
Safira yang akan segera pergi dari rumah Elbram menghentikan langkahnya saat mengingat sesuatu, ia masih membutuhkan satu kejelasan lagi.
Safira membelokkan langkahnya, ia berjalan menuju kamar Dini. Tanpa mengetuk ia membuka pintu kamar itu dan mendapati Dini yang tengah fokus pada ponselnya. Karena hatinya sedang kacau Safira tak menyadari wajah Dini yang terlihat seperti tengah memendam emosi dan kesedihan secara bersamaan.
"Safira?" Dini menatap heran pada Safira yang terlihat kusut.
"Mereka jahat sama aku Din" lirih Safira, air matanya yang sempat berhenti kini kembali menyeruak.
"Apa maksud kamu Fir?" Dini masih tak mengerti.
"Elbram dan Maya Din, mereka..." Safira tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Hatinya terasa begitu sakit, otaknya kesulitan mencerna semua yang ia alami.
Safira menatap pada Dini yang hanya diam dan menunduk.
"Ka-kamu tau Din?" Safira masih berusaha untuk berfikir positif. Dini tak mungkin ikut mengkhianatinya.
"Sejak kapan?" Tanya Safira lagi, diamnya Dini adalah jawabannya. Luar biasa, kepedihan hati Safira bertambah dua kali lipat dari sebelumnya. Jadi selama ini ia bodoh sendirian? Ia dipermainkan oleh dua sahabat nya sekaligus?
"Belum lama, mereka mulai dekat nggak lama setelah Maya putus sama Rendi, aku uda bilang sama Maya Fir. Tapi aku juga nggak bisa terlalu ikut campur dan melarang mereka" Ucap Dini.
"Kamu nggak harus larang mereka Din, kamu cukup bilang semuanya sama aku supaya aku bisa berhenti hidup dalam harapan yang Elbram ciptakan. Tapi kalian semua malah kompak mempermainkan aku, aku ini sahabat kamu bukan Din sebenarnya?" Safira menggelengkan kepalanya berulang kali, kekecewaan ini sangat sulit ia tepis.
"Ya udahlah ya Fir, uda kejadian ini. Masih banyak laki-laki di luar sana yang jauh lebih baik dari abang aku Fir. Lagian aku nggak bisa nyalahin bang El juga, mungkin dia butuh sosok yang dewasa seperti Maya. Please berhenti bersikap merepotkan seperti ini Fir, semua orang punya masalah bahkan lebih berat. Jangan bersikap seolah kamu paling menderita di sini" Safira terhenyak, ia tak menyangka kata-kata itu akan ia dengar dari mulut sahabatnya. Sahabat?
Tanpa berkata apapun lagi Safira pergi meninggalkan Dini.
Safira tak terlalu menyesalkan cintanya yang bertepuk sebelah tangan, sesakit apapun Safira namun atas nama cinta Maya dan Elbram tidak salah. Tetapi diamnya mereka adalah penyebab dari segala kesakitan nya yang parah. Ia tak terima dibodohi seperti ini. Apa susahnya untuk berkata jujur? mungkin sulit bagi Maya tapi Dini? tidakkah Dini memikirkan perasaan nya jika terus dibohongi? Safira berharap jika persahabatan mereka tidak bisa dijadikan alasan Dini untuk berkata jujur setidaknya Dini berempati padanya sebagai sesama manusia.
Baiklahh, semuanya sudah berubah mulai detik ini.
Flashback Off
🍁🍁🍁
Kepala Safira terasa sakit saat membuka mata di pagi hari, mungkin karena dirinya terlalu banyak menangis semalam.
Perasaan Safira berubah nelangsa mengingat sebentar lagi ia akan menikah. Ketukan di pintu membuat hati Safira semakin kelu, itu pasti sang mama yang memintanya bersiap.
"Ya ampun sayang, kok mata kamu bengkak? Duh masa pengantin mukanya bengap gini" Sang mama tampak panik. Safira tak peduli, ia berjalan ke ranjang dan kembali merebahkan tubuhnya. Sang mama keluar lagi dari kamar Safira tanpa mengatakan apapun lagi, belum sampai 5 menit sang mama telah kembali membawa baskom berisi air.
"Ayo kompres mata kamu, kamu kenapa sampai mata kamu bengkak gitu"
"Ma, batalin pernikahan ini ya? Safira nggak mau nikah sama El ma" Mama Safira terbelalak kaget
"Kamu ini bicara apa? jangan begitu nak. Pernikahan kalian akan dilangsungkan beberapa jam lagi. Apa kata orang kalau pernikahannya tiba-tiba batal?" Sang mama terlihat menyimpan kekesalan pada gadis itu.
"Mama lebih peduli pada kata orang ya dibanding perasaan Safira sendiri. El jahat sama Safira ma, Safira nggak mau nikah sama dia" ucap Safira lagi, mama Sandra menghela nafasnya. Wanita itu tampak berusaha meredam rasa kesal di hatinya.
"Bukan gitu sayang, kamu kan sejak awal sudah menerima perjodohan ini. Kenapa sekarang baru meminta untuk batal? nggak bisa gitu dong sayang." Mama Sandra menatap penuh harap pada Safira.
"Mama nggak tau apa yang terjadi sama kalian di masa lalu, yang mama tau kalian dulu begitu dekat dan kalian sangat cocok. Kalaupun ada kesalah pahaman di antara kalian selesaikan lah dengan dewasa sayang" lanjut sang mama.
Yah Safira tau ia tak bisa mundur lagi, atau ia akan mempermalukan orang tuanya. Jika sampai dirinya memilih lari sama saja ia tengah melemparkan kotoran ke wajah mama dan papanya. Safira tak akan tega melakukan hal itu, mungkin dirinya harus berkorban satu kali lagi.
Meski Safira tak menginginkan nyatanya waktu terus berjalan membawanya pada detik di mana ia kini berada di samping pria yang pernah menyakitinya dengan begitu dalam dan mendengarkan pria itu menyebut namanya dalam sumpah pernikahan, tak ada rasa haru dan bahagia meski dulu momen ini sangat ia impikan.
Semua terasa hambar, bahkan saat bibir Elbram menyentuh keningnya tak ia rasakan getaran indah seperti 5 tahun yang lalu. Safira malah merasa risih dan ingin segera menyudahi prosesi yang terasa begitu menyebalkan. Mungkin benar, perasaan nya pada Elbram benar-benar telah mati dan terkubur hingga tak bersisah.
"Ngapain kamu di sini El?" Safira heran akan keberadaan Elbram di kamarnya ketika ia keluar dari kamar mandi. Setelah prosesi pernikahan beberapa waktu lalu Safira diminta beristirahat oleh sang mama karena malam ini akan dilangsungkan resepsi pernikahan.
"Istirahat tentu saja, atau kamu ingin langsung melakukannya sekarang? aku sama sekali nggak keberatan Safira" Elbram tersenyum penuh arti sementara Safira mencebik sinis.
"Tapi ini kan kamar buat aku, emang kamu nggak punya kamar sendiri?"
"Kamu lupa kita ini sudah sah menjadi suami istri Safira, memang harusnya begitu kan?" Elbram dengan santainya merebahkan tubuhnya di ranjang, entah kapan pria itu melepaskan pakaian pengantinnya. Yang Safira lihat kini Elbram hanya mengenakan kaos dan bokser.
"Aku nggak mau berbagi kamar sama kamu El" Ucap Safira, nada suaranya terdengar datar dan dingin. Elbram mengernyitkan keningnya, sejak pertemuan pertama mereka setelah 5 tahun berpisah Safira tak pernah menunjukkan sikap dengan aura mencekam seperti ini. Gadis itu cenderung santai dan terlihat lebih cuek saat beberapa kali bertemu menjelang pernikahan mereka.
"Tapi mau nggak mau kamu harus mau Safira." Suara Elbram terdengar lembut. Jika dulu Safira akan merasa luluh berbeda dengan saat ini, kepercayaan nya pada Elbram benar-benar hilang. Di matanya saat ini semua sikap dan perlakuan pria itu hanyalah palsu dan sandiwara belaka, ia yakin suatu saat El akan kembali membuangnya.
🍁🍁🍁