Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch.49 Tarian Rejang Bidadari



Bala Kroda sudah kehabisan akal, sementara Rombongan Kerajaan yang jumlahnya bejibun sudah mendekat.


" Aku harus melakukan sesuatu, Iblis bodoh ini benar-benar membuatku kecewa," Bala Kroda keluar dari Alam pikiran Sangkala Sura kemudian Dia merasuki tubuh Sangkala Sura.


Tubuh Sangkala Sura tiba-tiba bergerak kemudian bangkit berdiri.


" Ada untungnya juga Iblis bodoh ini sekarat, aku akan membuat perhitungan dengan mereka, tapi sebelum itu aku akan meregenerasi tubuh yang terluka terlebih dahulu," Bala Kroda yang berwujud Asap langsung menjelajahi tubuh Sangkala Sura, setelah selesai barulah Dia kembali merasuki tubuh Sangkala Sura.


" Lihatlah, ternyata Dia benar-benar sakti, bahkan Dia tidak mengalami luka sedikitpun akibat kekuatan kita," Mahapatih berseru terkejut tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


" Kita harus lebih waspada jangan ada yang mendekat," Ratu Dewi Kanawa memberi perintah.


Setelah semua menjauh Sangkala Sura yang sudah dirasuki Dewa Iblis Bala Kroda dengan kemarahannya melesat menerjang Rombongan Kerajaan.


Belum sempat Sangkala Sura memberikan serangan, terdengar suara kidung yang merdu diiringi dengan suara Gendang yang mampu membius halusinasi.


Kemudian sebelas penari menyeruak dari kerumunan, lemah gemulai gerakan mereka seirama suara kidung dan Gendang itulah Tarian Rejang Bidadari.


Tarian Rejang Bidadari adalah Tarian dengan jumlah Penari lebih dari satu bahkan bisa mencapai Ratusan dengan gerakan yang serempak, Tarian ini ditakuti oleh para Iblis atau setan karena Tarian ini bisa mengundang para Dewa-Dewi Disurga untuk menyaksikannya.


Tarian Rejang Bidadari bisa melambat lemah gemulai bahkan bisa dipercepat seperti orang kesurupan sesuai dengan irama musik Gendang dan kidung.


Dewi Sulasih melantunkan kidung sambil memainkan Gendang Getar Sukma anugerah dari Dewa Narayan.


Semua terpana dengan aksi Tarian Keduabelas Bidadari tersebut namun tidak terpengaruh karena hanya ditujukan pada Iblis Sangkala Sura, Sangkala Sura membatalkan serangannya, pandangannya ikut tertuju pada Keduabelas Bidadari.


Sangkala Sura dan Bala Kroda yang sama-sama cabul merasa beruntung, Hatinya riang gembira melihat Tarian itu, Dia yang memang menyukai Keduabelas Bidadari itu matanya tak bisa berkedip, pikirannya mulai terisi dengan hayalan asmara bersama Keduabelas Bidadari.


Kidung Dewi Sulasih yang merdu semakin menghanyutkan ilusi dari Sangkala Sura.


Dewi Sulasih mempercepat tempo irama Gendang begitu juga dengan lantunan Kidung nya.


Sangkala Sura tersentak kaget karena irama Gendang dan kidung yang didengar tidak lagi seindah semula, suara yang didengar sumbang kadang menggelegar seperti suara petir kadang lembut seperti suara ular mendesis tidak beraturan gerakan Tarian dari Keduabelas Bidadari pun dilihatnya sangat aneh, Sangkala Sura menjadi sangat marah dia berteriak kencang, kepalanya terasa sakit, telinganya pun semakin panas.


" Hentikan, hentikan," Teriakan-teriakan kencang Sangkala Sura yang masih dirasuki Iblis Bala Kroda tidak menghentikan irama Gendang dan kidung serta Tarian.


Saking tidak tahannya hidung dan telinga Sangkala Sura mengeluarkan darah, Bala Kroda yang tetap ingin bertahan ditubuh Sangkala Sura akhirnya menyerah, Dia keluar dari tubuh tersebut dan ilusi pun menghilang namun bukannya senang malah semakin tersiksa, Sangkala Sura pun pingsan.


Para Dewa-Dewi yang yang sejak tadi menyaksikan dibuat terkejut dengan Asap hitam yang keluar dari tubuh Sangkala Sura, ternyata mereka tidak mengetahui siapa yang berwujud sebagai Asap hitam.


" Aaarrrrggghhhh, hentikan irama itu bodoh," Bala Kroda ingin pergi tapi sepertinya kidung dari Dewi Sulasih memiliki kekuatan untuk menahannya agar Bala Kroda mendapat siksaan yang lebih lama.


Bala Kroda terus meliuk-liuk menahan sakit yang dideritanya dia sudah tidak sanggup,


Bala Kroda mengamuk ingin melampiaskan rasa sakitnya terhadap siapapun.


Energi-energi kekuatan Bala Kroda pun keluar dan menghantam apa saja namun tidak adanya korban jiwa hanya benda-benda mati yang menjadi sasarannya.


" Aku sudah tidak tahan lagi, akan kuhancurkan semuanya aku tidak perduli dengan hukuman yang kuterima," Bala Kroda terus meracau meskipun harus menahan siksaan.


Setelah selesai melakukan ritualnya dari atas Sebuah piringan energi muncul dan berputar-putar, setelah dirasa sudah siap energi yang kuat itu langsung meluncur turun dan membumi hanguskan Kota Kasada Dwipa.


Merasa akan adanya bahaya yang mengancam Ratu Dewi Kanawa memerintahkan Seluruh para Dewa-Dewi tanpa terkecuali membuat perisai energi.


Kota Kasada yang semula ramai, bangunan rumah-rumah kini harus rata dengan tanah, bahkan banyak korban jiwa yang tidak terselamatkan nyawanya karena rendahnya tingkat perisai yang dibuat.


Akhirnya irama musik itu dapat dihentikan, Dewi Sulasih dan kakak-kakaknya menderita luka didadanya masing-masing.


Sangkala Sura yang diselamatkan Bala Kroda kini sadar dari pingsannya sedangkan Bala Kroda kembali Kealam pikiran Sangkala Sura dengan wujud yang lemah akibat pemaksaan mengeluarkan kekuatan energi yang besar.


Sangkala Sura muncul setelah melihat Permata Airmata keluar dari balik pakaian Ratu Dewi Kanawa dan jatuh meluncur ke bawah.


Sangkala Sura mengejar jatuhnya Permata Airmata itu, Dewi Kanawa yang yang melihat Sangkala Sura mengejar langsung menggunakan Ajian lengkung Sukma anugerah dari Maharsi Walamakya.


Sangkala Sura tiba-tiba kehilangan jejak, Dia akhirnya kembali ketempat semula dimana Dia masih melihat Keduabelas Bidadari kesayangannya masih disana.


Dengan tersenyum licik Sangkala Sura datang mendekat.


Dewi Sulasih dan kakak-kakaknya masih melakukan regenerasi karena terluka akibat benturan kekuatan energi, sangat panik, mereka tidak mau Sangkala Sura dengan mudah membawa mereka pergi.


" Sangkala Sura berhenti kau," Ratu Dewi Palmasari secara tiba-tiba muncul menghadang Sangkala Sura.


" Hah," Sangkala Sura berhenti setelah melihat Sang Ratu berada didepannya.


" Minggir kau, Aku bisa membunuhmu sekarang juga," Hardik Sangkala Sura.


" Aku tidak akan membiarkanmu membawa putri-putriku," Ratu Dewi Palmasari tanpa rasa gentar ikut menghardik Sangkala Sura.


" Baiklah kalau itu maumu, aku tidak akan memiliki rasa kasihan terhadapmu," Sangkala Sura memejamkan matanya sejenak, mulutnya komat-kamit setelah selesai membaca mantra Dia membuka matanya, tangan kanannya berubah warna kemerah-merahan, begitu juga Ratu Dewi Palmasari nampaknya sudah siap menghadapi Sangkala Sura.


Sangkala Sura melayangkan tinjunya kearah Ratu Dewi Palmasari dan....?


" Duaarrr," Suara benturan cukup keras terdengar.


Semua para Dewa-Dewi yang tersisa menoleh kearah suara benturan tersebut.


" Anakku Dewi Sulasih," Ratu Dewi Palmasari berteriak histeris memanggil Dewi Sulasih, begitu juga dengan saudara-saudaranya.


Dewi Sulasih yang sudah selesai meregenerasi kaget melihat Ibundanya melawan Sangkala Sura sendirian, Dia merasakan kekuatan yang digunakan Ibundanya tidak akan mampu melawan Sangkala Sura, maka tanpa berpikir Dewi Sulasih ingin menyelamatkan Ibundanya dari kematian.


" Dinda Dewi Sulasih," Secara serempak memanggil adiknya dan melesat untuk menangkap Dewi Sulasih, namun terlambat Dewi Sulasih terlempar jauh melewati daratan Kota Kasada dan meluncur kebawah.


Dewi Ambarwati dan adik-adiknya mengikuti arah jatuhnya Dewi Sulasih.


****** **Bersambung......


Maafkan author Readers, author merasa akhir-akhir ini updatenya tidak tentu, itu karena author sibuk, mohon dukungannya terus**.