
"Sepertinya mama sengaja ingin menghukum dengan cara menyiksaku seperti itu, tiap kali aku ingin melanggar kesepakatan dengan mama dan menampakkan diri di depan kamu mama seolah tau, mama langsung mengirimkan pesan atau menelfon untuk mengingatkan ku agar tetap patuh pada aturan yang sudah ia buat." ucap Elbram tersenyum getir.
"Kamu lemah banget, harusnya kamu langsung temui aku diam-diam. Mama nggak mungkin tau kan?" cebik Safira sinis, namun di dalam hati Safira mencoba memahami bahwa Elbram melakukannya untuk menjaga komitmennya dengan mama Sandra.
"Kamu yakin mama nggak akan tau? saat aku nekat menemui kamu, aku yakin kamu akan langsung bertanya pada mama Safira" diam-diam Safira membenarkan apa yang Elbram katakan.
"Aku memang lemah, itu karena ancaman mama sangat mengerikan buat aku sayang. Mama bilang kalaupun nanti aku berhasil mendapatkan maaf dari kamu dan kamu bersedia untuk menjadi istriku, mama nggak akan pernah kasih restu buat kita" Ucap Elbram dengan tatapan mengiba.
"Posisiku sangat sulit saat itu, mama benar-benar ingin menghukum ku. Selain aku nggak boleh menemui kamu sampai waktu yang mama tentukan, aku juga diminta menunggu tanpa kepastian Safira. Mama bilang jika dalam waktu yang dia tentukan kamu masih belum menemukan laki-laki yang akan menjadi pendamping kamu maka mama akan memberikan kesempatan buat aku memperjuangkan kamu. Tapi kalau kamu sudah menemukan laki-laki itu maka aku harus mundur, bayangkan betapa menyedihkan posisi aku saat itu Safira. Tapi aku nggak punya pilihan, aku terpaksa menyetujui semua syarat yang mama ajukan asal aku bisa tau keberadaan kamu. Karena semua usaha yang aku lakukan untuk menemukan mu nggak membuahkan hasil sama sekali" awalnya Safira merasa kesal pada mama nya, namun mendengar cerita Elbram Safira merasa sangat puas karena sang mama sudah mewakili dirinya menyiksa pria ini.
"Nggak tanggung-tanggung, ternyata butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan kepastian itu. Aku dihantui ketakutan setiap detiknya, takut jika ada pria yang mendekati dan merebut hati kamu. Bayangkan betapa menyedihkannya ketika aku dipaksa mengalah tanpa sempat berjuang sedikitpun" Kembali terlihat tatapan penuh luka di mata itu.
"Kenapa nggak nyerah terus cari perempuan lain? pasti banyak sekali perempuan-perempuan di luar sana yang menyukai kamu, Maya misalnya." entah mengapa terbesit rasa takut andai El benar-benar menyerah waktu itu. Ada rasa tak rela jika El berbelok arah menuju perempuan lain dan berhenti memperjuangkannya.
"Karena aku mencintai kamu. Aku hanya menginginkan kamu sayang, bukan perempuan lain." ucap Elbram penuh kesungguhan.
"Aku juga ingin membuktikan pada mama bahwa aku benar-benar menyesal sudah menyakiti kamu dan ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin mama tau bahwa aku adalah laki-laki yang tepat untuk kamu. Saat mama mengatakan waktu yang ia tentukan sudah berakhir aku nggak mau buang-buang waktu lebih lama. Aku memutuskan untuk langsung melamar kamu meski tanpa persetujuan kamu lebih dulu, aku ingin memperjuangkan hati kamu saat kamu telah sah menjadi milikku. Untunglah mama Sandra tidak mempersulit keinginan ku lagi, mama mendukung semua rencana aku dengan baik" Elbram mengakhiri ceritanya dan menatap pada Safira yang terlihat lebih santai, ekspresinya tak seperti sebelumnya.
"Maafin aku Safira. Aku memang pengecut dan pecundang. Aku sebenar nya ingin sekali memperjuangkan kamu dengan cara gentle, merebut maaf mu secara langsung tanpa harus mengulur waktu begitu lama. Tapi perjuangan yang mama pilihkan buat aku hanya menunggu Safira, aku nggak bisa menolak dan meminta yang lainnya karena cuma itu pilihan yang tersedia" Kali ini ada getaran berbeda mengaliri hati Safira, semua rasa marah yang mendiami hatinya seolah sirna. Kali ini Safira merasa yakin seratus persen dan tak sedikitpun menyesali keputusannya untuk memberikan kesempatan pada suaminya.
"Makasih uda berjuang buat aku El" ucap Safira malu-malu. El sudah menunggu nya dalam waktu yang lama, perjuangan nya menunggu tanpa kepastian bukanlah perjuangan yang ringan. Kini Safira merasa tembok yang ia bangun untuk menciptakan jarak pada El sepenuhnya runtuh, tak ada ketakutan di hatinya untuk mulai mencintai pria itu lagi. Yah Safira merasa ini saat nya untuk membuka hati secara utuh dan belajar mencintai Elbram yang telah sah menjadi suaminya tanpa keraguan.
"Kamu mau maafin aku?" Tanya El dengan tatapan tak percaya namun menunjukkan binar penuh harap.
"Iya aku maafin kamu El" Safira tersenyum tulus untuk meyakinkan suaminya bahwa ia benar-benar memaafkan pria itu.
"Ah terimakasih sayang" Elbram menarik tubuh Safira ke dalam dekapannya. Sebelumnya ia merasa begitu ketakutan, ia takut Safira tak bisa menerima penjelasan darinya dan memutuskan untuk pergi darinya. Ia tak yakin akan bisa mendapatkan Safira lagi jika kali ini gadis itu kembali pergi. El merasa kehancuran nya sudah di depan mata, namun ternyata semesta masih berpihak. Safira berbesar hati menerima semua penjelasannya.
Safira merasa wajahnya merona dan senyum tak bisa ia tahan ketika ia merasakan Elbram menciumi puncak kepala nya berkali-kali. Safira kini mampu merasakan cinta yang Elbram miliki untuk nya yang selama ini selalu ia ragukan kesungguhannya.
"Aku mencintai mu Safira, sangat mencintaimu. Jangan pernah berniat untuk pergi dari aku sayang" Bisik Elbram yang semakin membuat hati Safira menghangat.
Elbram meraih wajah Safira dan menatap ke dalam mata jernih istrinya.
"Berjanjilah untuk selalu berada di sisiku Safira" ucap pria itu penuh pengharapan.
"Aku janji akan selalu berada di samping kamu dan nggak akan pernah ninggalin kamu El, selagi hati kamu hanya buat aku dan nggak ada wanita lain dalam pernikahan kita" ucap Safira. Senyum bahagia tampak di bibir pria itu.
"Tentu saja, aku bersumpah tak akan ada wanita lain di hati aku selain kamu sayang" El sudah tau betapa sakitnya kehilangan Safira karena kebodohannya, ia tak ingin merasakan sakit itu untuk kedua kalinya.
"Terus Dini dan mama Sofia?" Goda Safira sambil menahan tawa.
"Mereka berada di tempat yang berbeda sayang" Ucap Elbram sambil mencium pipi Safira dengan gemas. Safira berteriak dan berusaha melepaskan diri saat El tiba-tiba menggigit pipinya.
"Sakit El" Safira mencebik dan mengusap pipi nya yang basah.
"Salah siapa terlalu menggemaskan" balas Elbram terkekeh.
"Aku laporin polisi ya. Ini uda kekerasan dalam rumah tangga tau" Sungut Safira yang semakin membuat Elbram gemas.
"Aduh kenapa sih istri aku ini semakin hari semakin menggemaskan" Elbram menarik dan memeluk istrinya dengan erat, pria itu tak peduli teriakan Safira yang meminta untuk dilepaskan.
🍁🍁🍁