
Safira tercekat mendapati sebuah undangan digital yang masuk ke dalam ponselnya yang dikirim oleh nomor kontak Zio. Tadinya Safira sempat merasa berdebar kala melihat nama Zio mengirim chat padanya, berjuta rasa menghampirinya namun siapa menyangka chat tersebut berisi undangan pernikahan yang bertuliskan nama Kenzio Abraham dan Davina.
Tubuhnya seakan kehilangan daya, persendian terasa ngilu dan lemah. Ia terduduk di ranjang dengan wajah pucat.
Meski Safira sudah tau ada hubungan spesial antara mantan bos nya tersebut dengan Davina namun Safira sama sekali tak menduga bahwa akan seserius ini. Safira tak menyangka keduanya akan membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Ia kira hubungan yang terjalin diantara Zio dan Davina hanya hubungan sesaat dan akan berakhir begitu saja mengingat usia Davina yang masih begitu muda.
"Kenapa rasanya sakit sekali" Keluh Safira sembari meremas dadanya. Padahal ia tau Zio memang mustahil untuk ia miliki, selain karena pria itu tak pernah menyukainya juga karena statusnya yang terikat pernikahan dengan Elbram.
"Kenapa sayang?" Tanya Elbram khawatir melihat Safira yang tampak hancur dengan matanya yang berkaca-kaca. Air mata istrinya telah siap untuk tumpah.
"Mereka benar-benar menikah" Gumam Safira yang membuat Elbram mengernyit heran.
"Lagi-lagi aku menjadi pecundang, tak menjadi pilihan dan tersisihkan" Keluh gadis itu lagi.
"Apa maksud kamu sayang?" Elbram menghampiri Safira dan meraih tubuh itu ke dalam dekapannya. Elbram lega Safira sama sekali tak menolak pelukan darinya. Gadis itu malah menumpahkan tangisannya di dada sang suami.
"Setiap yang aku sukai selalu memalingkan wajahnya pada gadis lain. Aku nggak pernah jadi pilihan, aku selalu saja kalah" ulang Safira. Elbram yang masih belum mengerti memutuskan untuk tak bertanya lagi. Pria itu mengusap rambut Safira yang masih menumpahkan kesedihannya.
Setelah merasa lebih tenang Safira baru menyadari dirinya yang berada di dalam pelukan Elbram. Dengan cepat ia melepaskan diri dari rengkuhan suaminya.
"Pria yang aku sukai mengirimkan undangan pernikahan" ucap Safira tanpa menatap pada suaminya. Ia menyesali dirinya yang lupa diri hingga memberi kesempatan pada Elbram untuk memeluk dirinya.
"Jadi kamu menangisi pria lain di depan suami mu sendiri?" Terdengar nada tak terima dalam ucapan pria itu.
"Kenapa? nggak suka?" Tantang Safira. Elbram tersenyum pedih menghadapi sikap istrinya.
"Tentu saja aku nggak suka, aku suami kamu Safira. Kamu nggak pantas melakukan hal itu. Kita ini uda menikah, harusnya kamu uda nggak boleh menyukai dan memikirkan laki-laki lain" ucap Elbram dengan tatapan terluka nya.
"Aku cuma menyukai nya, tidak sampai bersentuhan atau berciuman seperti yang kamu lakukan dengan Maya lima tahun yang lalu" Balas Safira.
"Aku tau aku salah saat itu dan aku menyesalinya, tapi aku melakukan nya di saat kita belum terikat pernikahan. Sementara kamu melakukannya di saat kamu sudah sah menjadi istriku baik secara hukum maupun agama." Elbram terlihat sangat kecewa namun pria itu masih berusaha menahan nada bicaranya agar tak sampai menyakiti hati Safira.
"Tetap saja aku terluka karena nya El. Kalo emang kamu keberatan ya udah akhiri pernikahan ini, aku juga nggak berminat melanjutkan pernikahan ini lebih lama lagi. Aku muak sama kamu dan pernikahan bodoh ini!" Balas Safira sengit.
"Apa benar-benar tak ada kesempatan untuk ku sedikitpun? kamu beneran nggak bisa membuka hati dan memulai semuanya dari awal lagi sama aku Safira? kamu menderita dalam pernikahan ini?" pertanyaan beruntun itu Elbram lontarkan dengan mata tak lepas menatap pada istrinya.
"Iya" Jawab Safira cepat tanpa keraguan.
Elbram lalu beranjak meninggalkan Safira yang terdiam, gadis itu tak mengatakan apapun lagi setelah mendengar ucapan suaminya.
"Aku harap kamu juga akan memikirkan nya kembali dengan matang tanpa melibatkan emosi." ucap Elbram sebelum benar-benar menghilang di balik pintu
Selepas kepergian Elbram, Safira merebahkan tubuhnya. Ia memijit-mijit kepalanya yang terasa sakit. Hatinya berubah gusar dan gundah.
Perasaan nya benar-benar kacau dan tak menentu. Fikiran tentang Zio dan Davina kini berganti dengan ucapan-ucapan Elbram serta ekspresi kecewa yang ditunjukkan suaminya.
🍁🍁🍁
Elbram benar-benar memberikan waktu pada Safira untuk memikirkan semua keinginannya.
Bahkan sudah 2 hari Elbram tidak pulang ke apartemen agar tak mengganggu Safira dengan kehadirannya. Pria itu sepertinya ingin membiarkan Safira berfikir dengan tenang dan kepala dingin. Karena keputusan akhir yang akan Elbram ambil nanti semua berdasarkan apa yang istrinya inginkan.
"Kamu yang paling tau keputusan apa yang terbaik untuk kamu Fir. Aku nggak bisa kasih masukan atau saran apapun" ucap Dini setelah mendengar cerita sahabatnya.
Hari ini tujuan Dini menemui Safira adalah untuk membahas kelanjutan bisnis mereka, namun Safira merasa ragu untuk melanjutkan mengingat belum ada kejelasan antara dirinya dan Elbram. Terpaksa Safira menceritakan apa yang terjadi pada Dini.
"Apa aku uda keterlaluan ya Din?" Tanya Safira ragu.
"Aku ngerti apa yang terjadi lima tahun yang lalu pasti meninggalkan luka yang akan sulit untuk disembuhkan. Karena itu aku nggak mau memberikan pandangan apapun mengenai hubungan kamu dan bang El, karena aku nggak bisa menebak dengan pasti apa yang kamu rasakan dulu hingga sekarang. Aku cuma bisa mendukung keputusan apapun yang akan kamu ambil Fir" Dini menggenggam tangan Safira yang terlihat bimbang.
"Aku bingung Din" Keluh Safira.
"Setelah mendengar penjelasan bang El tentang kejadian lima tahun yang lalu perasaan kamu ke dia gimana? apa sedikitpun tak ada celah di hati kamu untuk memulai semuanya dari awal?" tanya Dini hati-hati.
"Aku nggak tau Din, walaupun aku tau El nggak salah sepenuhnya tapi tetap saja ada rasa sakit yang membekas. Kekecewaan ku pada Elbram belum bisa sepenuhnya hilang Din. Aku belum bisa berfikir terlalu jauh tentang hubungan kami karena aku masih merasa bingung sampai detik ini. Aku akui pertengkaran kemarin itu terjadi karena aku terlalu mengikuti emosi ku. Aku terbawa perasaan mengetahui kabar pernikahan pria yang aku sukai. Jadi aku nggak tau ajakan berpisah itu memang karena aku menginginkannya atau hanya sebagai pelampiasan kekecewaan" ucap Safira sambil menghela nafas perlahan.
"Beri hati kamu waktu untuk memahami semuanya dulu Fir. Lagi pula bang El memberikan waktu tidak terbatas untuk mu berfikir kan? manfaatkan lah dengan sebaik-baiknya agar tidak ada penyesalan nantinya" Ucap Dini bijak.
"Iya Din, makasih ya uda mau dengerin aku" Safira tersenyum tipis pada Dini yang mengangguki ucapannya.
🍁🍁🍁