Move On

Move On
Empat Puluh



Hubungan El dan Safira semakin membaik setiap harinya. Safira mulai menjalankan perannya sebagai istri meski belum sepenuhnya terutama urusan ranjang, ia benar-benar belum siap untuk menjalankan kewajibannya yang satu itu. Setiap malam sebelum tidur aktivitas yang mereka lakukan hanya bercerita tentang apa saja yang mereka alami seharian penuh. Safira merasa bersyukur karena El tak pernah menuntut agar ia segera memberikan hak sang suami.


Untuk mengurus rumah Safira telah berusaha untuk menghandle semuanya. Beberapa kali gadis itu mulai menyiapkan sarapan untuk El meski lebih sering ia kesiangan dan suaminya yang telah lebih dulu menyiapkan sarapan untuk mereka.


"El, aku boleh datang ke kantor bawain kamu makan siang nggak?" Tanya Safira setelah panggilan telfon nya sudah terhubung. Karena pagi ini El bangun lebih awal dibandingkan dirinya dan pria itu yang menyiapkan sarapan, Safira berencana untuk membawakan suaminya makan siang sebagai penebus rasa bersalahnya karena ia terlambat bangun.


"Boleh dong sayang, aku happy banget tau kalo istri aku mau bawain makan siang. Tapi kamu lagi nggak sibuk kan?" Karena yang Elbram tau Safira sedang disibukkan oleh persiapan pembukaan toko bunga nya dengan Dini.


"Nggak El. Aku sama Dini nggak ke ruko hari ini" Persiapan untuk pembukaan toko bunga mereka sudah mencapai 90 persen sementara pembukaan nya masih 1 minggu lagi jadi Safira dan Dini memutuskan untuk beristirahat hari ini Karena hampir 1 bulan waktu mereka berdua banyak tersita.


"Oh ya udah kalau gitu, aku tunggu ya sayang. Atau mau aku jemput?" tanya Elbram begitu bersemangat.


"Nggak usah El, kalo kamu jemput ya mending kamu makan di rumah aja sekalian. Kamu tunggu aja, aku aja yang ke sana" balas Safira yang membuat Elbram terkekeh.


"Iya udah kalau gitu, nanti hati-hati ya. Kalau uda mau berangkat kabarin aku biar aku tunggu di lobby" ucap Elbram


"Oke El, sampai ketemu di sana" Safira tersenyum manis seolah sang suami dapat melihat senyuman yang ia suguhkan.


"Oke sayang, aku mencintaimu" Bisik Elbram. Safira terdiam, jujur sampai detik ini Safira selalu kesulitan untuk menjawab kata cinta yang Elbram ucapkan padanya. Ia belum sepenuhnya mengerti akan hatinya. Sesekali ia masih teringat akan sosok Zio meski Safira selalu menepis dengan cepat ingatan akan pria itu karena menyadari status mereka sudah sama-sama terikat dalam pernikahan.


"Bye El" Safira menutup panggilan telfonnya, gadis itu menghela nafas berat. Mungkin El merasa kecewa padanya. Tapi Safira tak bisa memaksakan bibirnya mengatakan sesuatu yang ia sendiri masih meragukannya. Ia tak mau memberikan harapan yang terlalu besar pada Elbram. Safira ingin menjawabnya nanti saat ia sudah benar-benar yakin dengan perasaan nya.


Sementara di kantornya Elbram tersenyum getir, ia menyadari usahanya untuk memasuki hati istrinya belum membuahkan hasil. Namun ia tak akan menyerah, cintanya akan terus ia semaikan di hati Safira hingga benih-benih cinta itu tumbuh dengan subur.


"Aku selalu mencintai kamu dan akan selalu mencintai kamu Safira" Bisik Elbram di dalam hati. Ia tetap harus bersyukur, setidaknya sudah banyak kemajuan dalam hubungan mereka.


Safira tak pernah lagi bersikap penuh permusuhan padanya. Dapat memeluk Safira saat tidur serta melihat senyuman gadis itu sudah lebih dari cukup baginya. El cukup tau diri untuk tak memaksakan keinginan nya.


🍁🍁🍁


Elbram berjalan cepat ke arah Safira, meraih tubuh sang istri dan mendaratkan kecupan di pipi gadis itu. Ia merasa sangat bahagia, saat Safira menyempatkan mengantar makanan untuknya.


"Makasih ya uda repot-repot nganter makan siang buat aku" Bisik Elbram, matanya menatap penuh cinta pada sang istri.


"Nggak repot kok, lagian nggak tiap hari juga" Safira menyerahkan rantang berisi makanan pada suaminya.


"Ayo" Satu tangan El memegang rantang yang diberikan sang istri sementara satu tangan yang lain menggenggam tangan gadis itu.


"El aku cuma antar aja, aku mau langsung pulang" ucap Safira yang merasa bingung karena El malah mengajaknya masuk ke dalam lift menuju ruangan pria itu.


"Masa langsung pulang? temenin suaminya makan dong." Ucap Elbram penuh harap. Mau tidak mau Safira mengangguk dan menuruti permintaan sang suami.


"Safira kan?" Pria itu tersenyum ramah pada Safira dan Elbram.


"Iya, kamu Romi?" balas Safira setelah mencoba mengingat beberapa saat. Cukup lama mereka tak bertemu. Pria itu tampak banyak berubah, lebih dewasa dan juga tampan wajar saja jika Safira tak begitu mengenalinya.


Safira merasa El mengeratkan genggaman di tangannya. Safira menoleh ke arah El yang juga tengah menatap nya dengan tatapan membingungkan.


"Apa kabar? kita uda lama banget nggak ketemu. Kamu kerja di sini?" Tanya pria itu.


"Istri aku ke sini untuk mengantar makan siang buat aku" Elbram lebih dulu menjawab pertanyaan Romi. Pria itu tersenyum kaku ke arah Elbram.


"Oh kalian..."


"Iya kita suami istri" Jawab El cepat tanpa mendengar ucapan utuh dari pria itu.


"Kami permisi dulu" Ucap El lagi sebelum Romi kembali mengajak mereka berbicara.


Elbram membawa istrinya masuk ke dalam ruangan nya, sementara Safira tampak bingung dengan sikap yang Elbram tunjukkan. Pria itu terlihat sangat tidak suka pada Romi.


"Kamu kenapa El?" Tanya Safira.


"Kenapa apa nya?" balas pria itu.


"Kamu kok kayak nggak suka banget sama Romi? apa karena dia mantannya Dini?" tanya Safira lagi, Elbram membuang nafas kasar.


"Kamu tau nggak kalo dia itu pernah suka sama kamu? dan aku tau sampai sekarang dia masih suka. Kelihatan dari cara dia menatap kamu. Wajar dong kalo aku nggak nyaman lama-lama berinteraksi sama dia" Safira terperangah, ia baru teringat ucapan Dini waktu itu yang mengatakan bahwa Romi menyukainya.


"Uda lama banget El, nggak mungkin lah dia masih suka sama aku. Aku malah nggak yakin dia pernah suka karena dia nggak pernah nunjukin sikap yang aneh-aneh" Jawab Safira santai. Ia tak habis fikir pada El yang terlihat begitu panik.


"Aku bisa melihat dari gerak geriknya sayang. Dia tu suka sama kamu. Jadi kamu harus jaga jarak dari dia" Ucap Elbram tegas.


"Dari dulu aku sama dia juga selalu jaga jarak El." Safira berusaha memahami kekhawatiran suaminya.


"Kamu suka nggak sama dia?" Tanya Elbram yang membuat Safira kaget.


"Ya enggak lah, kamu tu suka asal deh El. Mana mungkin aku suka sama dia. Dulu dia itu pacarnya Dini, dan ini adalah pertemuan pertama setelah bertahun-tahun. Masa iya aku suka" Ucap Safira, gadis itu bisa melihat kelegaan di mata sang suami.


"Syukurlah kalo gitu" El memeluk istrinya erat. El baru ingat bahwa perusahaan ini bekerja sama dengan perusahaan tempat Romi bekerja. Ini bukan kali pertama El bertemu dengan Romi di kantor. Pria itu menyesal tak memperhitungkan kemungkinan pertemuan ini, harusnya ia saja yang makan siang di rumah sehingga Safira tak perlu datang ke kantor.


🍁🍁🍁