Move On

Move On
Sebelas



"Aku putus sama Rendi" ucap Maya pada Dini dan Safira. Kedua sahabat Maya tampak kaget.


"Kok bisa?" Safira heran, Maya dan Rendi terlihat lengket dan mesra selama ini. Ia kira kisah Maya dan kekasihnya akan berakhir di pelaminan.


"Rendi selingkuh?" Dini ikut bertanya.


"Enggak ada orang ketiga kok, aku sama Rendi uda bosan aja. Lagian hubungan kita berdua tu nggak ada masa depannya, 2 tahun pacaran keluarganya masih aja nggak suka sama aku" Ucap Maya santai, tak ada gurat kesedihan di wajah itu.


"Kalian 2 tahun bersama dan kamu enteng banget bilang putus May? kamu nggak sedih?" Safira benar-benar rak habis fikir.


"Sedih sih ada, tapi nggak lebih besar dari rasa lega. Uda bosan banget Fir, 2 tahun sama orang yang sama mungkin ini tu emang yang terbaik" ucap Maya yang semakin membuat Safira kebingungan.


"Dalam hubungan kalo uda bosan pilihannya cuma udahan ya?" Dini terkekeh mendengar gumaman Safira.


"Maya aja yang kayak gitu Fir, buktinya aku sama Romi uda lama tetap sama-sama. Malah hubungan kami makin erat dan makin nggak bisa tanpa satu sama lain. Kalo pun lagi bosan nggak terlintas buat udahan, kita selalu cari cara gimana supaya hubungan kita fresh lagi. Kalo ngerasa bosan langsung udahan nggak akan ada habisnya dong Fir, iya kalo masih pacaran masih wajar aja gonta ganti tapi kalo uda nikah masa mau kawin cerai gara-gara bosan" balas Dini.


"Ya nggak nggak gitu juga Dini. Kalian sih enak Din, orang tuanya Romi setuju. Lah aku sama Rendi? kayak sia-sia aja, mending putus dari sekarang biar akunya bisa move on juga" timpal Maya.


Safira jadi berfikir, selama kedekatannya dengan Elbram yang sudah berjalan setahun lebih ini apa Elbram sempat bosan dengan nya? tapi hubungan mereka sejauh ini tetap sama, ia dan Elbram berada di dalam hubungan yang tak jelas.


Elbram tak pernah memintanya untuk menjadi pacar pria itu, tak pernah ada ungkapan cinta dari bibir Elbram. Namun mereka selalu meluangkan waktu untuk jalan berdua, komunikasi mereka juga tetap terjalin dengan baik, Elbram juga seringkali memperlakukannya dengan manis. Tapi sebagai seorang perempuan Safira tetap butuh kepastian hubungan mereka, namun ia tak berani menanyakan hal itu pada Elbram. Untuk saat ini ia hanya bisa pasrah mengikuti alur.


Safira sering mengeluh pada Dini dan Maya tentang hal itu, namun kedua sahabatnya itu terus meyakinkan Safira bahwa cinta nggak harus diucapkan, cukup dilihat dari tindakannya. Dini dan Maya menilai dari sikap dan tindakan nya selama ini sudah membuktikan bahwa Elbram mencintainya.


"Tapi seenggaknya status hubungan antara kamu sama Rendi nya jelas May, tinggal berjuang aja gimana caranya mendapatkan restu dari keluarganya Rendi. Lah aku? nggak ada kejelasan apapun, dibilang pacaran kok ya malu karena El nggak pernah nembak aku, dibilang temenan rasanya nggak rela. Aku tu jadi bingung harus bersikap gimana sama El, mau marah dia dekat sama cewek lain ngerasa nggak berhak tapi hati aku sakit. Akunya mau buka hati buat orang lain juga nggak bisa. Ah pokoknya nggak enak" keluh Safira.


"Kamu jangan permasalahin hal itu terus Fir. Kan kita uda sering jelasin ke kamu. Mungkin aja bang El uda anggap kamu pacarnya dia. Masa kamu nggak bisa ngerasain sih Fir kalo bang El tu juga cinta sama kamu. Kalian bukan anak remaja lagi yang harus ada acara tembak menembak sebelum memulai hubungan" Dini terlihat jengah pada Safira yang selalu mengeluhkan permasalahan yang sana.


"Tapi dia nggak ngasih kejelasan yang bikin aku yakin kalo dia emang seperti yang kamu omongin Din. Benar-benar nggak ada kejelasan apa-apa. Dia nggak pernah bilang cinta atau sayang ke aku, tapi El emang selalu perhatian banget sama aku, selalu ngelakuin hal-hal yang bikin aku bahagia, sering muji juga. Tapi tetap aja aku ragu karena dia nggak pernah membahas tentang kejelasan hubungan kita berdua" ucap Safira lagi.


"Ya kamu tanya aja sama abangnya Dini Fir. Dari pada kamu ragu-ragu terus kayak gini" usul Safira.


"Kamu bisa nggak Din tanyain ke El?" Safira menatap penuh harap pada Dini.


"Aku nggak berani Fir, aku nggak mau terlalu masuk dalam privasinya bang El." ucap Dini. Safira berusaha mengatur ekspresi wajahnya agar tak terlihat kecewa meski hati gadis itu merasakannya. Safira rasa menanyakan perasaan pada kakak sendiri sama sekali tak melanggar privasi, tapi Safira berusaha mengerti posisi sahabatnya itu.


"Udah dong bahas ini kan yang lagi patah hati aku kenapa jadi Safira yang curhat, kamu cukup yakinin diri aja kalau Elbram tu sayang dan cinta sama kamu Fir. Nggak usah ragu-ragu terus kayak gini, kamu cukup terus berusaha untuk melakukan yang terbaik buat dia. Siapa tau nanti setelah lulus abangnya Dini malah langsung melamar kamu. Sekarang kita senang-senang dulu yuk, biar patah hati aku teralihkan" Ucap Maya.


Safira hanya bisa berharap apa yang Maya katakan benar-benar terjadi. Safira akan menunggu hingga hari kelulusannya, jika Elbram tetap tak memberi kepastian Safira akan memberanikan diri mempertanyakannya pada pria itu.


"Tapi aku sama Safira mau cari bahan buat skripsi aku May, besok aja kalo mau have fun ya?" tolak Dini.


"Ih nggak asik banget, temannya lagi patah hati malah kalian cuma mentingin diri sendiri" Maya memanyunkan bibirnya.


"Alah sok patah hati, muka kamu aja nggak ada sedih-sedih nya gitu"Dini melempar Maya dengan gulungan kertas.


"Skripsi kamu uda dikerjain belum perbaikannya? kalo belum mending kamu ikut kita aja, abis itu baru deh kita makan-makan" usul Safira. Sementara skripsi Safira memang sudah selesai dan tinggal menunggu sidang, ia sering membantu dua sahabatnya itu untuk mengisi waktu luangnya.


"Tapi fikiran aku lagi nggak di sana Fir. Malas banget, maunya santai aja dulu"


"Semangat dong May, biar kita bisa wisuda bareng dan bisa dapat kerjaan secepatnya. Katanya mau liburan ke luar negeri"


"Biarin aja Fir, kita tinggalin aja dia sendirian jadi mahasiswa abadi. Jangan iri ya May nanti kalo aku sama Safira uda plesiran ke luar negeri kamu nya masih sibuk urus skripsi" Ejek Dini sambil tertawa.


"Ih jahat banget, nggak setia kawan" Sungut Maya. Dini malah menjulurkan lidahnya yang membuat Maya semakin kesal.


🍁🍁🍁


Sabar ya, sengaja dibikin agak panjang flashback nya supaya bisa jelas menggambarkan perasaan Safira dan juga bisa tau kenapa Safira bisa sekecewa itu. Kalo emang kepanjangan dan bosan nggak apa-apa diskip aja πŸ˜‰


Mood author lagi rada berantakan, kalo kemaren2 di novel yang lainnya tetap dipaksain nulis gimana pun keadaan nya nggak tau kenapa sekarang bawaan nya kalo lagi nggak mood jangankan buat maksa nulis, aplikasi nya aja nggak author buka sama sekaliπŸ˜€πŸ˜‚ Jadi harap maklum ya kalo lama, tingkyu utk readers yang selalu sabar dan mengerti author 😍❀️πŸ₯°