
Sangkala Sura benar-benar semakin marah sambil mendengus Dia berkata.
" Kau sadar apa yang kau katakan Pangeran bodoh, Duabelas Putri adalah milikku tidak boleh ada siapapun yang bisa mempersunting mereka, kau hanya jadi alat bagi Prabu Gandara Daksa agar dia bebas dari tekanan ku, aku heran Pangeran sepintar dirimu bisa diperdaya dengan mudah, sungguh sangat disayangkan," Sangkala Sura berkata-kata dengan tangan kiri berkacak pinggang tangan kanan menuding Pangeran Jayarudra.
Dikata-katai seperti itu Pangeran Jayarudra menggereng dengan pasrah karena dadanya sesak badannya sakit, Pangeran Jayarudra berusaha bangun untuk duduk meskipun agak susah tapi akhirnya dia mampu duduk bersila dan menggunakan kesempatan untuk pemulihan Tenaga dalamnya serta penyembuhan lukanya selagi Sangkala Sura fokus dengan keadaan Kerajaannya yang hancur.
(Sekedar informasi jika semua makhluk Kahyangan bisa beregenerasi dan penyembuhan luka dengan cepat tapi tergantung dari tingkat kesaktian yang dimilikinya, semakin sakti semakin cepat beregenerasi dan penyembuhan).
" Keparat kau Gandara Daksa karena kau, aku harus kehilangan istana dan istriku, aku bersumpah akan membuatmu membayar semua ini," Bathin Sangkala Sura sambil mengepalkan tangannya yang mengeluarkan asap pertanda kemarahannya harus disalurkan, kemudian dia berbalik dan memandang kearah Pangeran Jayarudra lalu menerjang dan mengarahkan pukulan tersebut kearah Pangeran Jayarudra.
Pangeran Jayarudra yang mengetahui serangan itu langsung menyambutnya dengan kepalan tangan kanan yang dialiri Ajian Waringin Sungsang tahap Sempurna karena Dia merasa pukulan tersebut merupakan Ajian yang hebat.
Kedua pukulan itu bertemu dan menimbulkan suara ledakan yang dahsyat, akibat dari benturan itu, kembali dunia bawah dibikin hancur Prajurit yang belum sempat melarikan diri harus bernasib naas.
Debu tebal berkepulan memenuhi tempat kedua petarung itu adu pukulan.
Keduanya baru terlihat ketika Debu tempat pertarungan tersebut perlahan-lahan menghilang, namun mereka masih berdiri tegak tampak keduanya saling memandang dengan sorot mata yang tajam, keadaan mereka terlihat biasa saja seperti tak ada efek dari benturan kekuatan tersebut.
Namun akhirnya terdengar suara batuk salah satu dari mereka.
" Uhukk,"
Suara batuk tersebut ternyata dari Sangkala Sura dan dari sudut Bibirnya mengeluarkan Darah.
Kemudian terdengar lagi suara batuk yang kedua.
" Uhukk,"
Dari pertarungan tersebut keduanya sama-sama terluka, namun kembali Sangkala Sura menyerang Pangeran Jayarudra dengan pukulan, namun dengan cepat Pangeran Jayarudra menangkis, setelah serangannya dapat ditangkis kembali Sangkala Sura menendang dengan sigap Pangeran Jayarudra menghindar kesamping.
Setelah Pangeran Jayarudra mampu menghindar Dia terbang menuju keatas awan dan diikuti oleh Sangkala Sura.
" Jayarudra, mau kemana kau kabur sebelum diantara kita harus mati jangan coba-coba melarikan diri," panggil Sangkala Sura tidak diindahkan oleh Pangeran Jayarudra.
Sangkala Sura terus mengejar sambil menembakkan bola-bola api kearah Pangeran Jayarudra.
Puluhan bola-bola menerjang kearah Pangeran Jayarudra, namun Pangeran Jayarudra bukanlah Pendekar Biasa, Dia dengan mudah menghindar sambil terbang ke awan.
"Sangkala Sura, jangan bangga dulu, aku bukannya lari, tapi aku tidak mau Dunia mu akan hancur lagi, dan lagipula kita lebih leluasa untuk bertarung jika bertarung di atas Awan," Pangeran Jayarudra menjawab pertanyaan Sangkala Sura.
Keduanya sampai di Awan, Pangeran Jayarudra kali ini menyerang duluan, dengan menggunakan sebuah Cambuk
Cambuk itu bernama Cambuk Halilintar karena Cambuk itu hadiah dari Dewa Halilintar kepada Pangeran Jayarudra.
Cambuk itu mengeluarkan suara petir yang menggelegar dan ujung Cambuk menyerang Sangkala Sura.
Selain mengeluarkan suara Halilintar Cambuk tersebut juga mengundang petir, maka Ribuan petir langsung mengarah ke Sangkala Sura.
******Bersambung....