
Elbram bangun di pagi hari dengan perasaan yang begitu bahagia. Pembicaraan nya dengan Safira tadi malam membuatnya bisa bernafas dengan begitu ringan. Ia tak pernah merasa selega dan sebahagia ini selama 5 tahun ke belakang.
El memandangi wajah mungil istrinya yang masih terlelap dengan nyaman di dalam pelukannya. Perlahan pria itu mendaratkan kecupan di kening Safira. Melihat wajah Safira saat pertama kali ia membuka mata dan menikmati suasana seperti saat ini telah ia nantikan sekian lama, tak disangka pada akhirnya ia bisa merasakan apa yang menjadi impiannya.
El memandangi wajah Safira yang terlihat begitu sempurna di matanya, menatap bibir wanitanya membuat El merasa tergoda. Ia begitu ingin menikmati bibir itu. Ia ingin merasakan kembali kehangatan dan kelembutan bibir Safira seperti bertahun-tahun yang lalu.
Meski begitu menginginkannya namun El mencoba menahan diri, tak ingin mencuri ciuman Safira di saat sang istri sedang tidak sadar. Ia ingin melakukannya berdasarkan persetujuan gadis itu. Termasuk untuk memiliki Safira secara utuh, meski sangat menginginkannya dan ia berhak dengan cara memaksa sekalipun namun El tak akan pernah mengambil dengan cara demikian. Bersabar sedikit lagi tak apa baginya, daripada harus memaksakan kehendak dengan resiko segala usaha yang sudah ia lakukan selama 5 tahun ini berakhir sia-sia.
Elbram menanti dengan tidak sabar saat mata Safira perlahan bergerak menandakan sang istri akan segera bangun dari tidurnya. Senyum manis ia suguhkan untuk menyambut pagi hari sang istri, El menatap gemas pada Safira yang tampak kaget melihat dirinya sedang memandangi wajah gadis itu, apalagi rona kemerahan di wajah Safira semakin membuat El tak tahan. Pria itu langsung mendaratkan kecupan beberapa kali di pipi Safira.
Safira menyesapkan wajahnya di dada Elbram untuk menutupi rasa malu nya. Safira merasa malu, El selalu saja terbangun lebih awal darinya. Jika sebelumnya Safira tak peduli namun saat ini ia mulai berfikir bagaimana wajahnya saat sedang tertidur.
"Kenapa sayang?" tanya El sambil terkekeh karena Safira enggan memperlihatkan wajahnya padahal El sudah berusaha meraih wajah istrinya. Safira semakin dalam menenggelamkan diri ke dalam dada sang suami.
"Kenapa diumpetin wajahnya? ayo dong sayang aku lagi pengen mandangin wajah cantik istri aku" bujuk Elbram.
"Cantik apanya, aku pasti jelek banget kalo baru bangun tidur" ucap Safira masih enggan menampakkan wajahnya.
"Kata siapa? aku selalu suka melihat wajah kamu dalam keadaan polos setiap bangun tidur, ah salah aku selalu suka melihat wajah kamu kapan pun itu" rayu Elbram.
"Aku nggak percaya" Sungut Safira. Di dalam hati ia kesal pada dirinya yang seperti ini. Tiba-tiba merasa tak percaya diri di hadapan suaminya.
"Kamu harus percaya sayang, di mataku setiap saat pesona kamu itu nggak pernah pudar. Mau saat baru bangun tidur, mau lagi marah, lagi senyum semuanya aku suka. Karena aku mencintai Safira secara keseluruhan" lanjut Elbram. Diam-diam Safira tersenyum mendengar gombalan suaminya itu.
Perlahan Safira mengangkat wajahnya sambil mengulum senyum.
"Pintar banget ngegombalnya, pantesan Maya suka sama kamu" ucap Safira sembari mencebik.
Elbram yang sebelumnya tersenyum karena berhasil membujuk istrinya berubah masam saat Safira malah menyebut wanita lain dalam pembicaraan mereka.
"Aku maunya Safira yang suka" Sungut Elbram sambil menatap sendu pada Safira. Gadis itu menahan tawa melihat wajah kesal suaminya.
🍁🍁🍁
"Kamu nggak apa-apa mas?" Safira yang sedang menyiapkan sarapan untuk Elbram menatap kaget pada sosok Maya yang tiba-tiba masuk ke kamar rawat Elbram, wajah Maya terlihat panik. Gadis itu mendekat ke arah Elbram yang sedang berada dalam posisi duduk santai di ranjangnya sembari menunggu Safira.
Sama seperti Safira El tak kalah terkejut akan kedatangan Maya yang sama sekali tak terduga. Elbram menatap cepat ke arah Safira yang terpaku beberapa saat. Maya mengikuti arah pandangan Elbram, wajah panik Maya berubah salah tingkah saat mendapati Safira yang kini menatap bingung padanya. Karena terlalu khawatir pada kondisi Elbram, Maya hanya fokus pada pria itu hingga tak menyadari keberadaan orang lain di kamar tersebut.
"A-aku sekalian mau berangkat kerja Fir" Jawab Maya terbata.
"Tau dari mana El dirawat di sini? Dini yang kasih tau? atau El yang mengabari?" Safira menatap tajam pada suaminya. Ia berusaha menahan emosi di dalam dadanya, jika memang diam-diam El masih berhubungan dengan Maya maka tamatlah sudah, namun setidaknya ia tak ingin menunjukkan kemarahan demi menyelamatkan harga dirinya.
"Aku nggak pernah ngabarin siapa-siapa sayang, ponsel aja aku nggak tau di mana" Jawab Elbram cepat.
"Bima yang kasih tau, kebetulan aku sama Bima berteman" Ucap Maya.
"Bima rekan kerja aku yang ikut dinas luar kemarin sayang" Elbram menimpali saat melihat Safira mengerutkan keningnya karena merasa tak asing dengan nama itu.
"Oh gitu" ucap Safira santai, Maya tampak tersenyum salah tingkah sementara Elbram masih tampak tegang.
"Kata dokter El nggak apa-apa. Oh ya, ini El mau sarapan. Kamu mau suapin sambil ngobrol? aku keluar sebentar biar kalian enak ngobrolnya nggak keganggu" ucap Safira tak peduli ekspresi kaget suaminya.
"Sayang kamu apa-apaan? aku nggak mau disuapin dia. Aku juga nggak mau kamu pergi, kamu harus tetap ada di sini. Nggak ada yang perlu diobrolin antara aku sama Maya" Elbram meraih tangan Safira sebelum gadis itu benar-benar pergi meninggalkannya.
"Maya jauh-jauh datang masa kamu nggak mau ngobrol sama dia El?"
"Tolong jangan mengada-ada sayang" Elbram mengiba.
"A-aku cuma mau memastikan kalo mas El baik-baik aja. Nggak ada maksud apapun. Maaf kalau kehadiran aku mengganggu kenyamanan kalian. Aku pamit kalau gitu" Ucap Maya setelah merasa kehadirannya tak diharapkan di sana.
"Oh beneran mau pamit? ya udah hati-hati" Jawab Safira. Elbram tak mengatakan apapun bahkan melihat ke arah Maya pun tidak, pria itu hanya menatap pada Safira. Elbram terlihat berjaga-jaga agar jangan Safira pergi dari ruangan itu.
Tanpa bicara lagi Maya melangkahkan kakinya meninggalkan Safira dan Elbram tanpa menoleh sedikitpun. Entah bagaimana perasaan gadis itu saat ini.
"Seneng ya pagi-pagi uda ketemu mantan?" goda Safira saat menatap ke arah Elbram yang masih terlihat khawatir.
"Dia bukan mantan aku sayang" ucap Elbram lirih. Elbram membawa tangan Safira untuk merasakan jantung nya yang berdetak begitu kencang.
"Wah kamu deg-degan banget ya ketemu Maya?" Safira membulatkan matanya tak percaya.
"Bukan, ini karena aku takut banget kamu salah paham dan minta pisah sama aku" ucap Elbram dengan suara bergetar dan terdengar putus asa.
🍁🍁🍁