
Prabu Palasraya terjungkal kedepan, Dia menabrak sebuah pohon besar bunyi krakk tiga kali dipunggungnya menandakan punggungnya patah.
" aaakkhh,"
" Kurang ajar, kalau begini terus aku bisa kalah, Ternyata Gandara Daksa tidak bisa dianggap main-main," Gerutu Prabu Palasraya sambil menancapkan pedangnya ketanah sebagai tumpuan untuk berdiri.
" Gandara Daksa jangan senang dulu, mari kita akhiri pertarungan ini kerahkan seluruh kesaktianmu," Prabu Palasraya semakin jengkel pabila melihat Prabu Gandara Daksa tersenyum tipis.
" Kanda Prabu Palasraya, aku akan ladeni apa maumu," Prabu Gandara Daksa memasang kuda-kuda, tangan kanannya berada didada sedangkan tangan kirinya lurus keatas, Beliau merapalkan mantra Ajian Tapak Lima, begitu juga dengan Prabu Palasraya Dia merapalkan mantra Ajian Bayu Segoro yang siap dilepaskan.
Ketika kedua Ajian tersebut hendak dilepaskan Angin dan hawa panas memenuhi area pertarungan itu.
Seluruh tubuh Prabu Gandara Daksa berubah menjadi merah sedangkan Prabu Palasraya tidak mengalami perubahan hanya seluruh pakaian dan rambutnya berkibar-kibar tertiup Angin.
" Gandara Daksa bersiaplah untuk menemui ajalmu," Prabu Palasraya merentangkan kedua tangannya kedepan seketika Gelombang Angin bak Lautan langsung keluar dari tangan Prabu Palasraya.
" wusshh,"
Suara lesatan dari Gelombang Angin menyita perhatian para pasukan yang sedang bertarung.
Begitu juga Prabu Gandara Daksa dari tangannya keluar sinar merah hendak membendung Gelombang Energi Angin dari Prabu Palasraya.
Kedua jenis kesaktian itu hampir bertemu namun seperti ada yang menghalangi dua kesaktian itu berhenti ketika jarak satu jari telunjuk, setelah beberapa detik energi dari dua kesaktian itu menghilang.
Prabu Palasraya dan Prabu Gandara Daksa terkejut karena luapan dari kesaktiannya menghilang, namun dia lebih terkejut lagi ketika mereka melihat siapa yang menghalangi.
" Maharsi Walamakya," Keduanya bersamaan menyebut nama Maharsi Walamakya.
" Terimalah Sembah Bhakti ku Sang Maharsi,"
Sama-sama Menghaturkan Sembah.
" Palasraya, Gandara Daksa, kalian harus menjalani hukuman, sebagai Raja Dewa Kahyangan Sloka perilaku kalian seperti mahluk rendahan, samasekali tidak mencerminkan sifat kedewataan, Aku sebagai Ketua dari Lima Kerajaan harus bertindak tegas," Ucapan Prabu Padmamurti yang lantang membuat semua yang berada di lokasi peperangan menoleh kearah suara yang baru datang.
Kedatangan Prabu Dewa Sri Padmamurti diiringi oleh beberapa orang yang berpengaruh Dikahyangan Sloka, termasuk Dua Prabu dari Kerajaan Gunung Terbang yang bernama Dewa Sri Purna Dharma sedangkan dari Kerajaan Lawang Praja Dewa Sri Binasaka,,
Duabelas Putri juga ada didalam rombongan mereka menggunakan kereta Awan, yang teebuat dan intisari awan.
Mereka semua turun ketika sudah dekat dengan lokasi pertarungan dua Prabu tersebut.
" Palasraya aku sudah tahu peperangan ini adalah keinginanmu meskipun Gandara Daksa sudah menjelaskan berkali-kali, namun harga dirimu terlalu tinggi dan kau Gandara Daksa, kau telah melupakan keberadaan kami sehingga kehancuran terjadi, maka kalian berdua harus meminta pengampunan dosa Dipuncak Gunung Kalasa," Prabu Dewa Sri Padmamurti merupakan Prabu keadilan diantara Kelima Kerajaan dan merupakan paling Tua maka jika terjadi kesalahpahaman ataupun perselisihan diantara para Raja maka Prabu Dewa Sri Padmamurti berhak memberikan hukuman.
Mendengar keputusan hukuman maka kedua Prabu tersebut terkejut namun segera menyadari kesalahan masing-masing.
" Gandara Daksa dan Palasraya lakukan apa yang menjadi keputusan Prabu Padmamurti dan jangan membantah," Maharsi menimpali perkataan dari Prabu Padmamurti.
" Gandara Daksa dan Palasraya pergilah kalian sekarang juga, Aku akan datang ketika hukuman sudah selesai," Kata Sang Prabu Padmamurti.
" Hamba siap menjalani hukuman Kanda Prabu," kedua Prabu tersebut langsung melesat pergi ketika selesai menghaturkan sembah.
*** Bersambung