Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch. 68 Kemarahan Bajraloka



Bajraloka berteriak seperti kehilangan kesadaran saat dia menyadari Ibu dan Bapaknya sudah tidak memiliki kehidupan lagi, rasa sedih, marah dan menyesal telah menjadi satu, dia berdiri dan menatap kegelapan langit kemudian berteriak dan menepuk-nepuk dadanya.


" Aaaaaaaarrrrrggghhh ,"


Bajraloka merasakan seluruh tubuhnya panas, urat-uratnya seperti membesar bunyi gemeretak dari tulang-tulangnya seperti mengalami perubahan, ditengah-tengah dahinya muncul sebuah sinar bening namun hanya sekejap kemudian sinar bening itu mengalir memasuki seluruh tubuh Bajraloka.


Rambutnya berkibar-kibar, matanya merah dibola matanya terdapat bintik putih sebesar pasir yang bersinar.


Bajraloka seperti Dewa Kematian turun ke bumi.


Para penduduk yang hanya menonton kejadian kebakaran rumah Ki Wongso merasa gentar menyaksikan perubahan Bajraloka.


Penduduk yang tadinya senang dengan apa yang menimpa Keluarga Ki Wongso kini merasa ketakutan.


Selama ini Ki Wongso dianggap pencemaran nama baik Desa kunir karena kemiskinannya meski semenjak Bajraloka tumbuh menjadi seorang pemuda taraf hidup keluarga Ki Wongso membaik namun tetap saja keluarga termiskin masih melekat. wis


Nyi Ending Dikeroyok oleh lima pendekar, meski sudah mengerahkan seluruh kemampuan Nyi Ending tetap tidak mampu mengimbangi serangan-serangan dari lima pendekar tersebut.


Mendengar teriakan dari Bajraloka Nyi Ending menoleh kearah suara, kesempatan itu digunakan oleh salah satu pendekar yang membawa senjata cerurit karena lengah Nyi Ending tidak bisa lagi mengelak lengan kirinya akhirnya terkena sabetan cerurit.


" Aaaakkkhhh ,"


Darah muncrat dari lengan Nyi Ending bersamaan dengan teriakannya, lengan Nyi Ending hampir terputus hanya menyisakan kulit dan sedikit daging.


" Nenek peot sehebat apapun dirimu jangan berharap bisa mengalahkan kami, hahahaha ," dengan bangga pendekar bersenjata cerurit itu mengecap darah yang menempel diceruritnya.


Nyi Ending meringis kesakitan matanya merah penuh kemarahan dan dendam memandang tajam kearah pendekar cerurit.


" Aaaakkkhhh ,"


Pendekar cerurit tiba-tiba menjerit memegangi lehernya rupanya dia terkena inangan beracun dari mulut Nyi Ending yang sudah diisi tenaga dalam oleh Nyi Ending.


Pendekar cerurit merasakan panas ditubuhnya dia menjerit- jerit sumpah serapah keluar dari mulutnya, panas ditubuhnya malah makin menjadi hingga dia tidak tahan dan tubuhnya tumbang ketanah menggelepar-gelepar seperti cacing kepanasan dan akhirnya meregang tak bernyawa.


" Bedebah berani sekali kau meracuni kawanku hingga mati maka kau harus menyusul," Kata pendekar yang menggunakan rantai besar yang ternyata adalah Rangke, pendekar bayaran lurah Semanggi.


" Hati-hati kakang dengan inangannya yang beracun, sebaiknya kita serang dia bersama-sama lagi supaya masalah ini cepat selesai," Kata pendekar wanita yang menggunakan senjata pedang yang terhunus yang tidak lain adalah Sulastri.


" Kau benar Sulastri mari kita habisi wanita tua ini," Seru pendekar lainnya yang menggunakan pedang pendek.


Nyi Ending masih merasakan sakit yang teramat sangat namun dia sangat kaget ketika dia melihat kearah Bajraloka yang mengalami perubahan.


" Heaaatt ,"


Belum sempat mengenai sasaran keempat para pendekar itu tiba-tiba merasakan aura yang menindas, mereka menghentikan penyerangan, udara terasa berat mereka mencoba untuk menekan aura tersebut namun tidak mampu dengan tubuh tidak bisa digerakkan mereka berdiri mematung dengan gaya kuda-kuda.


Sebuah bayangan berkelebat berdiri disamping Nyi Ending.


" Bajra,"


Nyi Ending menyebut nama Bajraloka dengan berat karena tertekan oleh aura dari Bajraloka. Bajraloka hanya tersenyum sambil menyentuh pundak Nyi Ending agar tidak merasakan tekanan aura yang dikeluarkannya, seketika Nyi Ending merasa lega karena terbebas tekanan aura yang menindas.


" Kalian harus membayar semua yang kalian lakukan hari ini ,"


Keempat para pendekar menjadi ciut nyalinya mereka tidak menyangka di Desa kunir yang dikenal tidak ada pendekar ternyata memiliki pendekar sakti bahkan masih sangat muda.


" Sulastri dia pemuda yang kita cari," Kata Rangke kepada Sulastri.


Pendekar yang membawa pedang pendek ikut menimpali.


" Sepulang dari sini kau Rangke dan Sulastri harus bertanggung jawab karena telah membohongi kami,".


" Jangan banyak bicara kita pikirkan bagaimana bisa lepas dari tekanan ini," Kata Sulastri yang sangat jengkel karena meributkan hal yang tidak perlu.


Mendengar kata-kata Sulastri tiga pendekar lainnya akhirnya diam.


" Katakan padaku siapa kalian, kenapa membunuh kedua orangtuaku dan membakar rumahku apa salah kami setahuku kami tidak pernah berurusan dengan dunia luar selain Desa kunir ini?," Bajraloka meninggikan nada suaranya dia ingin mengetahui alasan mereka, maka niat untuk langsung menghabisi keempat pendekar ditunda sebentar.


" Hai pendekar tampan dan sakti, kami memang ingin melenyapkanmu karena kau telah berani mendekati Gusti Putri Maitri,"


Sulastri tanpa Rembugan dengan yang lainnya langsung menjawab membuat Rangke mendelik kearah Sulastri.


" Lastri, kenapa kau membocorkannya?," Hardik Rangke yang menurutnya melanggar aturan sebagai pendekar bayaran.


" Kakang Rangke seberapapun baiknya kau mematuhi aturan toh hari ini kita tetap mati," Sulastri mendenguskan nafas.


Rangke hanya bisa diam tidak bisa berkata lagi.


" Jadi kalian utusan dari Lurah Semanggi yang bedebah itu, maka sebelum lurah itu menemui ajal maka terlebih dahulu kalianlah yang harus mati terlebih dahulu,".


Bajraloka memutar-mutar jari-jari tangan kanannya dan mengepalkannya, dia menarik aura yang dikeluarkannya.


********Bersambung*****


Mohon dukungannya setelah membaca jangan lupa tinggalkan like dan komentar**.