
Kelelawar raksasa itu mengendus-enduskan hidungnya dia menyeringai ketika pandangannya tertuju kearah tempat persembunyian Bajraloka dan teman-temannya Gading dan cutcit.
Gading dan cutcit sangat ketakutan bau busuk mulai tercium Bajraloka memandangi kedua temannya kemudian dia tersenyum ingin tertawa tapi ditahan karena baru kali ini melihat temannya ketakutan seperti itu sampai mengeluarkan kotorannya sendiri.
Kelelawar raksasa itu yang bentuk tubuhnya hampir mirip manusia kemudian menengadahkan telapak tangannya tidak lama dari telapak tangan kelelawar raksasa itu muncul api kecil yang berkobar ternyata kelelawar raksasa itu mengetahui tempat persembunyian Bajraloka dia ingin menangkap Bajraloka dan teman-temannya.
Kelelawar raksasa itu melempar kobaran api kecil itu tapi....
" Crasshh,"
" aaaakkkhhh,"
Kelelawar raksasa itu menjerit tangan yang memegang api itu terkena panah, api yang dilemparkan akhirnya mengenai tempat yang salah.
Kelelawar itu sangat marah dia kemudian terbang melesat kearah persembunyian Bajraloka.
Bajraloka kemudian mengajak teman-temannya untuk kabur dari tempat itu.
" Gading, Cutcit ayo kita kabur,"
Gading dan Cutcit yang mendapat perintah dari Bajraloka tanpa berpikir panjang langsung kabur, Bajraloka pun mengikuti dari belakang namun sebelum pergi dari tempat itu Bajraloka sempat melepaskan anak panahnya.
" Hai manusia mau lari kemana kamu,"
Kelelawar raksasa itu ternyata mampu berbicara manusia, dengan suara bassnya yang menggema tapi pelan mencoba untuk menghentikan Bajraloka dan teman-temannya.
" wuzzzh,"
" Crasshh,"
" Aaaakkkhhh,"
Kelelawar raksasa itu berhenti dari terbangnya setelah satu anak panah mengenai kakinya.
" Sialan, manusia laknat, berani sekali kau, kau tidak tahu berhadapan dengan siapa? Akulah siluman Raja kelelawar penghuni goa hutan ini, hari ini kematian akan menjemputmu,"
Kelelawar raksasa itu mencabut dua anak panah yang menancap dikaki dan tangannya, darah hitam mulai keluar dari bekas tancapan anak panah tersebut.
Setelah mencabut kedua anak panah itu Kelelawar itu kembali mengejar Bajraloka tanpa menghiraukan rasa sakit yang diderita.
Bajraloka dan Gading berlari dengan cepat begitu juga Cutcit terbang dengan sekuat tenaga meski hari begitu gelap hingga beberapa kali mereka harus menabrak pohon, semak belukar yang menghalanginya tidak dipedulikan.
" Gading ayo lebih dipercepat larinya, aku yakin Kelelawar raksasa itu terus mengejar kita,"
Gading ingin menjawab dengan menggonggong tapi tidak bisa karena nafasnya terengah-engah.
Gading tiba-tiba tersungkur kebelakang, Cutcit dengan kicauannya seakan berteriak minta tolong.
Bajraloka menolong Gading namun betapa terkejutnya dia karena yang ditabrak Gading bukan sebatang pohon melainkan Kelelawar raksasa yang sudah berdiri didepan mereka.
" Hai kau manusia, berani sekali kau menginjak wilayahku apalagi pada saat aku melakukan ritual pemujaan, maka hari ini juga hidupmu akan berakhir di tanganku,"
Mendengar perkataan Kelelawar itu dengan suara bassnya, Bajraloka bukannya takut dia malah menjawab pertanyaan Kelelawar itu dengan santai.
" Hahahaha, aku baru tahu bahwa Dewa pencabut nyawa ternyata sangat jelek dan menyeramkan seperti dirimu,"
Kelelawar raksasa itu tidak menyangka bahwa ada manusia yang berani berbicara lancang kepadanya, Kelelawar itu langsung mengeluarkan aura yang menindas menyerang Bajraloka dan teman-temannya.
Cutcit langsung jatuh dari terbangnya begitu juga Gading langsung tergeletak tak berdaya sedangkan Bajraloka mencoba melawan serangan tersebut dengan kekuatan fisiknya, namun aura tersebut sangat kuat sehingga keringat bercucuran dari tubuh Bajraloka diapun akhirnya terduduk lemas.
Kelelawar raksasa itu tertawa senang melihat lawannya tidak berdaya.
" Hahahaha, manusia lemah seperti dirimu berani berbicara lancang kepadaku, sekarang terimalah nasibmu,"
Kelelawar raksasa itu menggeram keras, moncong yang berada dimulutnya tiba-tiba memanjang, memanjang terus memanjang menyerang Bajraloka.
Bajraloka terbelalak melihat sebuah moncong menyerangnya, dia mencoba untuk menggerakkan tangannya namun tidak bisa karena tekanan aura dari Kelelawar itu sangat kuat.
" Dussstt,"
" Aaaakkkhhh ,"
Bajraloka terlempar kebelakang jatuh diantara semak-semak dia yang tidak memiliki tenaga dalam harus menderita kesakitan.
" Sial Kelelawar itu sangat kuat aku bisa mati disini,"
Bajraloka memegangi pinggangnya yang sakit, namun dia masih berusaha untuk berdiri.
Belum sempat dia berdiri sebuah tendangan keras mengenai dagunya kembali Bajraloka tersungkur dengan darah menetes disudut bibirnya.
Melihat lawannya tidak memiliki perlawanan Kelelawar raksasa itu ingin mengakhiri hidup Bajraloka dia mengepak-ngepakkan sayapnya dan sabetan angin berbentuk sabit mengarah kebajraloka yang masih berusaha berdiri.
Bajraloka dengan keadaan setengah berdiri hanya bisa memejamkan matanya ketika bahaya sedang mengancamnya.
" Jduuaarrr,"
Bajraloka mendengar ledakan tersebut dia merasa bahwa dirinya sudah mati, namun dia sadar bahwa tubuhnya masih menginjak tanah seakan tidak percaya lalu dia perlahan-lahan membuka matanya.
ketika matanya terbuka dia mengedarkan pandangannya betapa terkejutnya dia.
Dia melihat Kelelawar raksasa itu dikeroyok oleh tiga wanita yang sangat cantik.
Mereka bertarung dengan sangat hebat hingga Bajraloka terpana melihat pertarungan tersebut dia lupa akan keadaan Gading dan Cutcit.
Mendapat serangan beruntun dari ketiga wanita itu Kelelawar raksasa kewalahan, serangan tongkat-tongkat wanita itu tidak dapat dielakkan hingga Kelelawar itu harus beberapa kali tersungkur.
****** Bersambung******