
Sangkala Sura tiba-tiba muncul diatas sebuah bangunan rumah yang paling tinggi, yang ternyata pemilik dari rumah tersebut adalah rumah Adipati.
Kehadiran Sangkala Sura segera diketahui, karena hari itu banyak yang menggunakan jalur udara untuk melakukan aktivitasnya masing-masing.
Mereka mengetahui dari aura yang dimiliki oleh Sangkala Sura.
Para Dewa-dewi yang melihat langsung berseru.
" Lihat disana, itu Sangkala Sura Dia pasti ingin membuat kekacauan, ayo kita usir Dia agar tidak membuat kekacauan di Kota Kasada ini," Salah satu Dewa yang berseru dengan menggunakan tenaga dalam hingga banyak para Dewa-Dewi yang ada diudara maupun didarat menoleh kearah yang ditunjukkan oleh Dewa tersebut.
" Ya benar,"
" Ya itu Dia Sangkala Sura,"
" Ya itu Dia,"
" Ya, ya,"
Seru para Dewa-Dewi ramai saling membenarkan.
" Ayo kita serang dia bersama-sama,"
" Ya, ayo,"
" Ya , jumlah kita banyak kita pasti bisa menang,"
Seruan dari para Dewa-Dewi memberikan semangat semuanya menghunuskan senjata andalan mereka bersiap untuk menyerang.
" Kalian jangan takut, aku hanya ingin bertanya pada kalian semua, jika kalian ingin selamat maka jawablah pertanyaanku dengan jujur,".
Tiba-tiba terdengar suara menggema, para Dewa-Dewi saling toleh-menoleh mencari sumber suara tersebut.
" Beritahu aku, Siapa diantara kalian yang mengetahui dimana Permata yang berwarna putih, yang didalamnya terdapat Pangeran Jayarudra, dan apakah kalian pernah melihat Duabelas Bidadari dan dimana mereka,".
Kini para Dewa-Dewi mengetahui asal suara tersebut yang ternyata berasal dari Sangkala Sura.
Namun tidak ada yang menjawab pertanyaan dari Sangkala Sura.
" Hai kau Sangkala Sura, aku peringatkan kau jangan pernah berani kau membuat kekacauan disini, apa yang kau tanyakan kami tidak tahu, jadi pergilah sebelum kami semua menggunakan kekerasan," Kata Dewa tersebut Dia terbang dengan menunggangi kuda bersayap berwarna putih.
" Gusti Adipati, kita harus usir Dia segera," kata salah satu Dewa yang kemudian disambut serentak oleh Dewa-Dewi lainnya.
" Seraaaaaaannnggg," bunyi komando dari salah satu Dewa yang menggunakan seekor Burung Rajawali Kahyangan tanpa menunggu perintah dari Sang Adipati.
Semua serentak menyerang dengan senjata mereka masing-masing.
" Dasar bodoh, kalian mencari mati seperti yang lainnya," Gumam Sangkala Sura.
" Kau tidak usah mengeluarkan banyak tenaga melawan mereka Iblis tolol, gunakan Asap penghisap raga sekarang juga," Bala Kroda kemudian menjelaskan cara-caranya dari Alam pikiran Sangkala Sura.
Sangkala Sura yang sangat jengkel dibilang tolol namun tetap mengikuti arahan dari Dewa Iblis.
Dari mulut Sangkala Sura keluarlah Asap hitam yang mula-mula kecil semakin membesar, Asap itu berbentuk bulat dan membentuk sebuah lubang ditengah-tengahnya.
Asap itu terus berputar lebih cepat sedangkan Sangkala Sura berada dibelakang menyuplai Tenaga dalamnya secara teratur sesuai arahan Bala Kroda.
Meskipun ada Asap aneh didepan Sangkala Sura, para Dewa-Dewi tak berhenti menyerang, maju mendekati Sangkala Sura.
Namun naas bagi mereka yang mendekat, mereka langsung tersedot kedalam lubang Asap tersebut.
Sang Adipati yang melihat banyak Rakyatnya yang menjadi korban Asap itu langsung berseru lantang.
" Hahahaha, ayo mendekat ataupun tidak kalian sama saja akan menjadi korban, karena kekuatan Asap hitam ini akan menjadi lebih besar dan menjangkau seluruh Kota jika aku mengerahkan tenaga dalamku lebih banyak," Ucapan Sangkala Sura membuat semua para dewa jadi bergidik ngeri.
" Maka dari itu cepat katakan dimana Permata itu," Sangkala Sura kembali menegaskan permintaannya namun belum masih ada jawaban.
" Kau jangan cari alasan Sangkala Sura, kami tidak tahu apa yang kau maksud," Balas Sang Adipati agar Sangkala Sura percaya.
" Jangan berbohong, aku sempat merasakan kekuatan Permata itu diwilayah ini, baiklah kalian lebih memilih untuk mati rupanya," Ancam Sangkala Sura.
" Dewa Iblis Bala Kroda, terimakasih atas kekuatan ini aku sangat senang hahahaha," gumam Sangkala Sura, mendengar dirinya dipuji Bala Kroda tersenyum senang.
" Ini belum seberapa tolol, masih banyak kekuatanku yang lebih hebat dari ini," Sanjung Bala Kroda semakin bangga.
Sangkala Sura muak dengan kata-kata Bala Kroda yang membanggakan dirinya.
Asap hitam terlihat semakin bergerak maju dengan bentuk yang makin membesar.
Para Dewa-Dewi dan Sang Adipati mengernyitkan alisnya, mereka terlihat panik ternyata Sangkala Sura benar-benar melaksanakan ancamannya.
Sang Adipati kemudian memerintahkan kepada para Dewa-Dewi untuk menggabungkan beberapa kekuatan dan menyerang berbagai arah.
" Wahai Rakyatku mari kita gabungkan kekuatan kita menjadi beberapa kelompok, kemudian serang dari berbagai arah, hanya itu yang dapat kita lakukan," perintah sang Adipati yang kemudian langsung dilaksanakan.
Para Dewa-Dewi langsung menggabungkan kekuatan dan mulai menyerang dari berbagai arah, Sangkala Sura yang merasa dikepung tidak merasa gentar sedikitpun.
Tiba-tiba dari arah belakang datang sebuah gabungan kekuatan yang cukup besar, sebuah sinar memanjang seperti pelangi namun berwarna Biru Tua menyerang, Sangkala Sura menyadari hal itu kini berbalik dengan mengarahkan Asap hitam sebagai tameng, Sinar biru itu langsung masuk dan terhisap Asap hitam.
Belum selesai Sangkala Sura beradu kesaktian, datang lagi serangan berupa sinar merah dari samping kiri Sangkala Sura terkesiap dengan serangan beruntun itu kemudian membentuk sebuah perisai didalam tubuhnya maka terdengarlah suara benturan kekuatan.
" Jdaarrr,"
Sangkala Sura agak terdorong kebelakang beberapa langkah dan terlihat sedikit retakan pada perisainya, sedangkan formasi para Dewa-Dewi agak sedikit goyah namun segera diatasi.
Belum sempat Sangkala Sura memperbaiki berdirinya, dari samping kanan datang lagi sinar memanjang berwarna Hijau selebar sepuluh jari langsung menghantam pinggang Sangkala Sura, sekali lagi Sangkala Sura harus terpental membuat perisainya banyak yang retak.
" Sial, merepotkan bisa-bisa aku kalah disini," Gumam Sangkala Sura pelan.
Sangkala Sura mencoba berdiri tapi dari samping kiri Sinar berwarna merah menghantam tubuh Sangkala Sura, kembali tubuhnya terjengkang atap rumah yang dipijak menjadi hancur berkeping-keping sebagian terlempar mengenai bangunan lainnya.
Tubuh Sangkala Sura remuk dari bibir dan hidungnya mengeluarkan darah, Asap hitam yang diciptakan kini menghilang.
"Gusti Adipati sepertinya strategi kita berhasil," Seru salah satu Dewi.
" Ya itu benar, namun sepertinya tidak membuatnya mati, mari kita gabungkan kekuatan kita sebelum dia memulihkan kondisinya," Perintah Sang Adipati diakhir kalimat.
Semua para Dewa-Dewi yang berjumlah Ribuan menyatukan kekuatannya, maka terbentuklah sebuah panah es yang cukup besar, aura yang dikeluarkan menekan Sangkala Sura hingga Sangkala Sura sulit bergerak.
Panah es telah diluncurkan menuju kearah Sangkala Sura, Sangkala Sura yang melihat itu hanya bisa pasrah karena Dia sulit untuk bergerak dan........?
Panah itu tepat mengenai tempat dimana Sangkala Sura tergeletak.
" Jduaarr,"
Suara ledakan dari panah es itu sangat keras, Bangunan tempat ledakan itu hancur tak tersisa, dan para Dewa-Dewi yakin Sangkala Sura telah mati.
****** **Bersambung....
Author minta dukungan dari pembaca jangan lupa klik tanda jempol, beri komentar dan hadiah, pasti author lebih semangat untuk update**.