
Hari H pernikahan Rayn dan Viona.
Sampai detik ini, Vio masih belum mengetahui apa yang terjadi. Semua tersimpan dengan rapat dan mereka berharap semoga Vio tidak akan pernah mengetahui hal itu. Sebenarnya Andrea dan Ardy juga belum mengetahui hal ini.
''Cantik banget Vi,'' puji Andrea mencium puncak kepala Viona. Vio tersenyum, menatap mamanya dari pantulan cermin. Di samping mamanya, Vio melihat papanya yang sudah berkaca-kaca.
''Jangan cengeng pa, ini hari bahagiaku loh.''
''Siapa yang cengeng Vi, papa hanya terharu, akhirnya kamu menikah juga.''
Vio tersenyum samar. Ya, akhirnya dia menikah juga, setelah dulu pernah mengubur keinginan tersebut. Ya, akhirnya dia menikah juga, dengan seorang pria yang sekarang sangat dan sangat dia cintai.
''Makasih ma-pa. Kakak nggak ada ya?'' Sebenarnya Vio berharap kakaknya bisa datang, tapi dia juga sadar, kemungkinan itu sangat kecil terjadi, karena mengingat Febby yang masih sangat terobsesi pada Rayn dan juga membencinya.
''Papa yakin, cepat atau lambat kakakmu bisa menerima semua ini.'' Ardy menenangkan, agar Viona tidak kepikiran.
Perhatian mereka teralihkan, begitu mendengar suara teriakan Sabila.
''OMG Vio, cantik banget sih.'' Sabila heboh sendiri. Mulutnya sampai menganga lebar. Agak lebay sih, ya tapi namanya juga Sabila.
''Cantik banget vi, sumpah deh,'' ucapnya lagi.
Vio hanya tersenyum, sedangkan Andrea dan Ardy hanya bisa menggeleng kepala mereka. Tingkah Sabila yang seperti ini juga sudah sangat diketahui oleh kedua orang tua Viona.
''Mbak Vi, semalam ya mbak Vi.'' Karin datang memberi selamat. Dia sedikit menyingkirkan tubuh Sabila dan langsung memeluk Viona.
''Aku turut senang untuk mbak Vio dan pak Rayn.''
''Astaga Karin, kamu lebay banget deh, nggak usah nangis juga kali.'' Sabila menegur, merasa Karin sedikit berlebihan.
Sejam kemudian, Sabila sudah menangis tersedu-sedu, melihat Vio dan Rayn yang baru selesai mengucapkan janji suci pernikahan mereka.
''Tadi ngatain aku lebay mbak,'' ucap Karin tertawa kecil, merasa lucu dengan tingkah Sabila.
''Aku hanya senang melihat Viona sudah menikah.'' Semakin keras saja tangisannya, sampai terdengar oleh Viona dan Rayn. Keduanya hanya bisa tertawa.
''Sudah, nggak perlu sedih, kita juga akan segera menyusul mereka.'' Sabila sontak menatap Daniel yang sudah berdiri di sampingnya sambil memberi tisu.
''Aduh, beneran mbak Bill, aku kok ketinggalan gosip sih?'' Karin menimpali. tertawa kecil melihat wajah cengo Sabila.
Karena Sabila tidak kunjung mengambil tisu pemberiannya, akhirnya Daniel berinisiatif untuk membantu menyeka sisa air mata Sabila.
''Aku bisa sendiri.'' Sabila agak ketus, merampas tisu dan menyeka sendiri air matanya. Matanya kembali mengarah pada Vio dan Rayn.
''Sabila sama Daniel, mereka ada sesuatu nggak sih?'' tanya Vio. Rayn hanya mengangkat pundaknya.
''Udah, ini hari pernikahan kita, Mikirin aku aja, nggak usah mikirin orang lain.''
Tanpa malu, Rayn menguceup singkat bibir Viona dan itu langsung menimbulkan kericuhan, karena beberapa orang berteriak menyoraki. Sedangkan, Viona, dia langsung memukul lengan Rayn, merasa malu akan sikap pria itu.
*****
''Cape banget ya?'' Rayn membantu melepaskan high heels Viona dan memijat betis wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya itu.
''Ternyata menikah semelelahkan ini.''
Rayn hanya tersenyum, mendengar setiap protes yang Viona katakan.
''Karena orangnya Vi.'' Rayn sedikit sombong. Ya tapi jawabannya tidak salah kan? Mau sebagus apapun jas itu, kalau tidak ditunjang oleh wajah dan proporsi yang memukau ya akan terlihat biasa aja.
''Hhmm iya, iya, tau deh yang ganteng.''
''Kan suami kamu Vi.''
''Iya suami aku.'' Vio cekikikan, memegang gemas rahang Rayn. Senyum lebar tidak berhenti menghiasi wajahnya.
''Vi.'' Tiba-tiba pandangan Rayn menjadi sirius ''Aku nggak percaya hal itu bisa terjadi dalam hidupku. Kamu ada disini sekarang, disampingku dan sudah menjadi istriku, rasanya ini masih seperti mimpi. Aku pernah membayangkannya, tapi saat itu rasanya sangat sulit untuk digapai. Vi aku janji akan selalu membahagiakanmu.''
Viona mengangguk, sedikit memajukan tubuhnya dan memeluk Rayn.
''Aku juga nggak nyangka, pria yang dulu menyebalkan sekarang malah menjadi pria yang paling mengerti aku. Pria yang ingin aku hindari dan sekarang dia sudah menjadi suamiku. Ray, aku juga akan membuat kamu bahagia. Mari kita hidup bahagia sampai rambut kita memutih.''
Rayn mengangguk. Pria itu melerai pelukan. Perlahan tapi pasti, Rayn mulai memajukan wajahnya, menyatukan bibir mereka lagi. Keduanya saling menutup mata, meresapi rasa bahagia setelah berganti status menjadi suami istri.
Pelan-pelan Rayn membaringkan Viona, menatap wajah sang istri lagi. ''Bolehkah?''
Viona mengangguk pelan. Rayn tersenyum dan kembali menyatukan bibir mereka lagi. Mereka berdua kesusahan melepas wedding dress Viona, tapi itu bukanlah suatu hambatan untuk menuju sesuatu yang paling membahagiakan.
Malam itu, mereka melewati malam pertama mereka tanpa gangguan apapun. Mereka sudah sepenuhnya memiliki satu sama lain.
Ditempat lain, Febby sedang meringis kesakitan, beberapa orang baru saja memukulinya. Ini bukan baru sekali dua kali Febby mengalami siksaan seperti ini. Febby yakin inilah maksud Rayn saat mengatakan akan membalas berkali-kali lipat dari apa yang Vio rasakan.
Hal yang sama juga terjadi pada Kevin. Hampir setiap hari tubuhnya memar, karena ulah beberapa orang yang tiada henti menyiksanya. Kevin menengadah, menatap ruangan kecil yang dipenuhi banyak orang itu.
Kevin menangis, dia teringat pada Viona, dia rindu pada wanita itu. Kalau mereka masih diberi kesempatan untuk bertemu, ingin rasanya Kevin memeluk Viona untuk yang terakhir kalinya. Untuk mengucapkan kata perpisahan dan untuk mengatakan kalau dia bersedia melepas Viona asal wanita itu bahagia.
Kevin menyesal pernah perpikir buruk pada Viona, dia menyesal karena sudah memperkeruh keadaan dan sekarang malah membuat Viona semakin jauh darinya.
''Selamat untuk pernikahan kamu Vi,'' ucapnya berderai air mata. Kalau harus berkata jujur, sampai detik ini Kevin belum bisa menerima dirinya yang sudah kehilangan Viona. Kalau boleh, Kevin ingin kembali pada hari dimana dia kecelakaan, saat itu harusnya dia memaksa membuka matanya demi Viona, saat itu, harusnya dia berusaha lebih kuat untuk tidak membiarkan mamanya memisahkan mereka.
*****
''Morning istriku,'' sambut Rayn begitu Viona membuka matanya. Viona tersenyum, memeluk Rayn dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang sang suami.
''Aku masih mengantuk Ray,'' ucapnya kembali menutup matanya.
Rayn ikut tersenyum, pria itu memeluk tubuh Vio dan beberapa kali mengecup puncak kepala Viona.
Hampir jam 11 siang, Viona baru bangun.
''Ray,'' panggil Viona mencari keberadaan Rayn. Dia mendapati Rayn sedang duduk santai di ruang tamu, sambil bermain ponsel.
''Udah bangun?'' Rayn meletakan ponselnya. Pria itu berdiri menyambut sang istri dan memeluknya.
''Makan gih, udah aku siapain,'' ucapnya menunjuk ke arah meja.
Vio malah menggeleng, wanita itu memonyongkan bibirnya, minta untuk dicium dan ....
Cup.....
Rayn memberikan kecupan-kecupan kecil, hingga Viona terkekeh kesenangan.
TAMAT