
"Din kalo seandainya kamu laki-laki kira-kira tertarik nggak sama aku?" Tanya Safira tiba-tiba saat ia dan Dini tengah merangkai bunga pesanan dari customer.
"Hah? apa Fir?" Tanya Dini, ia takut salah mendengar.
"Aku menarik nggak sih menurut kamu?" Lanjut Safira tanpa menatap pada sanga adik ipar.
"Kamu kenapa tiba-tiba nanya kayak gini sih? aneh banget" Dini menatap heran pada Safira.
"Aku lagi ngerasa nggak percaya diri Din, karena sampai sekarang El kayak nggak berminat buat nyentuh aku. Apa karena aku nggak menarik ya?" ucap Safira ragu-ragu.
Sudah 2 minggu semenjak pengakuan El tentang apa yang terjadi selama 5 tahun yang lalu, pria itu belum menunjukkan tanda-tanda akan menyentuhnya padahal Safira sudah berniat memberikan apa yang sudah menjadi hak dari suaminya tersebut.
"Hah? bang El belum nyentuh kamu padahal kalian udah menikah selama hampir 7 bulan nggak sih kalo nggak salah?" tanya Dini terlihat syok.
"Ehm nggak gitu Din sebenar nya" Safira lupa bahwa Dini tak tau secara jelas kehidupan rumah tangga nya dengan Elbram. Namun karena sudah terlanjur akhirnya Safira menceritakan semua pada Dini, tanpa merasa khawatir akan bocor karena Safira tau Dini sangat bisa dipercaya. Ia bukan tipe orang yang akan menceritakan rahasia orang lain.
Lagi pula dengan menceritakan semuanya secara jelas akan lebih mudah bagi Dini memberikan nya solusi dari permasalahan tersebut.
Sepanjang Safira bercerita Dini beberapa kali tak bisa menyembunyikan keterkejutan nya. Ia tau hubungan Safira dan Elbram belum terlalu baik saat mereka menikah, namun Dini tak menyangka bahwa hubungan mereka selama ini seburuk itu.
"Jadi gimana menurut kamu Din?" tanya Safira setelah ceritanya berakhir. Sebenarnya Safira merasa malu menceritakan hal ini pada Dini, apalagi harus membuka keresahan hatinya karena El yang tak kunjung menyentuhnya, seolah dirinya begitu haus akan belaian.
Namun Safira tak bisa menahan nya sendiri lebih lama lagi, ia butuh seseorang untuk tempat berbagi. Sementara untuk bertanya pada Elbram secara langsung jelas Safira tak memiliki cukup nyali.
"Kalo dari cerita kamu sih menurut aku bang El bukan nggak tertarik sama kamu, bang El hanya belum berani karena takut kamu belum siap atau belum bersedia untuk melakukan hal itu Fir. Bang El sebenar nya udah menginginkan kamu sejak awal kan, tapi karena kamu sempat menolak bang El jadi lebih hati-hati. Kayaknya bang El nunggu kamu minta ke dia deh Fir" ucap Dini yang membuat Safira ternganga. Meminta pada Elbram? Safira sama sekali tak bisa membayangkannya. "Kamu uda bilang belum ke bang El kalo kamu uda siap untuk menjalankan peran kamu sebagai istri sepenuhnya?" Lanjut Dini, ia melihat Safira begitu fokus mendengarkan ia berbicara, menandakan bahwa Safira benar-benar membutuhkan masukan darinya.
"Aku uda bilang bersedia menjalani pernikahan ini dan memulai semuanya dari awal lagi Din, tapi kalo bilang siap untuk dia miliki seutuhnya sih belum, aku mana berani lah ngomong kayak gitu ke El" Safira meringis ngeri.
"Yah kalo emang nggak berani ngomong langsung minimal kamu kasih kode lah, dia pasti paham. Udah pernah kasih kode belum?" tanya Dini lagi.
"Kasih kode yang kayak gimana?" Safira tak pernah menolak saat El memeluk nya ketika tidur bahkan ia membalas pelukan pria itu. Apa itu belum cukup sebagai pertanda bahwa ia sudah siap untuk dimiliki?
"Misalnya pakai baju seksi saat malam hari" Safira menggeleng lemah. Dini menghela nafas dengan tatapan miris.
"Aku selalu pakai piyama panjang Din" Ucapnya sembari tersenyum salah tingkah.
"Haduh pantesan kalo gitu. Fir, kamu coba aja pakai baju seksi nanti malam, dijamin pasti berhasil" Ucap Dini bersemangat.
"Tapi aku nggak punya baju seksi Din" Balas Safira lesu. Ia benar-benar awam soal itu, ia sama sekali tak pernah mempersiapkan apapun.
"Abis ngerjain ini kita belanja ya" Dini tersenyum lebar. Sementara Safira mengangguk pasrah.
"Eh Fir, kamu ingat nggak ini tanggal berapa?" tanya Dini tiba-tiba. Safira ikut mengingat-ingat tanggal hari ini.
"Eh mau ngapain?" Tanya Dini saat Safira membuka ponselnya.
"Mau telfon El, mau ucapan selamat ulang tahun. Nanti kita sekalian cari kado buat El ya" Safira yang sudah membuka kontak suaminya menatap protes pada Dini yang tiba-tiba merebut ponselnya.
"Nggak usah, ngucapin nya ntar malam aja sekalian kasih kado istimewa nya" ucap Dini penuh arti. Wajah Safira memerah seketika saat memahami apa yang Dini maksud.
🍁🍁🍁
"Selamat ulang tahun" ucap Safira dengan senyum manis nya saat El membuka pintu apartemen. Safira memegang kue tart dengan lilin yang sudah ia nyalakan.
Elbram terpaku, pria itu menatap takjub pada sang istri dan kue di tangan nya. Ini terlalu indah hingga selama ini El tak pernah berani membayangkan nya.
"Tiup lilin nya El" ucap Safira karena Elbram masih tak bergerak dari posisinya. Pria itu terlalu hanyut pada rasa hangat yang mengaliri hatinya hingga tak tau harus bersikap seperti apa.
"I-iya" Elbram meniup lilin dengan kebahagiaan yang membuncah. Pria itu kemudian meraih kue di tangan Safira dan meletakkan di meja lalu dengan cepat meraih tubuh Safira dan memeluknya sangat erat.
"Terima kasih sayang, ini adalah ulang tahun terindah sepanjang hidup aku" bisik Elbram dengan suara bergetar karena rasa haru yang menyelimutinya.
"Terima kasih sudah hadir dalam hidup aku dan menjadi kado paling indah yang pernah aku miliki" lanjut El lagi, Safira merona dengan hati yang berbunga-bunga mendapatkan ungkapan manis dari suaminya.
"Aku punya kado buat kamu El" Ucap Safira sambil berusaha melepaskan diri. Namun tampaknya El masih enggan mengurai pelukannya, pria itu malah semakin erat mendekap tubuh mungil istrinya.
"Aku nggak butuh hadiah apapun sayang, keberadaan kamu di sisiku dan kesediaan kamu menjadi istriku sudah lebih dari cukup. Aku nggak butuh apa-apa lagi" ucap Elbram.
"Tapi aku uda siapin kado buat kamu, masa kamu nggak mau terima" ucap Safira manja.
"Baiklah sayang" Dengan berat hati Elbram melepaskan dekapannya. "Jadi mana hadiah nya?" tanya pria itu karena Safira hanya diam menatap malu-malu ke arahnya.
"Tutup mata kamu El" ucap Safira dengan wajahnya yang merona. Elbram mengernyit bingung namun menuruti apa yang Safira minta.
Tubuh Elbram meremang saat merasakan hembusan nafas Safira di wajahnya.
"Selamat ulang tahun suamiku" Bisik Safira sebelum kemudian gadis itu menyatukan bibirnya dengan bibir Elbram.
🍁🍁🍁
Semoga cepat lulus review. Ini uda aku up malam ya...
Aku tu agak ragu mau bikin part unboxing 😂
nggak ada adegan nyeleneh aja suka lama banget review nya. Jadi spill tipis-tipis dulu aja ya...