Move On

Move On
Empat Puluh Satu



"Nggak enak ya makanan nya?" tanya Safira pada El yang tampak tak bersemangat menyantap makanan yang ia bawakan. Pandangan pria itu menerawang menandakan fikiran El sedang melanglang buana entah ke mana.


"El, kalo makanan nya emang nggak enak, yang itu nggak usah di makan. Ganti pesan makanan di aplikasi aja ya" ucap Safira lagi karena El hanya diam menandakan bahwa fikiran pria itu benar-benar sedang tak berada di tempat.


"Enak kok, enak banget sayang" jawab Elbram dengan senyum yang terlihat dipaksakan saat tersadar dari lamunan nya.


"Kalo enak kenapa kayak nggak semangat gitu makannya. Aku nggak marah kok kalo emang masakan aku nggak enak. Aku pesankan makanan yang lain aja ya?" timpal Safira. Ia cukup sadar diri bahwa kemampuan memasaknya masih standar dan tak sehebat suaminya. Jadi ia bisa memaklumi jika memang masakannya tak sesuai selera Elbram.


"Ini beneran enak sayang, maaf aku cuma nggak fokus gara-gara pertemuan dengan Romi barusan." Dari pada Safira salah paham Elbram memilih jujur tentang penyebab keresahan hatinya. Ia tak bisa menutupi ketakutannya sendiri. Meski Safira telah memberi kesempatan untuk pernikahan mereka dan berjanji untuk memulai kisah mereka dari awal, namun El merasa posisi nya belum aman karena sampai saat ini ia belum berhasil merebut hati istrinya.


"El, kamu bisa pegang ucapan aku. Sampai kapanpun aku nggak akan mungkin suka sama Romi, dia sama sekali bukan tipe aku El jadi kamu nggak usah takut, saat masih lajang aja aku nggak tertarik sama dia apalagi dengan status aku yang sekarang" Safira paham apa yang menjadi kekhawatiran suaminya.


Kesungguhan di mata Safira membuat bibir Elbram tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Ia merasa lega dan bahagia.


"Maafin aku ya uda cemburu nggak jelas sama kamu sayang" ucap Elbram yang diangguki oleh Safira. Pria itu terlihat menemukan kembali semangatnya. Sinar bahagia di matanya terlihat begitu terang.


"Kalo Romi bukan tipe kamu, terus tipe pria yang kamu suka itu seperti apa?" Tanya Elbram kemudian. Mungkin dirinya bisa berusaha menjadi pria yang seperti Safira inginkan.


"Lanjutin makan nya El, nanti keburu dingin" Safira sengaja tak menjawab pertanyaan suaminya karena sebenarnya semua hal yang ia sukai sudah ada pada diri Elbram jika saja dulu pria itu tak melukai hatinya.


Elbram mengangguk patuh, Pria itu menyuapkan makanan ke mulutnya, setelah itu menyendok kan makanan kembali dan menyodorkan pada Safira. "Kamu juga belum makan kan?"


"Setelah dari sini aku bisa makan El" meski demikian Safira tetap menerima suapan dari suaminya.


"Ini cukup buat kita berdua, kelamaan kalo setelah pulang dari sini baru makan" El bergantian menyuapkan makanan ke mulutnya dan juga Safira hingga habis tak bersisa.


"Selama ini aku selalu iri sama teman kantor yang suka dibawain istrinya makan siang. Hari ini kamu mewujudkan harapan aku. Aku merasa sangat bahagia sayang. Makasih ya" Elbram membereskan kembali rantang makanan setelah mereka selesai menikmati makan siang berdua.


Safira terdiam menatap binar bahagia di mata suaminya. Ia tak menyangka hal yang menurut Safira begitu sepele malah terlihat sangat berarti bagi Elbram.


🍁🍁🍁


"Semangat ya, semoga nanti ramai pembeli" Ucap El sambil memberikan setangkai bunga mawar pada Safira. El menyempatkan diri hadir di pembukaan toko bunga Safira dan Dini. Pria itu bahkan sengaja izin bekerja untuk memberikan semangat pada istri dan adiknya.


"Makasih El" Safira menerima bunga yang suaminya berikan dengan wajah merona. Gadis itu menyesap aroma mawar dengan mata terpejam menikmati wangi yang memanjakan penciumannya.


"Selamat datang di Sunny Florist. Tapi anda ini keterlaluan, memberikan bunga yang dibeli di toko bunga lain pada istri anda yang sedang opening toko bunga" ucap Dini menghampiri sepasang suami istri tersebut. Elbram terkekeh mendengar gerutuan sang adik.


"Iya juga ya Din, kok aku nggak kefikiran" Safira ikut tertawa.


"Ya mau gimana lagi, masa aku beli di sini terus kasih ke Safira. Emang kalian mau nerima uang nya?" balas Elbram.


"Maaf bang, semenjak menikah istri aku ini jadi penuh perhitungan" Ucap suami Dini sambil tertawa


"Maklumlah zaman sekarang biaya hidup semakin mahal"


"Eh ngomong-ngomong namanya kenapa Sunny Florist?" Suami Dini mengalihkan topik pembicaraan. Dini dan Safira malah kompak tertawa mendapatkan pertanyaan tersebut.


"Sebenarnya aku sama Dini uda pusing banget mikirin nama, kita tu sama-sama nggak kreatif kalo mau kasih nama apapun. Uda di detik-detik terakhir kita kefikiran buat gabungin nama kita berdua, jadi Sunny itu sebenarnya Safira dan Dini. Tapi biar agak keren dikit jadi tulisannya dibikin kayak gitu" ucap Safira sambil terkekeh.


"Tapi akhirnya difikir-fikir malah punya makna lain juga, jadi sebuah harapan semoga toko bunga kita selalu bersinar sesuai namanya" lanjut Dini.


"Ah itu keren dan kreatif banget" Elbram merangkul Safira dan mencium pipi istrinya dengan gemas.


"Iya itu keren, istriku memang luar biasa" Suami Dini tak mau kalah, pria itu ikut merangkul dan mencium istrinya. Elbram dan Safira tak bisa menahan tawa melihat tingkah sepasang suami istri di hadapannya.


Perhatian mereka teralihkan dengan kedatangan mama Sofia dan mama Sandra.


"Hai sayang selamat ya" Kedua mama tersebut bergantian memeluk Safira dan Dini untuk memberikan selamat.


Keduanya berkeliling melihat-lihat toko bunga putri mereka.


"Mama uda promosi ke teman-teman mama kalau ada acara pesan bunga sama kalian aja" Ucap mama Sandra setelah selesai melihat-lihat.


"Iya mama juga" Timpal mama Sofia.


"Wah kita beruntung ya Fir punya mama yang gaul gini" ucap Dini sambil tertawa.


"Iya Din, nggak sia-sia punya mama yang aktif ngumpul arisan sana sini" Balas Safira.


"Aku juga akan bantu promosi sama teman-teman kantor. Tapi jatah aku ditambah ya?" timpal Hendra dengan tatapan penuh arti pada istrinya.


"Ah beres kalo soal itu, nggak usah khawatir bisa dibicarakan" jawab Dini dengan genit.


"Kalian ini nggak ada malunya loh bahas gituan di depan orang tua" Ucap mama Sofia dengan masam dan mama Sandra yang mengulum senyum. Hendra dan Dini tertawa cuek pada gerutuan sang mama, malah keduanya semakin erat berpelukan.


"Kalo aku bantu promosi, apa jatah aku bakalan ditambah juga kayak Hendra?" Bisik Elbram, Safira menatap kaget pada suaminya. Tubuhnya terasa memanas, wajahnya memerah mendapati tatapan suaminya.


🍁🍁🍁


Porsi normal aja belum dapat ye kan... 😂😂