Move On

Move On
Part 60



''Ray, ayo kita menikah.''


Mata Rayn melebar, agak kaget dengan ucapan Viona ini. Dia pikir Viona akan meninggalkannya.


''Me - menikah?'' Rayn hanya ingin memastikan, kalau dia tidak salah dengar.


Viona mengangguk, air matanya masih mengalir, walau tidak sederas tadi. ''Ayo kita menikah Ray.''


Rayn tentu senang, tapi agak bingung juga. Viona tidak mungkin menangis seperti itu, hanya untuk mengajaknya menikah kan?


''Vi, kamu nangis kenapa tadi?''


Viona berusaha tersenyum dan kembali memeluk Rayn. ''Aku minta maaf untuk apa yang terjadi dimasa lalu, untuk semua rasa sakit yang pernah kamu rasakan dimasa lalu. Ray, dimasa depan, aku janji, akan selalu ada disana sama kamu. Bahkan jika kamu ingin aku pergi, aku nggak akan pergi.''


Rayn melerai pelukannya, kembali menatap wajah cantik sang kekasih. Hatinya senang mendengar penuturan Viona barusan. ''Vi.'' Mata Rayn mulai berkaca, pria itu kembali menarik Viona dalam pelukannya. Satu tangannya dia letakan dibelakang kepala Viona dan satu tangannya lagi dipunggung Viona.


''Vi, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Maaf kalau mungkin aku egois, aku hanya ingin bisa terus bersama kamu seperti sekarang, manua bersama, punya keturan dan hidup bahagia sampai akhir. Vi aku janji, akan selalu bikin kamu bahagia.''


Viona mengagguk dalam pelukan Rayn. ''Belikan aku cincin, untuk aku lingkar di jari manisku.''


Rayn terkekeh pelan, lalu mengangguk.


''Yang berliannya besar.''


Rayn kembali mengangguk. ''Aku akan memberikan yang terbesar untukmu.''


Vio pun melepas pelukannya. ''Jangan terlalu besar, jariku nggak muat nanti.''


''Iya ... iya ... iya ...'' Rayn mencolek hidung Viona, agak gemas dengan wanita itu.


''Oh ya Ray, masalah Jenie ...?''


Semenjak mereka kembali bersama, Rayn memang belum menceritakan Jenie padanya makanya, Vio masih penasaran dengan hubungan keduanya. Vio tidak ingin mempermasalahkan hal itu, dia hanya penasaran saja.


''Nggak ada apa-apa, itu cuman gosip murahan.''


''Beneran? Tapi emang kamu beneran nggak tertarik? Dia cantik loh Ray, badannya bagus, masih muda, model, terkenal lagi, masa sih nggak suka sedikit pun?''


''Udah mentok di kamu soalnya.'' Rayn memberikan senyum genitnya. Dia mencolek singkat dagu Viona.


''Kok aku nggak percaya ya?'' Viona malah melempar tatapan penuh selidik, bikin Rayn tambah gemas.


Dengan cepat pria itu melabuhkan bibirnya pada bibir Viona. ''Aku sukanya kamu, gimana dong? Nggak percaya?''


Rayn terkekeh, melihat wajah kesal Viona, mungkin karena tindakannya barusan. ''Gini deh Vi, gimana kalau aku cium kamu lagi, yang h*t gitu, sebagai bukti kalau aku benar-benar serius sama kamu.''


Viona berdecak, memukul kuat lengan Rayn. ''Itu sih mau kamu Ray.''


Rayn tertawa, menarik Viona dan memeluknya dari samping. ''Vi, buat aku nggak ada wanita yang semenarik kamu. Aku cinta sama kamu dan nggak ada yang bisa ngegantiin itu. Bagi aku hanya akan ada kamu dan selalu kamu. Hatiku udah full sama kamu, udah nggak bisa dimasukin orang lain lagi.''


Vioan mempraktekan gaya orang ingin muntah. Dia berdecak lebih dulu, sebelum beralih menatap Rayn. ''Kata-kata kamu Ray, bikin mual tau nggak. Udah ah, aku mau tidur, mending kamu pulang aja.'' Vio melepas tangan Rayn dari pundaknya, berdiri dan masuk kamar.


''Aku nginep disini ya, tidur sama kamu boleh nggak Vi?'' Rayn agak berteriak, karena Viona sudah masuk dan menutup pintu kamarnya.


''Nggak ada, pulang sana.''


''Galak banget sih Vi, sama pacar sendiri.'' Rayn tersenyum, pria itu membaringkan tubuhnya di sofa. Dia menatap langit-langit dengan hati yang riang gembira. Pria itu menghayal, akan sebagaimana bahagiannya mereka berdua, setelah mereka menikah nanti, punya anak dan hidup sampai rambut mereka memutih.


''Aku nggak sabar nikah sama kamu Vi.'' Rayn memiringkan tubuhnya, menatap pintu kamar Viona lagi.


''Vi, udah tidur belum, aku bisa masuk nggak?''


Rayn terkekeh, mendengar Viona yang baru saja mengunci pintu kamarnya dari dalam. Lagi-lagi malam ini Rayn memilih menginap di apartemen Viona dan tidur di sofa ruang tamu wanita itu.


Jam 6 Rayn bagun, pria itu langsung mencuci muka dan keluar membeli sarapan untuk mereka. 45 Menit kemudian Rayn sudah kembali, dia membeli bubur ayam dan segelas jus buah naga untuk Viona dan satu cup coffee untuknya..


''Morning,'' ucapnya melihat Viona yang baru keluar dari kamar. Rayn sedang menuangkan jus ke gelas.


''Sarapan Vi.''


''Kamu tidur di sofa lagi semalam?'' Vio menghampiri, dia memperhatikan pakaian Rayn yang masih sama seperti semalam.


''Hhmm, kan kamu nggak ngizinin aku tidur dikamar, terpaksa deh aku tidur di sofa. Sakit badanku Vi.'' Rayn pura-pura memijat pundaknya, sedangkan Vio, wanita itu malah tersenyum kecil.


''Vi.'' Rayn duduk. Tiba-tiba pria itu nampak sangat bersemangat.


''Hhmm,''


''Apartemennya aku jual aja, menurut kamu gimana?''


''Apartemen kamu?''


Rayn mengangguk. ''Iya Vi, buat tambahan modal nikah.''


''Kamu kekurangan uang emang?''


''Nggak sih, maksudnya biar aku bisa tinggal disini gitu, sama kamu. Lagian apartemen kamu kan besar Vi, muat dong buat 2 orang.''


''Alasan aja, nggak ada ya.''


Rayn pura-pura bete, Vio hanya melirik sekilas, kemudian menggeleng kepalanya.


******


Cup


Rayn mencium kening Viona lebih dulu, sebelum dia pergi meninggalkan butik.


Pria itu tersenyum dari kaca spionnya, melihat Viona yang masih melambaikan tangannya, seolah tahu kalau Rayn masih mengawasinya.


''Vi.'' Langkah Viona terhenti, dia baru saja membalik badannya dan hendak masuk ke butik.


''Kevin?''


''Lagi sibuk?''


''Lumayan. Ada apa Kev?''


Kevin menggeleng. ''Nggak, lagi suntuk aja, butuh teman ngobrol.''


Viona lebih dulu melirik jam tangannya. Setengah jam, dia bisa ngobrol dengan Kevin selama setengah jam, pikirnya.


''Yuk masuk, kita ngobrol di dalam aja, nggk pa-pa kan?''


Mereka pun masuk. Sabila sempat memperhatikan hal itu, dia pun berteriak memanggil Viona.


''Kok sama Kevin? Emang Rayn nggak keberatan kamu masih ketemu sama Kevin kayak gini?''


Vio tersenyum, dia tahu maksud Sabila. Tapi menurutnya, Rayn tidak akan keberatan, toh dia sama Kevin cuman berteman sekarang, nggak lebih dari itu. Viona juga sudah benar-benar melupakan Kevin.


''Nggak pa-pa Bill.''


Sabila pun tidak menahannya lagi.


''Kamu kenapa, kok kayak banyak pikiran gitu?'' Viona memperhatikan wajah Kevin. Sekarang mereka sudah di ruangan Viona.


''Vi, bisa bantuin aku nggak?''


''Bantuin apa Kev?''


Nanti malam, bisa nggak temani aku ketemu sama teman-teman lamaku? Mereka ngajak ketemuan Vi. Kamu kan tau, aku sempat hilang ingatan, jadi mungkin akan rada asing buat aku ketemu mereka lagi. ''


''Tapi Kev, aku kan nggak terlalu dekat sama teman-teman kamu, nanti akward dong.''


Viona memperhatikan wajah Kevin yang berubah sendu. ''Sekali ini Vi, tolong aku sekali ini saja. Aku benar-benar butuh kamu buat nemenin aku.''


''Kev, kalau kamu belum siap ketemu mereka, kenapa diiyain?''


''Udah terlanjur Vi, tapi yaudahlah kalo emang kamu nggak bisa.'' Kevin pun berdiri, ''Maaf ya, udah ganggu pagi kamu.''


Viona jadi merasa nggak enak karena hal itu, akhirnya dia pun mengiyakan ajakan Kevin itu.


Bersambung.....