Move On

Move On
Part 64



Sejak pertengkaran terakhir mereka, Vio dan Rayn sepakat untuk lebih terbuka lagi terhadap satu sama lain. Vio juga benar-benar berjanji untuk menjaga jarak dari Kevin dan juga mereka berjanji untuk saling mempercayai satu sama lain.


Tadi pagi, Kevin sempat datang ke butik, untuk mengambil jas pesanannya. Vio bicara secukupnya dan tidak meluangkan terlalu banyak waktu. Vio juga sudah terbuka tentang hal ini pada Kevin dan meminta Kevin untuk memakluminya.


Kevin tentu kesal, tapi berpura-pura setuju. Pria itu tidak akan menyerah sebelum berhasil merebut Viona lagi. Kevin tidak terima, selama ini dia begutu mencintai Vio, tapi kenapa dia harus kehilangan wanita itu?


Kevin rasa dia berhak untuk diberi kesempatan kedua. Meninggalkan Viona selama 5 tahun juga bukan keinginannya. Lalu kenapa dia yang harus menanggung akibatnya, kenapa dia yang harus menderita?


Kevin pasti akan merebut Viona lagi, tidak peduli walau harus menggunakan cara yang salah sekalipun.


*****


''Ray, hari ini kamu ke butik nggak?'' tanya Vio di sebarang telepon. Rayn sedang di luar, ingin bertemu seseorang.


''Aku masih diluar Vi, lagi ketemu klien, tapi nanti aku mampir bentaran. Kenapa, kamu kangen banget ya sama aku?''


Acel hanya bisa menggeleng, mendengar semua ucapan Rayn pada Vio. Memang sih udah nggak playboy lagi, tapi cara ngomongnya masih belum hilang, masih banyak gombalnya, pikir Acel.


''Yaudah nanti aku tunggu ya.'' Vio tidak menanggapi ucapan terakhir Rayn. Wanita itu langsung mengakhiri panggilan begitu saja.


Rayan mencium layar ponselnya. Raut kebahagian terus terpancar dari wajahnya. Dia bahkan tersenyum pada beberapa orang di sekitar meja mereka. Sudahlah, Acel hanya membiarkan dan tidak mau ambil pusing, selagi Rayn tidak berbuat aneh.


Sebenarnya, Rayn datang untuk bertemu dengan pemilik salah satu gedung yang geduangnya biasa digunakan atau disewa untuk melakukan pernikan. Ya, Rayn berniat melamar Vio secara resmi. Dia juga sudah mulai menyiapkan semuanya.


Cincin pernikahan sudah dia pesan dan sekarang, dikantongnya sudah ada kotak kecil yang berisi cincin dengan berlian yang tidak terlalu besar. Rayn juga sudah menyewa satu cafe. Niatnya dia akan melamar Vio di cafe itu. Tidak lupa, Rayn juga minta agar cafe tersebut di dekorasi dengan banyak bunga, biar Vio tidak mempermasalahkan masalah bunga lagi. Rayn ngggak mau aja lamaran gagal hanya karena lupa menyediakan bunga untuk kekasihnya itu.


Selain cincin dan bunga, Rayn juga sudah menyiapkan rumah untuk mereka tempati nanti. Sebenarnya rumah itu sudah dibangun sejak berbulan-bulan yang lalu, bahkan sebelum Kevin datang dan kembali lagi ke kehidupan Viona. Di dalam rumah, Rayn sengaja membuat satu ruangan khusus untuk Vio menyimpan dan meletakan design-desainnya.


Tidak hanya itu, beberapa hari yang lalu Rayn juga sempat mendatangi Gsaint, pria itu menawar wedding dress yang pernah Vio buat, wedding dress yang ada taburan pasir pantainya. Rayn membeli wedding dress itu untuk pernikahan mereka nanti.


Rayn membeli wedding dress itu karena kata sabila, dulu Viona memang mendesain wedding dress itu untuk dia pakai sendiri tapi entahlah, kenapa wedding dress itu tiba-tiba diambil alih oleh perusahaan papanya. Rayn juga sudah mengingatkan Sabila, untuk tidak membocorkan rencananya itu pada Vio.


Rayn benar-benar merencanakan semuanya sendirian. Tanggal pernikahan sudah dia tentukan, gedung sudah dia sewa. Tinggal foto pre wedding saja yang belum. Fotonya memang belum, tapi Rayn sudah menyewa seorang fotografer ternama di negara itu, untuk foto pre wedding mereka nanti.


Hampir 45 menit Rayn berbicara dengan si pemilik gedung dan deal. Rayn juga sudah menyewa wedding organizer dan sudah mengutarakan beberapa idenya, untuk tampilan atau dekorasi gedung pernikahan mereka nanti.


''Ray, ini kamu yang mau nikah kok aku yang cape ya?'' Jelas saja Acel protes, di kantor dia punya begitu banyak kerjaan dan si Rayn malah mengajaknya kesana kemari, mencari ini itu.


Bukankah harusnya Rayn pergi dengan Vio, kenapa malah dia?


Rayn tidak mempedulikan. Pria itu malah menarik Acel pergi. Kali ini, entah kemana lagi Rayn akan membawanya.


Hampir jam setengah 7 malam Rayn tiba di butik. Vio masih sibuk dengan pekerjaannya, sampai tidak sadar kalau Rayn sudah ada di ruangannya sejak hampir 2 menit yang lalu. Tadi siang Rayn sempat mampir, tapi tidak sampai 5 menit dan pria itu sudah pergi lagi.


''Ray? Kamu udah disini?'' Vio berdiri, menghampiri dan menghambur kepelukan sang kekasih.


''Cape banget, hari ini banyak banget kerjaan aku.'' Rayn tersenyum lebar, menyingkirkan banyaknya helaian rambut yang menutup wajah Vio. Rayn suka sikap Vio yang belakangan ini berubah jadi manja padanya, seperti sekarang ini.


Dulu, Vio tidak pernah mengeluh padanya, tapi sekarang, dia akan merengek manja pada Rayn, bahkan jika ada hal kecil yang bikin dia kesal sekalipun.


Vio menggeleng. Pipinya tampak dikembungkan. Benar-benar sangat menggemaskan.


''Oh ya....'' Tiba-tiba Vio berdiri. Dia juga ikut menarik Rayn untuk berdiri. Rayn hanya memperhatikan, saat Vio tiba-tiba mengukur tubuhnya. Rayn sudah bisa menebak kalau Vio pasti akan membuatkannya pakaian.


''Mau bikin pakaian buat aku ya?'' Rayn kembali duduk, begitu Vio selesai dengan kegiatan ukur mengukurnya.


''Hhmm.''


Rayn sempat melihat Vio tersenyum, sebelum sedikit berlari ke arah meja kerjanya dan menyimpan buku yang tadi berisi informasi ukuran tubuh Rayn.


''Nanti makan burger aja mau nggak?'' tanya Vio sembari merapikan mejanya. Setelah itu, dia mengambil tas dan lebih dulu berjalan ke arah pintu.


''Yuk.'' Vio mengulurkan tangannya, sebagai isyarat agar Rayn segera mengikuti dan mengganggam tangannya.


''Emang kamu lagi pengen burger hari ini, makan yang lain aja mau nggak?'' Bisa batal rencana lamaran Rayn, kalau Vio benar-benar memaksa untuk memakan burger saat ini.


Di cafe yang Rayn sewa itu, mereka sama sekali tidak menjual burger.


''Makan yang lain juga nggak pa-pa sih. Kamu mau makan apa emang?'' Vio memalingkan wajahnya ke samping, melihat Rayn yang tiba-tiba tersenyum.


''Spaghetti? Steak?'' Rayn menyarankan.


Viona pun tidak keberatan. Toh yang paling penting perutnya terisi.


*****


''Ray, kok sepi gini cafenya? Kita beneran mau makan disini?''


''Iya, kata teman aku enak kok makanan disini.''


''Masa sih, tapi kok sepi gini. Nggak ada orang Ray. Ih kamu mah, kalo enak nggak mungkin sunyi gini. Udah ah kita pindah tempat aja.''


''Ih jangan dong Vi. Aku udah laper banget ini, nggak sanggup lagi kalau harus pindah ke cafe lain.


''Nggak ah. Aku nggak mau makan disini, curiga aku.''


''Curiga apa sih Vi?''


''Ya mana ada cafe enak yang sunyi, nggak ada orang sama sekali kayak gini. Kamu lihat deh.'' Vio menunjuk ke dalam cafe. ''Bahkan satu meja pun nggak ada yang terisi Rayn.''


''Nggak kok Vi, kata Daniel enak.''


Ingin sekali Vio tertawa, melihat Rayn yang berusaha menahannya. Vio bukan orang bodoh, dia sudah dapat menebak dengan hanya melihat keadaan cafe yang sesunyi itu. Vio tahu, kalau Rayn akan melamarnya.


Bersambung .....