalanan Nenek bertemu dengan seorang pemuda dia bernama Ki lengkor.
Setelah bertahun-tahun anak gadis Nenek menikah dengan pemuda dari Desa Kali asam kemudian setelah Dua Tahun Ki lengkor meninggal akibat racun kelabang hitam.
Akhirnya Nenek menjadi sebatang kara sekarang.
Nyi Ending menarik nafas dalam-dalam mengakhiri cerita tentang masa lalunya kepada Bajraloka.
Suasana menjadi hening sejenak Nyi Ending kembali larut kedalam kisah masa lalunya, Bajraloka tidak berani mengganggu, dia membiarkan Nyi Ending mengenang masa lalunya meskipun sedih.
Setelah dirasa Nyi Ending sudah selesai dengan perjalanan mengenang masa lalunya, barulah Bajraloka memberanikan diri untuk bertanya.
" Nek, apakah Nenek tidak menaruh dendam kepada Senopati Garangjati?,"
Diberi pertanyaan seperti itu Nyi Ending menoleh kearah Bajraloka dengan rasa yang terkesiap, dia tidak menyangka bocah sepuluh tahun memiliki pertanyaan orang dewasa.
" Dulu ia, tapi sekarang Nenek hanya bisa pasrah menyerahkan semuanya kepada Sanghyang Bhatara,"
" Nek, bisakah Bajra yang membalaskan dendam Nenek,"
Nyi Ending terkejut mendengar pernyataan Bajraloka yang sangat tidak disangka.
" Dasar bocah bodoh, siapa yang menyuruh untuk membalaskan dendam, Kalau kau berlatih hanya untuk membalas dendam mulai sekarang Nenek tidak akan mengajarimu berlatih," Nyi Ending meloncat tiba-tiba dia sudah berada di sebuah dahan kayu yang dekat dengan pondok.
Bajraloka merasa bersalah dengan perkataannya tadi, dia pun menyusul Nyi Ending tapi dengan berjalan kaki.
" Nyi, maafkan Bajra,"
" Bajraloka, Nenek tidak ingin kamu dikuasai oleh dendam dan amarah, kamu harus bisa mengendalikan diri," Nyi Ending kemudian meloncat turun.
" Sekarang ayo kita pulang,"
Nyi Ending dan Bajraloka kemudian meninggalkan Hutan tersebut, dalam perjalanan Bajraloka membidikkan panahnya kearah seekor Rusa kecil, dengan kemahiran Bajraloka memanah yang semakin meningkat, Rusa itu tidak dapat menyelamatkan diri dan anak panah tepat mengenai leher bawahnya dan tumbang.
Cutcit yang tidak besar-besar dan Gading hampir sebesar kambing sangat gembira membayangkan makan malam yang enak.
Bajraloka memikul Rusa dengan sangat enteng seakan tidak membawa beban.
Sampai dirumah Nyi Kerti memasak gulai daging Rusa setelah matang mereka termasuk Nyi Ending menikmati daging Rusa bersama-sama.
******Bersambung......