Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
ch 11. Awal Pertarungan Pangeran Jayarudra melawan Sangkala Sura



"Gandara Daksa jangan bikin aku semakin muak dengan kata-kata manismu itu dimataku kau tetaplah culas, aku tidak akan terpengaruh," Prabu Palasraya berkata-kata dengan nada tinggi memperlihatkan kemarahannya agar Prabu Gandara Daksa mau mengakui maksud jahatnya.


" Percuma berbicara pada Dewa yang sudah diliputi oleh kemarahan, Kanda Palasraya mari kita tuntaskan kemarahan mu, aku sudah siap dengan segala resiko dari tantangan mu ini," Gandara Daksa sangat berang kepada Prabu Palasraya yang sangat kaku dalam bersikap.


'" Prajurit ku semuanya hari ini kita akan berperang mengukir sejarah bahwa negeri Kahyangan Sloka akan mengadakan perang pertama antar Kerajaan Kahyangan demi menegakkan sebuah Dharma yang kita yakini, tinggikan semangat tempur kalian, ayo maju seraaaaaaannnggg," Pidato penuh semangat dilontarkan Prabu Palasraya kepada pasukannya seketika ribuan prajurit berhamburan maju mencari lawan berharap bisa memenangkan perang.


Akhirnya pertempuran sengit terjadi kedua kubu saling menunjukkan kekuatannya agar bisa memenangkan perang, Bukit Mahayoni yang semula terlihat bisu kini bising dengan suara dentingan berbagai senjata dan teriakan-teriakan semangat maupun kesakitan dari para petarung.


Tidak berselang lama Bukit Mahayoni banjir dengan darah, tidak adalagi keindahan bukit Mahayoni yang banyak dibicarakan yang ada sebuah pemandangan yang menyeramkan.


Kita tinggalkan dulu pertempuran DiBukit Mahayoni, kini kita lihat apa yang dilakukan Pangeran Jayarudra setelah berhasil mengalahkan Ratu Iblis Durgayama.


Pangeran Jayarudra bersama pasukannya yang tersisa kini berjalan menuju ketempat pertapaan Sang Raja Iblis belum dapat beberapa langkah, tiba-tiba tanah yang dipijak bergetar seperti gempa, debu-debu beterbangan, bahkan benda-benda yang ada ikut beterbangan, semua terkejut bahkan Pangeran Jayarudra memasang kewaspadaan karena dia merasakan suatu kekuatan besar.


Angin dan getaran tanah semakin kencang dan keras sehingga ada beberapa prajurit yang memiliki kekuatan rendah ikut terbawa arus angin yang kencang, Pangeran Jayarudra yang melihat hal itu menjadi marah kemudian dia langsung duduk bersila dengan tangan membentuk Mudra tangan seperti Bunga Teratai seketika sinar hijau muncul pada Mudra tersebut perlahan-lahan membesar kemudian sinar itu menyedot kekuatan Angin dan getaran tanah dan akhirnya badai itu berhenti setelah badai menghilang semua menjadi tenang.


Namun tak berselang lama dari arah Timur muncul kobaran api mendekati rombongan Pangeran Jayarudra, kobaran api itu membakar semua yang dilewati memasang kewaspadaan tinggi Pangeran Jayarudra masih belum beranjak dari semedinya namun matanya terbuka dan melihat kobaran api tersebut hingga kobaran api sudah dekat, muncul sosok yang menyeramkan tapi berwibawa pada ujung kobaran api tersebut, para Prajurit Kahyangan menghunuskan senjata hendak menyerang namun dilarang oleh Pangeran Jayarudra.


" haaaaaahhhh (menggereng) kalian benar-benar membuatku murka, kalian semua harus menanggung akibat dari perbuatan kalian," mahluk itu berkata-kata dengan kemarahan yang tak terkendali dari nafasnya mengeluarkan percikan-percikan api kecil, kemudian jari telunjuknya menuding mengarah kepada para prajurit hingga prajurit itu terbakar dan menjadi debu, terjadilah kegaduhan akibat ketakutan ,para prajurit berlari kesana-kemari tak tentu arah.


"hentikan perbuatan mu mahluk jelek, kami tidak ada urusan dengan mu," Pangeran Jayarudra menggertak mahluk itu dengan tenaga dalam hingga mahluk itu berhenti.


" hahahaha, anak bau kencur berani menggertak ku, Sang penguasa Raja Iblis Sangkala Sura, aku tahu kau punya kekuatan yang cukup tinggi, tapi itu belum cukup untuk melawanku," kata Raja Iblis dengan nada merendahkan.


"hahahaha, jadi kau si Raja Iblis Sangkala Sura, kebetulan sekali kita bertemu disini jadi aku tidak susah-susah mencari mu," kata Pangeran Jayarudra


"Baiklah, karena kau sudah mengacaukan alamku dan tapaku yang sebentar lagi akan selesai, maka kematian tidak akan cukup untuk membayarnya dan kau akan kujadikan tumbal kekuatan ku, hahahaha," Sangkala Sura tertawa dengan senang.


Pangeran Jayarudra menghunuskan Pedangnya yang bernama Pedang Penebus Dosa seketika Sinar Biru yang berasal dari pedang tersebut membuat sebagian area itu menjadi biru.


Sangkala Sura tidak perduli dengan itu dia segera mengerahkan kekuatan kepada jari-jari tangan nya hingga muncullah lidah api yang memanjang seperti cambuk menyerang Pangeran Jayarudra.


Pangeran Jayarudra menerima serangan itu dengan mengalirkan unsur es kedalam pedangnya, lidah api menyerang hingga berbenturan dengan pedang Pangeran Jayarudra.


***Bersambung.......