Move On

Move On
Dua Puluh Tujuh



Keheningan menyelimuti Elbram dan Safira, hanya terdengar hembusan nafas lelah diantara mereka.


"Masih ada yang ingin kamu dengar?" Elbram yang jengah pada kebisuan mereka membuka kembali percakapan antara dirinya dan Safira.


"Masih banyak, cerita kamu belum benar-benar selesai kan?"


Elbram mengangguk. Dengan berat hati ia kembali mulai bercerita.


"Awalnya aku kira aku butuh sosok seperti Maya karena kemiripannya dengan Vanya. Tapi lama-lama aku menyadari bahwa aku tidak benar-benar menyukai Maya. Aku hanya menikmati sosok Vanya yang ada di dalam dirinya. Kekacauan hatiku terjadi mungkin karena aku belum benar-benar berdamai pada apa yang menimpa kisah ku dengan Vanya. Namun perlahan aku mulai menyadari ada yang salah pada diriku sehingga aku kemudian berusaha meresapi hatiku lebih dalam, akhirnya aku berada pada sebuah kesimpulan bahwa hatiku sudah sepenuhnya bertaut pada kamu Safira. Perasaan ku pada Maya hanya pelampiasan sesaat atas rasa sakit hatiku pada Vanya. Tapi bukan berarti aku masih mencintai Vanya. Semua hanya karena egoku sebagai laki-laki yang tak terima atas pengkhianatannya. Aku hanya ingin menunjukkan pada Vanya bahwa aku masih bisa mendapatkan gadis sepertinya. Huh sungguh konyol" Elbram menertawakan drinya sembari menggelengkan kepala berulang kali.


"Sayangnya ketika aku jujur pada Maya, dia nggak terima pada keputusan ku padahal sejak awal antara aku dan dia juga tak ada kesepakatan apapun." Raut wajah Safira masih terlihat kesal dengan kilat tajam menatap pada Elbram.


"Nggak usah dilanjutin ya? aku nggak mau kamu semakin membenciku sayang, ceritaku begitu memuakkan" Ucap Elbram. Pria itu cukup tau diri, jika dirinya saja bisa semuak ini apalagi Safira?


"Nanggung, ceritain sampai selesai" Timpal Safira ketus. Elbram menghela nafas dan membuangnya dengan kasar, menceritakan kembali apa yang terjadi membuat Elbram membenci dirinya sendiri di masa lalu.


"Malam saat kejadian kamu memergoki aku dengan Maya sebenarnya adalah malam di mana aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu dan memperjelas hubungan kita, sayangnya sebuah video menghancurkan segalanya." Elbram tersenyum pahit.


"Video apa?" kening Safira mengernyit bingung.


"Video mesra kamu bersama seorang pria" ucap Elbram dengan suara bergetar dan senyum penuh luka.


"Apa? Video mesra aku sama seseorang? nggak usah ngarang El! kamu sengaja mengarang cerita supaya terkesan bahwa kamu nggak bersalah kan? Aku nggak punya teman dekat pria selain kamu waktu itu" Ucap Safira tidak terima. Elbram tersenyum kecut, reaksi ini adalah salah satu yang Elbram takutkan. Mengungkapkan alasan dibalik kejadian lima tahun yang lalu hanya akan menimbulkan prasangka bahwa dirinya hanya mencari alasan untuk membenarkan sikapnya di masa lalu.


"Aku nggak ngarang! video itu benar-benar ada sayang, video yang menunjukkan adegan seorang pria yang datang memberikan sebuket bunga padamu, aku melihat kamu begitu bahagia dan memeluk pria itu bahkan mencium pipinya. Maaf aku terbawa perasaan, seketika aku merasa dikhianati. Kilasan pengkhianatan Vanya kembali memenuhi perasaan ku. Aku begitu kalut sehingga aku kehilangan kendali. Bahkan aku tak menyadari hingga tak memberikan perlawanan apapun saat Maya tiba-tiba mencium ku. Semua ucapan ku padamu dulu juga dipicu oleh kekecewaan ku yang begitu dalam sehingga aku sama sekali tak mempertimbangkan perasaan kamu. Maafin aku sayang" Jelas Elbram. Safira masih berusaha mencerna ucapan Elbram, gadis itu berusaha keras untuk mengingat tentang video yang suaminya maksud.


"El aku beneran nggak ngerti, video apa yang kamu maksud? kalo emang menurut kamu beneran ada tapi aku nggak ingat sama sekali pernah melakukan seperti apa yang kamu ceritakan itu" Safira masih tak terima pada tuduhan Elbram padanya.


"Lupakan Safira, aku yang bersalah. Aku terlalu emosi hingga tak bisa berfikir jernih. Aku menelan mentah-mentah video yang Maya berikan padaku tanpa mencari kebenarannya lebih jauh" ucap Elbram.


"Maya yang memberikan video itu?" tanya Safira dilanda rasa penasaran. Elbram mengangguk lemah, wajahnya terlihat tak bersemangat. Fikiran dan prasangka buruk tentang Maya mulai memenuhi otak Safira.


"Iya masih" jawab Elbram ragu.


"Mana aku mau lihat" Safira begitu tak sabar ingin melihat video seperti apa yang Elbram katakan.


"Nggak usah Safira, aku uda tau kebenaran tentang video itu" Tolak Elbram.


"Kalo kamu nggak kasih lihat videonya itu artinya semua ucapan kamu barusan itu bohong El, kamu cuma mau cari alasan aja kan?" melihat Safira yang tampak geram, mau tidak mau Elbram mengeluarkan ponselnya. Membuka kembali video yang telah ia simpan bertahun-tahun.


Safira membelalakkan mata melihat video yang Elbram berikan. Ia tak menyangka Maya akan melakukan hal keji ini padanya. Entah Maya atau siapa yang diam-diam merekam momen tersebut.


"Maaf aku baru tau bahwa pria itu adalah sepupu kamu setelah kamu pergi. Harusnya aku tak langsung percaya pada ucapan Maya yang sengaja memanasi ku dan membuat semuanya jadi hancur. Aku harusnya tak mengikuti egoku waktu itu. Aku benar-benar bodoh" Ucap Elbram sembari tersenyum pahit.


"Yah kamu memang bodoh El" Safira yang sudah selesai menonton video yang Elbram berikan mengangkat wajahnya dan menatap sinis pada suaminya.


"Apa kamu semakin membenciku setelah mendengarkan ceritaku?" Tanya Elbram kemudian.


"Tentu saja, memangnya apa yang kamu harapkan?" Jawab Safira masih dengan nada bicara yang ketus. Namun fikiran Safira kini tertuju pada Maya, ia masih tak habis fikir pada kelakuan gadis itu. Maya mengambil kesempatan dan memfitnahnya hanya untuk mendapatkan Elbram.


"Maaf sayang" Safira tak menyadari kini Elbram telah menggenggam tangannya. Namun ketika gadis itu sadar, Safira menarik tangannya dengan cepat dari rengkuhan Elbram.


"Kamu tau dari mana itu sepupu aku? Maya yang kasih tau?" Safira menahan pergolakan batinnya. Dadanya terasa sesak, memendam kemarahan pada sosok Maya yang sempat menjadi sahabatnya itu membuat kepalanya terasa begitu sakit.


"Dini yang memberitahuku, tapi sayang aku sudah kehilangan kamu saat tau kebenarannya" ucap Elbram getir. Yah tentu saja Dini tau semua keluarga dan orang-orang terdekatnya.


Kekecewaan Safira pada Maya yang sempat mengendap kembali memuncak. Masih terlalu sulit bagi Safira untuk percaya pada apa yang Maya lakukan. Apa sebegitu sukanya Maya pada Elbram hingga mengambil jalan licik seperti itu? padahal Maya juga tau bahwa pria yang ada di video itu adalah sepupu yang paling dekat dengan nya.


Safira tak habis fikir Maya akan mengorbankan persahabatan yang sudah terjalin begitu lama demi cintanya pada Elbram.


🍁🍁🍁