Move On

Move On
Lima Puluh Dua



"Kalau boleh tau apa alasannya?" Tanya Romi ketika mendengar Safira dan Dini memutuskan untuk menolak proyek yang Romi tawarkan. Pria itu berusaha terlihat tenang.


"Apa karena masa lalu diantara kita? bukankah itu sangat tidak profesional?" lanjut Romi dengan tatapan dan senyum sinis. Safira dan Dini terlihat santai, mereka sudah menebak sejak awal Romi akan merespon demikian.


"Maaf sebelumnya, tapi kami mengedepankan kenyamanan dalam bekerja agar mendapat hasil yang maksimal. Maaf karena aku harus berkata jujur, kami benar-benar tak bisa menutupi bahwa kami tidak merasa nyaman untuk bekerja sama dengan anda pak Romi. Jadi dari pada hasil yang kami berikan tidak memuaskan yang pastinya juga akan sangat berdampak pada toko kami lebih baik kami tak melanjutkan kerja sama ini. " ucap Safira. Ia sudah memikirkannya hampir semalaman. Setelah sebelumnya juga berdiskusi dengan Dini akhirnya mereka sampai pada keputusan untuk menolak tawaran kerja sama dari Romi.


"Sangat disayangkan sekali, padahal aku nggak ada niat buruk. Murni hanya membantu sesama teman yang baru memulai usaha. Tapi tidak apa-apa aku nggak akan memaksa. Kalau boleh, aku ingin memberi sedikit saran pada kalian. Sebaiknya jangan mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan jika kalian ingin maju ke depan nya" Ucap Romi terlihat meremehkan.


"Terima kasih atas saran anda pak Romi, tapi masing-masing pribadi punya prinsip. Tak semua orang pandai menata hatinya untuk tak mencampur adukkan urusan pribadi dan pekerjaan. Kami termasuk salah satu diantaranya. Tak apa jika anda ingin menyematkan label tak profesional pada toko kami" jawab Safira. Menurutnya perasaan Elbram dan Hendra jauh lebih penting dari pada itu semua.


"Baiklah, terima kasih kalau begitu. Aku undur diri" Ucap Romi datar. Pria itu beranjak dari hadapan Safira dan Dini. Keduanya dapat membaca kekecewaan terpancar di wajah pria itu.


"Semoga Romi nggak pernah menampakkan wajahnya lagi di hadapan kita Fir. Gara-gara semalam membahas Romi, wajah suami aku kusut pagi ini" Ucap Dini setelah Romi tak tampak lagi oleh mereka.


"Iya semoga aja Din, mending dapat predikat nggak profesional dari pada harus membuat perasaan suami kita nggak nyaman. Percuma kita sukses kalo harus mengorbankan perasaan orang yang kita sayangi" Balas Safira.


"Iya kamu bener Fir" Dini mengangguk setuju. Bagaimanapun sempat ada hubungan antara dirinya dan Romi di masa lalu, sangat sulit untuk menjalin kerja sama tanpa mengingat kisah yang pernah mereka miliki. Hal itu tentu akan berpengaruh pada kehidupan rumah tangga nya bersama Hendra. Dini tak ingin membuka celah permasalahan yang akan menghancurkan bahtera pernikahan yang tengah ia jalani.


🍁🍁🍁


"El, mama minta kita datang dan makan malam bersama. Kamu bisa nggak?" Tanya Safira pada sang suami.


"Bisa sayang, nanti aku pulang lebih cepat" balas Elbram di ujung telefon.


"Aku dari toko langsung ke rumah mama boleh? Kita ketemuan di sana aja. Gimana?" Sebenarnya Safira sudah tidak sabar untuk pulang dan menunggu Elbram di apartemen. Safira ingin segera memberitahu suaminya tentang keputusan yang ia pilih tentang tawaran Romi. Safira berharap hal itu akan membuat suaminya bahagia. Akhir-akhir ini ia merasa membahagiakan Elbram begitu menyenangkan hatinya.


Tapi ia tak bisa menolak permintaan sang mama yang memintanya datang. Sepertinya mama Sandra sudah merindukan dirinya mengingat sudah cukup lama Safira tidak berkunjung ke rumah mamanya.


"Iya sayang boleh. Kamu hati-hati ya" ucap pria itu. Mendengar suara El tiba-tiba Safira merasa begitu merindukan pria itu.


"Jangan lama-lama ya. Aku tunggu di rumah mama" ucap Safira.


"Iya sayang aku usahain secepatnya. Kamu kangen aku ya?" Goda Elbram sambil terkekeh.


"Iya" Jawab Safira dengan wajah yang merona, ia merasa malu namun tak ingin berbohong tentang rasa rindu yang tengah ia rasakan.


"Ah sayang, jadi nggak sabar pengen cepat pulang" El merasa begitu bahagia, perlahan sikap Safira mulai mencair.


"Ya udah lanjutin kerjanya biar bisa pulang cepat" ucap Safira yang lagi-lagi membuat El merasa teramat bahagia.


"Iya sayang, aku kerja dulu. Aku mencintaimu" ucap El dengan penuh semangat. Tak apa meski ribuan kata cinta yang selalu ia ucapkan belum sekalipun mendapatkan balasan.


Tentu saja di tempat yang berbeda sosok Elbram terpaku dengan mulut ternganga. Darahnya terasa mengalir dengan cepat, seperti ada jutaan kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Jawaban Safira begitu mengejutkan, begitu sulit untuk El mempercayai bahwa Safira menjawab pernyataan cinta nya. Ia takut hanya salah mendengar, El khawatir dirinya berhalusinasi karena terlalu berharap Safira akan membalas cintanya.


El ingin mendengar nya sekali lagi, tapi sayang sang istri telah memutuskan sambungan telefon nya. Andai pekerjaan saat ini bisa ditunda ia ingin segera pulang dan menemui Safira untuk mendengarkan kata cinta dari bibir istrinya itu. Mau tidak mau El harus bersabar sedikit lagi.


Sementara itu Safira yang langsung menuju ke rumah mamanya sehabis berbicara dengan Elbram di telefon. Gadis itu tiba setelah menempuh perjalanan hampir 45 menit, untung saja jalanan lengang sehingga ia bisa segera tiba di rumah sang mama.


Mama Sandra terlihat tengah membaca majalah di bangku taman. Wanita paruh baya itu tampak santai ditemani oleh secangkir teh dan sepiring cemilan.


"Mama kangen banget sama kamu sayang" bisik mama Sandra sembari memeluk putrinya ketika Safira datang menghampiri.


"Safira juga kangen mama" balas Safira.


"El mana? belum pulang?" tanya mama Sandra saat menyadari Safira datang sendirian.


"Iya masih di kantor. Nanti El nyusul ke sini" jawab gadis itu. Safira dan mama Sandra duduk bersisian, tempat ini memang favorit mama Sandra untuk bersantai.


"Ma makasih ya" Ucap Safira sembari tersenyum ke arah mama Sandra. Sang mama tampak mengernyit mendengar ucapan tiba-tiba putrinya.


"Makasih untuk apa?" tanya nya heran.


"Makasih karena mama uda mewakili Safira menghukum Elbram" ucap gadis itu dengan senyum lebar dan mata berbinar.


"El uda cerita semua ke Safira ma" Lanjut Safira ketika melihat raut penuh tanya sang mama.


"Jadi kalian uda baikan sekarang?" tanya mama Sandra antusias. Wanita itu terlihat lega ketika Safira menganggukkan kepalanya. Ia selama ini pura-pura tak tidak tau bagaimana buruknya hubungan Safira dan Elbram. Hanya saja El selalu meminta nya untuk tenang, sang menantu juga selalu meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. El selalu mengatakan bahwa ia bisa menghadapi semuanya.


"Terlepas bagaimana buruknya masa lalu kalian, tapi mama bisa melihat El sangat tulus mencintai kamu sayang. Meski awalnya mama marah ketika tau apa yang sudah dia lakukan ke kamu, tapi kegigihan nya membuat mama akhirnya menyadari bahwa tak ada pria yang lebih tepat untuk mendampingi kamu selain dia Safira" ucap sang mama tulus, Safira mengangguk. Mendengar ucapan mama Sandra hati Safira menghangat. Wajah Elbram melintas dan itu membuatnya semakin merindukan suaminya.


🍁🍁🍁


Guys Sorry lama banget nggak update.


Tadinya pengen istirahat sehari dua hari eh nggak taunya keterusan 😂😂


Tapi tenang aja, aku pasti tamatin kok cerita nya. Aku nggak setega itu kabur tanpa menyelesaikan apa yang sudah aku buat, cieee... 🤭


❤️❤️