Move On

Move On
Part 68



Hampir jam 10 malam, Viona dan Rayn pulang dari rumah orang tua Rayn. Tadinya, Rayn ingin membatalkan rencana makan malam di rumah orang tuanya, karena kejadian tadi pagi. Tapi, Vio tidak mau, katanya dia sudah tidak pa-pa.


''Vi, aku perhatiin dari tadi kamu senyum-senyum aja?''


Viona melirik Rayn yang sedang fokus menyetir. ''Senang aja, pas ingat ucapan terakhir kamu di video tadi.''


''Biasanya nggak suka Vi dengar kata-kata kayak gitu.''


''Siapa yang nggak suka? Ya namanya cewek pasti senanglah cuman kadang kata-kata kamu agak berlebihan Ray.''


''Ya tapi nggak keberatan kan?''


Vio menggeleng sambil tersenyum lebar. ''Nggak.''


''Ih gemes banget deh Vi, lama-lama aku makan juga nih kamunya.'' Tangan Rayn sudah mengacak-ngacak rambut Viona. Rasanya Rayn gemas sekali dengan wanitanya yang menurut dia makin cantik dari hari ke hari.


''Enak aja.''


*****


''Gimana? kamu setuju nggak sama rencanaku?''


''Kamu yakin ini akan berhasil?''  Kevin sedikit berpikir. Sebenarnya agak berat untuk melakukan ide Febby. Tapi kayaknya dia tidak punya pilihan lain apalagi mengingat Rayn dan Vio yang sudah mau menikah. Kevin tidak siap untuk kehilangan Vio selamanya, dia harus merebutnya sebelum wanita yang dia cintai itu resmi menjadi istrinya Rayn.


Mungkin Vio akan sedikit membencinya nanti, tapi tidak masalah asal wanita itu kembali ke sisinya. Kevin janji dia akan menebus dengan cara membahagiakan Viona selamanya.


Febby menyeringai licik. Dia yakin Kevin akan setuju dengan idenya. Sebenarnya, Febby juga punya ide licik lainnya, yang tidak dia beritahukan pada Kevin dan ide itu Nindy yang akan turun tangan.


''Bagaimana?''


''Baik, aku mau.''


Febby pun berdiri. ''Ingat, laksanakan sesuai instruksiku,'' ucapnya sebelum pergi. Setelah keluar dari cafe, Febby langsung menelpon Nindy.


''Sudah kamu atur?'' Wanita itu kembali menyeringai, mendengar jawaban memuskan Nindy. Kali ini Vio pasti tidak akan lolos, kali ini dia pasti akan benar-benar berhasil menghancurkan Viona, kali ini Rayn pasti akan meninggalkan Viona.


~ Sabila dan Daniel ~


Sabila hanya melirik sekilas Daniel yang juga sedang berjalan masuk menuju area lobby apartemen mereka. Sabila mempercepat langkahnya, agar tidak bertemu dengan pria itu lagi.


''Bill.''


Sayangnya, Daniel dengan cepat menyusulnya. Pria itu bahkan sudah berjalan di sampingnya.


''Baru pulang?'' tanya Daniel yang hanya dibalas oleh sebuah anggukan.


''Udah makan?'' Sabila kembali mengangguk.


Pintu lift terbuka, cepat-cepat Sabila masuk. Sialnya, di lift tidak ada seorang pun selain mereka berdua. Sabila hanya bisa berdiri kaku, menahan nafasnya sambil berdoa agar pintu lift segera terbuka.


Sejak kejadian malam itu, Sabila terus menghindar dari Daniel. Sabila bukan marah ya, dia hanya bingung harus bereaksi seperti apa terhadap pria itu. Sabila juga takut kalau apa yang terjadi malam itu tidaklah berarti untuk Daniel.


Sebenarnya, malam dimana Daniel membawa paksa pulang Sabila yang sedang kencan, ada satu kejadian tidak terduga yang terjadi malam itu. Malam itu, entah sadar atau tidak, entah serius atau hanya bercanda Daniel tiba-tiba menyium Sabila. Kejadian itu terjadi tepat di depan pintu unit apartemen Sabila. Entahlah, Sabila juga tidak mengerti dengan tindakan Daniel itu.


Malam itu, Sabila memilih kabur, dia buru-buru masuk ke unit apartemennya bahkan tanpa sama sekali meminta penjelasan atas tindakan Daniel.


''Bill.'' Daniel menahan saat Sabila akan turun dari lift. Pria itu menatap dalam mata Sabila dan begitu pun sebaliknya. Waktu seakan berhenti saat mereka menyelami teduhnya manik hitam mata satu sama lain.


''Maaf.''


Sabila sudah menduga. Dia yakin kalau Daniel akan memintanya untuk melupakan kejadian malam itu


''Aku sudah melupakannya,'' ucap Sabila lebih dulu, bahkan sebelum Daniel membuka mulutnya lagi. ''Aku sudah melupakan semuanya, jadi berhentilah menggangguku Daniel. Mulai hari ini, anggap saja kita tidak saling mengenal.''


Mata Daniel membesar, dia kesal dengan penuturan Sabile. Secepat kilat pria itu menarik tengkuk Sabila dan menyatukan bibir mereka untuk yang kedua kalinya.


Sabila yang kaget, dia membeku dengan matanya yang terbuka lebar.


''Aku akan mengulangnya berulang kali, jika kamu melupakannya lagi.'' Itu yang Daniel ucapkan setelah bibir mereka menjauh satu sama lain.


''Bill,'' panggil Daniel menyadarkan Sabila.


''Hhmm?''


Daniel malah tertawa melihat tingakh Sabila yang menggemaskan seperti ini. Pria itu tidak berkata-kata lagi, dia mengambil tangan Sabila untuk dia genggam dan setelah itu membawa Sabila keluar dari lift.


Sabila masih belum mengatakan apa-apa. Pandangannya mengarah pada tangannya yang sedang Daniel genggam.


''Daniel.'' Sabila agak menarik tangannya, kakinya berhenti melangkah dan otomatis Daniel juga menghentikan langkahnya.


''Apa maksudnya semua ini?''


Alis Daniel terangkat, pria itu malah tersenyum dan kembali mengecup singkat bibir Sabila. ''Yang ini maksudmu?''


Sabila mengangguk pelan. Wanita itu menunduk, tidak berani menatap Daniel.


''Bil.'' Daniel membawa tangannya untuk menangkup wajah wanita itu. Daniel menatapnya lagi sebelu membuka mulutnya. ''Ayo kita menikah.''


Sabila tentu kaget dong. Dia tidak percaya dengan ucapan Daniel. Dulu, bertunangan dengannya saja Daniel enggan dan sekarang malah mengajaknya menikah?


''Bill, mau kan nikah sama aku?''


Sabila menggeleng. ''Aku nggak mau menikah sama seseorang yang nggak mencintaiku.''


Daniel tersenyum tipis, pria itu membawa Sabila dalam pelukannya. ''Kata siapa aku tidak mencintaimu?''


Sabila melerai pelukan. Dia memperhatikan wajah Daniel yang terlihat serius. tapi, tetap saja dia tidak percaya kalau Daniel mencintanya. ''Dan, aku tau dengan jelas kalau kamu nggak mencintaiku jadi berhentilah mempermainkanku.''


Daniel malah kembali tertawa. ''Katanya tau dengan jelas, tapi kok salah?''


''Maksudnya?''


''Aku cinta sama kamu Sabila. Oke aku akui diawal aku memang sangat tidak menyukaimu, sikapmu terlalu pecicilan dan aku tidak suka hal itu. Tapi, setelah kamu pindah dan menjadi tetanggaku, aku sadar dan bisa melihat sisimu yang lain. Sisi menggemaskanmu, sisi seriusmu, dan tentang kamu yang sangat peduli pada orang-orang disekitar kamu. Aku tidak tahu sejak kapan tapi setelah aku sadar, aku sudah mencintai kamu.''


''Kamu serius?''


Daniel mengangguk. ''Aku tidak akan memintamu menikah, kalau aku tidak benar-benar serius.''


''Tapi kan ....''


''Tapi kan apa?''


''Pertunangan kita kan sudah batal Daniel.''


''Cuman pertunangannya yang batal, nikahnya jangan sampe batal.''


Sabila tidak merespon, dia hanya menatap wajah Daniel. Sabila belum sepenuhnya percaya.


''Aku tau aku ganteng, tapi ngeliatnya nggak usah gitu juga kali.''


Sabila mendengus, wanita itu langsung pergi meninggalkan Daniel yang masih berdiri sambil tersenyum melihat punggung Sabila yang mulai menjauh.


''Bill tungguin dong.'' Daniel mengejar. Pria itu memaksa untuk ikut masuk ke apartemen Sabila dan lagi-lagi, pria itu malah merepotkan Sabila, dia meminta Sabila untuk membuatkan satu mangkok mie instan untuknya.


*****


''Kamu ngapain Vi?'' Pagi ini, Rayn agak kaget melihat Viona sedang memakai celemek. Wanitanya itu sedang berusaha memotong wortel.


''Mau masak soup buat kamu.''


''Masak soup?'' Rayn agak tidak yakin. Bahkan memotong wortel saja Vio terlihat tidak bisa. Wortel yang Vio potong sungguh sangat tidak beraturan, ada yang tebal, ada yang tipis, ada yang kecil, ada yang bulat penuh, ada yang bulat setengah dan bahkan ada yang bentuknya dadu.


Wajar bukan kalau Rayn agak ragu dengan hasilnya nanti.


Bersambung .....