Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch. 34 Kemunculan Dewa Iblis Bala Kroda



Ledakan dahsyat adu kesaktian itu menciptakan asap tebal dan muncratan Air Sungai yang begitu besar bertubi-tubi, sehingga membutuhkan waktu yang lama menghilangnya asap tebal dan berhentinya muncratan air.


Namun beberapa menit kemudian barulah asap mulai menipis dan berhentinya muncratan air.


Dari jauh nampak terlihat dua sosok yang masih berada pada tempat semula, terlihat mereka seperti biasa-biasa saja, namun keanehan baru terjadi, Sangkala Sura yang masih berdiri dengan Trisulanya menusuk kedepan kaki kiri lurus kebelakang dan kaki kanan menekuk kedepan menyentuh dada, Dia tidak bergerak samasekali bahkan kini perlahan-lahan butiran-butiran es berada diujung Trisulanya yang patah makin lama makin banyak bahkan menjalar menutupi seluruh Trisula hingga gagangnya, es itu terus menjalar hingga menutupi seluruh tubuh Sangkala Sura.


Keadaan Maharsi Walamakya juga mengalami luka parah hanya Dia tidak dijalari es, namun lukanya tidak separah luka Sangkala Sura.


Maharsi memuntahkan darah, Kemudian Dia mulai melakukan penyembuhan dan regenerasi tubuh meski tidak sembuh secara total, setelah itu dia berdiri meski harus bersusah-payah.


Sangkala Sura masih membeku dengan diselimuti es yang makin lama makin tebal, Maharsi Walamakya menggerakkan jari telunjuknya kearah Sangkala Sura dan keluar sinar merah memanjang, namun sinar merah itu belum sampai mengenai Sangkala Sura tiba-tiba didepan Sangkala Sura muncul asap hitam pekat menghadang laju dari sinar merah Maharsi Walamakya.


Asap hitam itu membentuk seperti sosok mahluk menyeramkan namun samar-samar, sosok asap hitam itu mendorong sinar merah dari Sang Maharsi.


Sang Maharsi terpental kebelakang beberapa langkah, melihat hal itu sosok asap hitam itu masuk ke dalam tubuh Sangkala Sura.


Tiba-tiba suara retakan es yang menyelimuti tubuh Sangkala Sura terdengar.


" Krakk,"


" Krakk,"


" Krakk,"


Retakan ketiga kalinya menghancurkan seluruh lapisan es yang menyelimuti tubuh Sangkala Sura.


Kini Sangkala Sura dapat berdiri tegak, Dia menyeringai, kedua matanya menjadi hitam dengan sorot yang tajam mengerikan, rambutnya berkibar-kibar, seluruh tubuhnya dikelilingi asap hitam.


" Bala Kroda," seru Sang Maharsi


" Bala Kroda, rupanya Dia sudah kembali dari Tapanya, gawat, ini tidak bisa dibiarkan, aku harus pergi ke Indraloka untuk melaporkan bahwa Bala Kroda telah menyelesaikan Tapanya," Gumam Maharsi Walamakya.


" Rupanya kau mengetahui siapa aku Walamakya, kau boleh pergi ke Indraloka melaporkan tentang diriku, tapi kau harus tahu bahwa ini bukan wujudku yang asli sedangkan wujudku yang asli masih berada dipuncak Gunung Segoro Pitu, jadi para Dewa-Dewi di Surga tidak bisa berbuat apa-apa terhadap diriku, hahahaha," Sosok itu tertawa yang tak lain adalah bayangan dari Kekuatan Dewa Iblis Bala Kroda yang sedang bertapa untuk mendapatkan Kesaktian dari Bhatara Kala, Sudah hampir Sepuluh Ribu Tahun bertapa namun belum mendapatkan anugerah dari Bhatara Kala karena Bala Kroda selalu terpengaruh oleh godaan-godaan terutama dari para Bidadari.


Bala Kroda adalah salah satu dari Dewa Iblis yang identik dengan kemarahan.


" Sekarang pergilah, kau tidak akan mampu menghentikan kekacauan di Negeri Kahyangan Sloka ini, Hahahaha," Bala Kroda yang menguasai tubuh Sangkala Sura terus tertawa.


" Walamakya, tidak ada satupun yang bisa mencegahku, dengan tubuh yang istimewa ini mungkin aku agak lama bermain-main dan menyembuhkan tubuh yang tak berdaya ini, hahahaha," Bala Kroda terus tertawa.


Ternyata Bala Kroda telah mengalirkan tenaga dalam pada telunjuknya sehingga tempat Maharsi Walamakya tiba-tiba meledak,


beruntung Sang Maharsi menyadari dan langsung menghindar.


" Bala Kroda, aku memang bukan tandinganmu, tapi kau harus ingat bahwa kekuatan Dharmalah diatas segala- galaunya," Maharsi memberikan peringatan agar Bala Kroda tidak takabur.


Mendengar hal itu Bala Kroda agak ngeri jika mendengar kekuatan Dharma, pasalnya dengan kekuatan Dharma dia ditaklukkan oleh Seorang Dewi dari Surga.


" Walamakya pergilah, sebelum aku berubah pikiran," Dengan agak tersenyum dan lembut Bala Kroda menyuruh Maharsi Walamakya pergi.


Didalam hati Maharsi Walamakya bergumam


" Sebaiknya aku harus pergi ke Indraloka, hanya merekalah yang mampu mengusir Bala Kroda dari Kahyangan Sloka ini," selesai bergumam Sang Maharsi memandang kearah Sangkala Sura yang dirasuki oleh Bala Kroda.


" Baiklah Bala Kroda, jika memang itu yang kau inginkan aku akan pergi, tapi ingat jika kau membuat kekacauan maka kukutuk kau bahwa selamanya kau tidak akan pernah menyelesaikan Tapamu," setelah Maharsi Walamakya berucap suara gemuruh dan Petir menyambar beberapa kali pertanda kutukan itu direstui oleh Sanghyang Tunggal.


Maharsi Walamakya pergi dengan mengendarai Awan menuju ke Indraloka.


Setelah kepergian Maharsi Walamakya, Bala Kroda mengernyitkan kedua alisnya namun kemudian dia tersenyum.


" Hahahaha, ini hanya permainan takdir dan aku akan berusaha untuk terus mengubahnya," setelah berkata Bala Kroda melesat meninggalkan tempat itu.


Bala Kroda melintasi berbagai Pulau yang melayang dia bermaksud membantu Sangkala Sura mencari Permata Airmata dan menculik Keduabelas Putri untuk dipersunting.


Bala Kroda mengetahui semua keinginan Sangkala Sura karena Bala Kroda masuk kedalam ingatan Sangkala Sura.


Setelah lama mencari Bala Kroda belum menemukan satupun yang Dia cari, Dia mulai kesal dan marah.


" Kurang ajar dimana Permata Airmata itu kenapa aku tidak merasakan jejaknya begitupun Keduabelas Putri itu," Kesal Bala Kroda.


Bala Kroda berhenti sejenak dan melihat ke sekelilingnya, setelah mengarahkan pandangannya keberbagai arah Dia menemukan Sebuah Bangunan yang megah,


Diapun terbang kearah Bangunan yang megah tersebut.


****** Bersambung......