
"Makasih uda datang sayang" Mama mertua Safira menyambut kedatangan gadis itu dengan ramah. Hari ini sang mama mertua mengadakan makan malam keluarga untuk merayakan ulang tahunnya. Safira bersedia datang semata hanya karena persahabatannya dengan Dini yang membuat nya juga cukup dekat dengan mama Sofia bukan karena memandang dari segi pernikahannya dengan Elbram.
"Iya, selamat ulang tahun ma" Safira menyodorkan sebuah kado untuk mama mertua nya.
"Duh sayang nggak usah repot-repot. Kalian datang aja uda bikin hati mama bahagia. Tapi makasih banyak ya sayang untuk kadonya" Mama Sofia menerima kado dari menantunya dengan wajah berbinar.
"Safira menantu yang sangat baik kan ma, Elbram tak salah memilih istri, El benar-benar beruntung memiliki istri yang tak hanya cantik namun juga begitu baik" Puji Elbram sambil merangkul tubuh Safira. Pria itu bahkan tanpa malu mengecup pipi Safira.
Safira menoleh dan menatap tajam pada Elbram yang sengaja mencuri kesempatan untuk menyentuh dan menciumnya. Pria itu tak terlihat takut sama sekali, El malah tersenyum dan menaik turunkan alisnya.
"Brengs*k!" Bisik Safira di telinga Elbram. Elbram malah kembali mendaratkan kecupan di pipi Safira, gadis itu meradang pada sikap suaminya yang menyebalkan.
"Aduh mesranya" Mama dan papa mertua Safira juga Dini dan suaminya ikut tertawa bahagia melihat kemesraan yang terlihat dari El dan Safira.
"Jadi gimana sudah ada kabar baik belum?" Tanya mama Sofia saat mereka sedang menikmati makan malam.
"Kabar baik maksdunya ma?" tak hanya Safira yang bingung, El juga tampaknya tak bisa menebak arah ucapan mama nya.
"Safira uda isi belum" Timpal mama Sofia lagi.
"Maksudnya Safira uda telat datang bulan belum atau kalo mau lebih jelas lagi Safira uda hamil belum? Kan kalian uda menikah satu bulanan" Dini ikut meluruskan ketika melihat wajah bingung Elbram dan Safira.
Safira menatap pada Elbram dengan wajahnya yang memerah. Elbram mengangguk dan tersenyum pada istrinya untuk menenangkan Safira. Sepertinya Elbram paham bahwa pertanyaan sang mama membuat Safira tak nyaman.
"Belum ma, doain aja semoga bulan depan ada kabar baik" Ucap Elbram.
"Iya nggak apa-apa. Kalian juga menikahnya belum lama jadi wajar kalau memang belum" Untunglah mama Sofia cukup bijak menanggapi hingga tak membuat Safira merasa terbebani.
"Iya ma, kita akan terus berusaha agar cucu mama dari pihak El dan Safira segera hadir. Iya kan sayang?" Ucap Elbram seraya mengusap rambut istrinya.
Safira yang tak menduga ucapan Elbram menatap cepat dan memelototi pria itu.
"Kita nggak akan putus asa untuk segera menghadirkan bayi kita kan sayang" ulang Elbram.
"I-iya" jawab Safira terbata. Gadis itu memasang senyum dan tatapan yang mengerikan pada Elbram yang terlihat begitu puas.
"Walaupun sempat merasa sedih dan lelah tapi kami tetap berusaha untuk konsultasi ke dokter. Berusaha secara mandiri juga tak pernah berhenti" suami Dini menambahkan sambil tersenyum.
Safira hanya mengangguk, ia benar-benar merasa tak nyaman pada pembahasan ini dan berharap obrolan seputar kehamilan segera berakhir. Ia tak mau El menggunakan keadaan ini untuk mengambil kesempatan untuk menunjukkan seolah pernikahan mereka harmonis seperti pernikahan normal pada umumnya.
🍁🍁🍁
"Maya apa kabar Din" rasa penasaran yang sebelumnya terus berusaha Safira tekan tak lagi mampu ia tahan lebih lama. Ia ingin tahu apa kabar Maya setelah kepergiannya lebih utama ia ingin tahu lebih jauh mengenai hubungan Maya dan Elbram.
"Maya baik-baik aja Fir, aku uda lama juga nggak komunikasi sama dia" Ucap Dini. Sama seperti beberapa waktu lalu Dini terlihat enggan membahas Maya.
"Kenapa?" tanya Safira. Kepalang tanggung lebih baik ia menanyakan semuanya hingga ke akar.
"Nggak tau, sejak kejadian 5 tahun yang lalu hubungan kami berdua ikut berjarak. Kita ngerasa kalo kita uda berbeda arah, uda nggak satu frekuensi lagi. Apalagi setelah kamu menghilang, aku dan Maya lebih banyak berdebat dan saling menyalahkan." ucap Dini seraya menghela nafas berat.
"Dulu saat tau Maya dan bang El mulai dekat aku uda memperingatkan Maya berulang kali, memintanya untuk jujur ke kamu. Tapi Maya menolak dengan alasan nggak mau nyakitin hati kamu, aku juga uda sering minta sama bang El, tapi dia bilang nggak mau kehilangan kamu kalau jujur tentang hubungannya dengan Maya. Salahnya aku memilih masa bodoh dan tak ikut campur lebih jauh waktu itu." mendengar penjelasan Dini, Safira malah ingin tertawa. Betapa maruknya Elbram saat itu, memiliki hubungan dengan Maya namun juga tak ingin kehilangan dirinya. Memang nya siapa dia?
"Terus Maya sama El gimana? aku kaget banget saat tau ternyata pria yang dijodohin sama aku itu ternyata Elbram. Jujur aku mau nolak andai tau lebih awal. Sayangnya aku baru tau di malam pertemuan itu. Aku uda nggak bisa mundur lagi" ucap Safira.
"Aku juga nggak tau apa yang terjadi sama mereka, kamu tau sendiri dari dulu aku nggak berani ikut campur kehidupan bang El. Tapi kayaknya mereka juga nggak lama kok. Bisa dibilang persahabatan kita, hubungan kamu dan bang El juga hubungan Maya dan bang El hancur secara bersamaan" Safira terpaku, entah mengapa begitu sulit mempercayai ucapan Dini, tapi tak ada kebohongan di wajah sahabatnya tersebut.
"Kok bisa ya Din?" tanya Safira bingung.
"Mungkin karma langsung menghampiri detik itu juga Fir" Dini tertawa getir.
"Perjodohan itu?" tanya Safira kemudian.
"Aku juga nggak tau gimana prosesnya Fir. Aku baru tau semuanya satu bulan menjelang pertemuan keluarga waktu itu. Aku beneran nggak tau apapun tentang bang El kecuali dia cerita sendiri Fir. Aku ngerasa segan sama abang aku kalo mau nanya-nanya karena emang jarak umur kita nggak terlalu dekat" Jawab Dini.
Awalnya Safira mengira Dini berbohong mengatakan tak berani ikut campur kehidupan pribadi Elbram. Namun saat Dini begitu konsisten tak mengetahui apapun tentang kakaknya tersebut Safira perlahan yakin bahwa Dini memang tak berani ikut campur terlalu jauh kehidupan abangnya. Sejauh ini Dini juga tak pernah bertanya apapun tentang kehidupan pernikahan nya dengan Elbram membuat Safira semakin yakin pada ucapan Dini.
"Fir, aku nggak tau gimana pernikahan kamu sama bang El. Aku juga nggak akan nanya kalo kamu emang nggak mau cerita. Tapi aku harap kamu dan bang El bahagia, aku tau kesalahan bang El ke kamu sangat besar. Mungkin saat ini kamu masih marah dan kecewa sama abang aku, tapi mudah-mudahan suatu saat kamu bisa maafin dan menerima bang El"
🍁🍁🍁