
Safira merasakan hembusan nafas El yang teratur, pertanda pria itu telah jatuh dalam lelap. Safira menghela nafas lega, rasa gugup yang sempat mendera nya perlahan menguap. Safira melirik jam di dinding, ternyata hampir satu jam ia berpura-pura tidur untuk menutupi kegugupannya.
Dengan sangat hati-hati Safira mengubah posisinya menghadap pada suaminya, Safira tersenyum melihat mata El yang terpejam. Ia kembali merasa lega karena pria itu benar-benar sudah tidur.
Meski awalnya ia terpaksa untuk tidur di ranjang karena paksaan El namun saat ini Safira tak berniat untuk pindah ke sofa. Ia malah memperhatikan wajah tenang Elbram. Gadis itu meneliti lekukan di wajah suaminya, tak ada yang berubah sejak lima tahun yang lalu. El masih terlihat sangat tampan, malah bisa dibilang semakin tampan seiring usia matang nya.
"Kamu masih sangat tampan seperti dulu El" bisik Safira sambil tersenyum, gadis itu mengusap pipi suaminya dengan sangat pelan agar tak mengganggu tidur Elbram. Wajah Safira merona atas apa yang baru saja ia lakukan, ia pasti akan merasa sangat malu andai El menangkap basah dirinya. Safira semakin dalam memandangi wajah pria itu. Gadis itu menyadari telah begitu lama ia tak memandangi wajah itu, sebelumnya ia selalu menghindar untuk menatap wajah Elbram karena rasa benci yang bersarang.
Suasana malam begitu hening, seiring tatapan nya yang tak beranjak dari wajah Elbram, Safira memikirkan kembali kata-kata yang El ucapkan. Banyak tanya yang memenuhi benaknya. Benarkah El mencintainya? apa pria itu benar-benar serius ingin menjalani pernikahan mereka? apa El tak akan menyakitinya lagi? apakah keputusannya memberikan kesempatan pada pernikahan mereka nantinya adalah keputusan yang tepat? dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang menuntut jawaban namun tak berani Safira utarakan pada pria itu. Mungkin belum saatnya mengingat kondisi suaminya yang belum sepenuhnya pulih.
"Apa aku harus percaya pada cintamu El? aku takut kamu akan kembali menyakiti ku" ucap Safira begitu lirih, namun akan sangat jelas terdengar di telinga Elbram jika pria itu dalam keadaan sadar.
"Aku harus gimana supaya kamu percaya kalo aku benar-benar cinta sama kamu Safira?" Safira membulatkan matanya, gadis itu terlonjak kaget kala Elbram membuka mata dan menatap sendu padanya. Untung ia tak mendorong tubuh Elbram kalau tidak sudah dipastikan pria itu akan terjatuh ke lantai.
"E-El kamu kenapa belum tidur?" Ucapnya terbata. Kilasan apa yang ia lakukan beberapa saat yang lalu membuat Safira ingin menenggelamkan dirinya akibat rasa malu yang luar biasa. Safira tak menyangka suaminya hanya berpura-pura tidur. Safira ingin beranjak dari ranjang, mungkin bersembunyi di kamar mandi hingga pagi adalah pilihan yang tepat. Namun El malah mengeratkan pelukannya bahkan kini wajah keduanya begitu dekat. Safira merasakan wajahnya seakan terbakar, rasa malu dan gugup bercampur menjadi satu.
"Katakan sayang, aku harus melakukan apa supaya kamu percaya kalo aku benar-benar mencintai kamu?" El tak merespon pertanyaan Safira, pria itu kembali mempertanyakan mengenai keraguan istrinya.
Safira mengalihkan pandangannya ke sembarang arah agar tak bertemu tatap dengan Elbram, ia tak sanggup.
"A-aku nggak tau, lebih baik sekarang tidur. Nggak usah dibahas dulu" Ucap Safira masih begitu gugup.
"Kita harus membahasnya sekarang sayang, aku nggak mau permasalahan ini berlarut-larut nantinya yang akan membuat kamu pergi lagi dari aku. Kita sudah berjarak selama bertahun-tahun, aku sudah tersiksa begitu lama menanti waktu yang tepat untuk membawa kamu kembali ke sisi ku sayang. Aku nggak bisa bayangin akan seperti apa hidup ku jika aku harus kehilangan kamu lagi" Ucap Elbram. Safira memberanikan diri menatap pada suaminya. Ketulusan yang Elbram tunjukkan membuat hatinya bergetar.
"El, aku memang belum bisa sepenuhnya yakin sama perasaan kamu. Begitupun aku yang belum sepenuhnya mengerti bagaimana perasaan aku ke kamu saat ini. Tapi aku bisa memastikan satu hal ke kamu, aku bersedia memberikan kesempatan padamu. Aku menerima permintaan kamu untuk memulai semuanya dari awal. Bantu aku menemukan kembali perasaanku pada mu, bantu aku untuk mengembalikan kepercayaan ku lagi El" ucapan Safira bagaikan oase yang mampu menyegarkan kembali harapan Elbram yang sempat layu. Ia merasa tak sia-sia kembali dengan selamat.
"Aku nggak salah dengar kan sayang? kamu nggak akan meminta pergi dari aku lagi?" tanya Elbram dengan tatapan takjub.
"Iya El aku bersedia merangkai kembali kisah kita dari awal" ucap Safira. Elbram sangat bahagia, pria itu menarik tubuh Safira agar semakin dekat padanya. Ia memeluk erat tubuh gadis itu dengan penuh rasa syukur.
"El kamu?" Safira mengangkat tangannya, berniat menghapus buliran yang tiba-tiba jatuh di mata pria itu. Melihat Elbram menangis menerbitkan rasa berbeda di hatinya.
Sebelum tangan Safira menyentuh air matanya, Elbram telah lebih dulu menangkap tangan sang istri lalu menciuminya.
"Maaf aku terlalu bahagia hingga tak bisa menahan air mataku Safira. Kamu pasti berfikir aku ini pria yang cengeng kan?" Ucap pria itu sambil terkekeh.
"Enggak, aku malah terharu" ucap Safira sembari tersenyum tipis. Ia seakan mampu menangkap kesungguhan dan cinta yang besar dari Elbram untuk nya.
"Benarkah?" Safira mengangguk. Elbram memeluk Safira kembali, dan kali ini Safira membalas pelukan pria itu.
"Kamu tau sayang saat tersesat di hutan kemarin, dua pemikiran yang sama kuat nya bergantian mengusikku. Antara mati atau berjuang untuk hidup. Keduanya memiliki alasan yang sama" El menatap pada Safira yang juga menatap heran padanya.
"Apa?" tanya Safira lembut.
"Kamu" jawab Elbram yang membuat kening Safira berkerut.
"Aku berharap mati di sana saat membayangkan kamu tetap pada keputusan mu untuk berpisah, dengan begitu aku nggak perlu merasakan sakitnya saat melihat kamu pergi dari aku. Namun rasa cintaku padamu melecut semangat ku untuk tetap hidup agar aku bisa memperjuangkan kamu lebih kuat lagi" apa yang Elbram katakan begitu menusuk di hati Safira hingga tanpa sadar gadis itu meneteskan air mata.
"Apa cintamu padaku sebesar itu El?" Ucapnya. Safira masih terlalu takut untuk mempercayai meski perlahan ia mulai menumbuhkan harapan di hatinya.
"Aku akan terus berusaha agar kamu bisa merasakan besarnya cintaku sayang. Aku meminta kesempatan dari mu untuk membuktikan kesungguhan ku" Bisik Elbram.
Safira mengangguk, ia hanya berharap El memanfaatkan kesempatan yang ia berikan. Semoga El benar-benar membuktikan ucapannya dan tak membuatnya kecewa. Safira merasa hatinya tak akan kuat untuk kembali merasakan sakit dan kecewa seperti lima tahun yang lalu.
🍁🍁🍁