Move On

Move On
Empat Puluh Enam



Sekujur tubuh Safira memanas saat bibirnya dan Elbram saling menempel terlebih saat dengan cepat Elbram membuka matanya, terlihat sekali bahwa pria itu sangat terkejut dengan apa yang ia lakukan.


Safira bergerak untuk menjauhkan diri namun terlambat karena Elbram telah lebih dulu meraih tengkuknya sehingga bibir mereka tetap bertaut. Safira menahan nafas kala Elbram menggerakkan bibirnya menyesap dan menghisap bibirnya. Elbram meraih pinggang Safira dan merapatkan tubuh keduanya di sela pergumulan bibir mereka.


Safira menghirup udara sebanyak-banyak nya ketika El melepaskan bibir mereka di detik-detik terakhir Safira merasa tak mampu menahan nafas lebih lama lagi.


El meraih wajah Safira, menatap bibir sang istri yang terlihat memerah dan basah.


"Terima kasih atas hadiah yang sangat luar biasa" Bisik Elbram sambil mengusap bibir istrinya. Tatapan Elbram terlihat menyala, sepertinya apa yang Safira lakukan berhasil memancing hasrat pria itu.


Elbram kembali akan mencium Safira namun dengan cepat gadis itu menahan dada suaminya.


"Mandi dulu El, aku uda siapin makan malam spesial untuk kamu. Aku uda susah-susah masak untuk merayakan pertambahan usia kamu. Aku kecewa kalo sampai masakan aku nggak tersentuh" ucap Safira dengan detak jantung yang tak menentu. Ia benar-benar merasa gugup, namun untuk menghentikan rencana nya sudah kepalang tanggung.


"Ah baiklah sayang" Ucap Elbram sedikit kecewa. Pria itu mendaratkan kecupan singkat di kening Safira sebelum melepaskan rengkuhan tangan nya pada tubuh sang istri.


"Jangan lama-lama ya El, nanti makanan nya dingin" ucap Safira setengah berteriak saat El akan memasuki kamar mereka.


"Iya sayang" Balas Elbram sembari mengacungkan jempolnya.


Safira tersenyum setelah tubuh suaminya menghilang di balik pintu. Ia menutupi wajah dengan kedua tangannya kala mengingat dirinya yang begitu nekad mencium Elbram lebih dulu.


Safira mengusap dadanya untuk mengurai rasa gugup yang tak henti melanda. Setelah cukup tenang, gadis itu kembali menata masakan di atas meja. Safira memasak makanan untuk suaminya dengan penuh cinta Meski hanya masakan sederhana.


Rasanya baru sebentar El masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuhnya tapi sekarang pria itu telah keluar lagi dengan wajah nya yang terlihat berseri, rambut nya yang masih terlihat basah membuat El tampak segar.


"Kok cepat banget El?" Melihat wajah suaminya jantung Safira kembali berdetak dengan kencang, bahkan Safira tak sanggup bertemu tatap dengan pria itu. Ia merasa begitu gugup dan salah tingkah.


"Tadi kamu bilang aku harus cepat" Jawab Elbram yang terlihat begitu gagah dengan kaos santai berwarna abu-abu dan celana pendek berwarna hitam.


"Tapi kamu mandi kan?" Safira pura-pura sibuk agar El tak menyadari bahwa ia tengah merasa gugup saat ini.


"Iya mandi dong, sini kalo nggak percaya" El mendekat dan menangkap tubuh Safira. Pria itu lalu menarik sang istri ke dalam pelukannya. "Aku wangi kan?" tanya Elbram pada Safira.


"Iya kamu wangi, ayo sana duduk" Safira segera melepaskan diri, entah kenapa malam ini detak jantung nya terasa berbeda saat berdekatan dengan Elbram.


"Kamu masak nasi goreng sea food kesukaan aku ya?" Elbram tersenyum lebar ketika mendapati nasi goreng yang Safira masak.


"Iya, maaf ya aku cuma bisa masak itu" ucap Safira malu-malu.


"Nggak perlu minta maaf, aku malah bahagia banget sayang. Makasih ya uda mau menyiapkan ini semua, ini benar-benar akan menjadi ulang tahun yang tidak terlupakan seumur hidup aku" Elbram menatap dalam pada Safira yang kembali tersipu.


Hati Safira berdesir halus mendengar ungkapan suaminya, ia merasa begitu dihargai dengan sikap El yang tampak begitu bahagia dengan kejutan kecil darinya.


"Makan sekarang ya El" Safira mengambil posisi duduk di hadapan Elbram setelah menuangkan air putih ke dalam gelas suaminya.


"Maaf ya El kalo nggak enak" ucap Safira.


"Enak sayang, ini enak banget" Elbram mengacungkan jempolnya, pria itu kembali menyendok nasi di piring dan melahapnya dengan semangat.


Safira tersenyum melihat usaha Elbram untuk membuatnya merasa senang dengan memuji masakan yang terasa begitu biasa di lidah Safira.


Keduanya larut dalam obrolan sambil menikmati makan malam romantis pertama mereka. Meski hanya di apartemen tanpa dekorasi yang wah, namun begitu bermakna bagi keduanya.


"El setelah ini aku boleh minta tolong sama kamu nggak?" Tanya Safira.


"Boleh, mau apa? mau diambilin bintang?" Safira tersenyum masam mendengar ucapan jahil suaminya.


"Kayaknya aku lagi datang bulan, pembalut aku lagi habis. Beliin di super market bawah ya? keberatan nggak?" tanya gadis itu.


"Nggak lah sayang, masa gitu aja keberatan" Safira tersenyum lega. Dengan begini ia bisa melanjutkan rencana berikutnya.


🍁🍁🍁


Kening Elbram berkerut saat mendapati kamar nya dan Safira yang sudah gelap. Hanya ada cahaya yang berasal dari lampu tidur mereka yang menyala. Terdengar alunan musik yang begitu lembut memenuhi kamar mereka. Hal yang tak pernah Safira lakukan sepanjang pernikahan mereka.


Tampak Safira yang membalut tubuhnya dengan selimut bersandar di kepala ranjang namun tak menatap ke arahnya. El merasa aneh pada Safira yang tak seperti biasanya


"Sayang kenapa lampunya uda dimatiin, uda mau langsung tidur? nggak pakai ini dulu?" El menunjukkan kantong yang berisi pembalut pada istrinya.


Safira menatap ke arah Elbram, meski cahaya nya begitu temaram namun El dapat melihat wajah merona Safira yang sepertinya tengah menahan rasa malu.


"Kamu kenapa sayang?" El berjalan mendekat, rasa khawatir menyelimuti dirinya.


"Tetap di sana El, jangan bergerak" ucap Safira dengan suara bergetar. Hal itu semakin membuat Elbram kebingungan, namun pria itu menghentikan langkahnya sesuai permintaan Safira.


Gadis itu memalingkan wajahnya dan terlihat menghela nafas berulang kali seperti tengah menyiapkan diri untuk melakukan sebuah misi berbahaya, lalu beberapa waktu kemudian gadis itu beralih menatap ke arah Elbram. Kali ini tatapan mata Safira terlihat lembut meski rona merah di wajahnya masih belum hilang.


Detik berikutnya tubuh Elbram tampak menegang dengan bibirnya yang sedikit terbuka. Matanya tak lepas memandang ke arah Safira yang turun dari ranjang lalu perlahan melepas selimut di tubuhnya.


Elbram menahan nafasnya kala melihat tubuh istrinya dalam balutan lingerie berwarna hitam transparan yang justru semakin menampilkan lekuk indah tubuh Safira.


Safira melangkah dengan gemulai ke arah Elbram yang kini ikut memanas. Elbram tak bisa memungkiri bahwa istrinya terlihat begitu menggairahkan meski dengan gesture tubuh dan wajah yang terlihat kaku dan malu-malu.


Elbram ingin segera menangkap Safira dan melahap habis tubuh yang telah ia damba sekian lama itu. Namun El berusaha menahan diri, ia ingin melihat bagaimana usaha Safira untuk menggoda dirinya.


🍁🍁🍁


Semoga cepat lolos review 🙄🙄