
Elbram tau rasa sakit di hati Safira sulit sekali untuk diobati mengingat betapa dalam luka yang ia hujamkan.
Tapi El tak akan pernah menyerah, dia adalah penyebab kesakitan istrinya maka ia juga yang akan menjadi obat dan menyembuhkan luka serta segala kesakitan Safira.
"Sarapan uda siap sayang, kita sarapan sekarang yuk" ucap Elbram saat Safira keluar dari kamar mandi. Tak ada lagi jejak air mata yang sebelumnya tumpah di wajah Safira. Gadis itu terlihat segar sehabis mandi pagi menebarkan aroma wangi yang begitu Elbram sukai.
"El, bisa nggak panggil nama aja? aku geli denger panggilan itu" Ucap Safira sambil menggosok rambutnya yang basah menggunakan handuk. Tak lupa ekspresi kesal ia tampakkan pada suaminya.
"Nggak bisa, kamu istri aku jadi sudah seharusnya aku memanggil kamu seperti itu" Ucap Elbram santai, sikap pria itu memancing Safira untuk mengumpati nya di dalam hati tanpa henti. Jika 5 tahun yang lalu semua yang Elbram lakukan dan ucapkan selalu membuatnya berbunga-bunga berbeda untuk sekarang yang terasa sebaliknya.
"Siapa yang mengharuskan? nggak ada kan?" Safira semakin kesal pada suaminya.
"Aku yang mengharuskan, aku nggak akan maksa kamu untuk melakukan hal serupa tapi setidaknya jangan larang aku untuk menunjukkan rasa sayang ku padamu lewat panggilan itu" Safira terbelalak dengan senyum sinis nya.
"Sayang? nggak salah?" Safira menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Oh iya sayang sebagai adik yah? sorry aku sempat baper loh barusan" Lanjut Safira sambil terkekeh.
"Bukan sebagai adik, tapi rasa sayang sebagai seorang suami pada istrinya" Timpal Elbram dengan tatapan dalamnya. Safira terdiam sejenak, gadis itu membalas tatapan Elbram lalu tersenyum lagi.
"Aku nggak percaya, lebih tepatnya aku uda nggak bisa percaya sama kamu El" Elbram tersenyum pahit.
"Pelan-pelan sayang, aku akan bantu kamu mengembalikan rasa percaya itu lagi. Aku sabar menunggu tidak usah terburu-buru" ucap Elbram pasti.
"Tapi aku nggak yakin bisa mengembalikan kepercayaanku yang sudah terlanjur mati El. Luka yang kamu buat rasanya luar biasa sakit" Bisik gadis itu. Elbram terpaku, kebencian Safira menyala begitu terang.
"Kita bahas lagi nanti ya, sekarang sarapan dulu." Elbram memaksakan senyumnya setelah berulang kali menghela nafas dan menghembuskan nya. Seperti yang ia katakan pada Safira ia akan melakukannya dengan pelan, semua tak akan mudah untuk kembali seperti sebelumnya dan ia akan sabar menunggu, apa yang ia hadapi saat ini adalah buah dari kesalahannya di masa lalu yang harus ia pertanggung jawabkan sekarang.
"Aku masih ingin lanjut tidur" tolak gadis itu.
"Sarapan dulu baru lanjut tidur" Kali ini suara Elbram terdengar tegas dan tak ingin dibantah. Safira kesal pada dirinya yang langsung menciut tiap kali Elbram sudah bersikap tegas begini. Mungkin di alam bawah sadarnya telah tertanam sebuah pemahaman bahwa seorang istri sejatinya harus patuh pada suaminya
"Iya" Safira langsung berjalan keluar kamarnya, Elbram tersenyum tipis lalu mengikuti istrinya menuju meja makan.
"Mau jalan-jalan? cuti ku masih tersisa satu minggu ke depan." ucap Elbram membuka obrolan saat keduanya tengah menikmati sarapan.
"Enggak" Ucap Safira singkat, kalau saja suaminya bukan Elbram Safira pasti akan menerimanya dengan penuh semangat.
"Sebenarnya aku uda siapin tiket untuk bulan madu kita, sayang banget kalo misalnya harus hangus gitu aja" sebenarnya Elbram sudah menduga hal ini, namun ia tetap nekat menyiapkan rencana bulan madu meski resiko penolakan itu sangat besar.
"Tapi bulan madu itu hanya dilakukan oleh sepasang suami istri yang baru menikah sayang. Artinya perginya harus sama kamu dong. Kalo kamu bilang aku pintar merayu itu salah besar. Ini buktinya aku selalu gagal membujuk kamu" ucap Elbram.
"Karena aku sudah pernah masuk dalam perangkap kamu El, aku nggak mau kembali jatuh dalam pesona kamu yang akhirnya membuat hatiku patah dan melahirkan rasa sakit yang luar biasa" Safira menatap tajam Elbram.
"Tapi aku nggak pernah bersandiwara sayang, semua yang aku lakukan dulu, semua pujian dan perhatian yang kuberikan padamu benar-benar tulus" Elbram terlihat bersungguh-sungguh, sulit sekali menemukan kebohongan di mata itu.
"Tulus sebagai kakak pada adiknya kan? sayangnya kamu nggak memperjelas nya dulu sehingga aku salah mengartikan El. Harusnya kamu memberi status yang jelas sejak awal supaya aku nggak berharap terlalu jauh, aku juga nggak akan merasa patah hati yang parah" keluh Safira.
"Nggak sayang, aku menyayangimu bukan sebagai adik. Dulu aku salah menafsirkan perasaan ku. Saat kamu pergi aku baru menyadarinya. Maafin aku Safira" Elbram mengiba. Tapi Safira malah tertawa bahkan sampai mengeluarkan air mata.
"Alasan klise, aku sering banget loh dengar pembelaan yang kayak gini. Aku baru menyadari perasaan ku setelah kamu pergi. Drama banget!" cebik Safira. Untung saja sarapan di piring nya sudah habis, Safira segera menghabiskan susu miliknya lalu segera beranjak sebelum Elbram kembali mengeluarkan kata-kata yang akan membuatnya semakin muak.
"Sayang, kita belum selesai bicara" suara Elbram terdengar lemah dan putus asa.
"Uda selesai El, aku ingin melanjutkan tidurku. tolong Jangan ganggu aku dulu, pintu kamar aku kunci dari dalam" timpal Safira tanpa menoleh. Gadis itu memperlebar langkahnya, takut suaminya akan mengejarnya. Ia tak mau Elbram menggagalkan niatnya yang ingin menikmati kesendirian dengan mengurung diri di kamar seharian ini.
🍁🍁🍁
Satu bulan sudah berlalu, namun Safira masih bersikap dingin dan tak bersahabat pada Elbram meski pria itu terus bersikap baik padanya.
Safira sama sekali tak menjalankan tugasnya sebagai istri, namun Elbram sama sekali tak mempermasalahkan nya. Padahal Safira sengaja melakukan itu agar El tak nyaman pada pernikahan mereka dan segera menceraikannya.
Elbram malah menepati janjinya untuk selalu menyiapkan makan mereka berdua meski hanya masakan-masakan sederhana. Jika pria itu sibuk di kantor maka Elbram akan memesan makanan di luar. Untuk beres-beres rumah sesekali Safira melakukannya jika ia sedang bosan. Namun lebih banyak El yang melakukannya.
"Aku mau cari kerja" Ucap Safira. Ia mulai bosan hanya berdiam diri tak ada kegiatan apapun. Safira bahkan bisa menghabiskan waktu seharian di atas tempat tidur sambil bermain ponsel.
"Apa uang dariku kurang untuk memenuhi kebutuhan kamu?" Safira bahkan tidak tau berapa nominal uang nafkah yang El berikan padanya apalagi menggunakan nya. Safira memang menyimpan atm yang El berikan tapi belum sekalipun ia memakainya. Untuk apa? lagipula kebutuhan sehari-harinya sudah dipenuhi oleh pria itu.
"Aku bosan nggak ada kegiatan, selama lima tahun ini aku selalu sibuk bekerja. Lalu sekarang aku hanya berdiam diri di rumah rasanya menyesakkan" gerutu Safira.
"Bisa nggak cari kegiatan lain aja nggak usah kerja? aku nggak mau kamu kelelahan jika harus bekerja di luar" Safira menatap bingung pada Elbram.
"Mengurus bayi kita misalnya?" Elbram tersenyum miring melihat Safira memelototinya.
"Jangan bermimpi El!"
🍁🍁🍁