
"Aku nggak bisa masak" ucap Safira, ia memandang pada Elbram yang sedang fokus menonton televisi.
"Kamu lapar?" Elbram melirik jam di tangan nya. Sudah mulai malam, mereka terakhir makan tadi siang bersama Dini. Karena itu ia yakin istrinya sedang kelaparan.
"Iya" jawab Safira ketus
"Mau makan apa? nasi goreng mau?" tawar pria itu. Ia tampak merasa bersalah karena membiarkan istrinya kelaparan.
"Terserah" Safira berbalik meninggalkan Elbram yang tersenyum kecut. Padahal tadi siang Elbram melihat sepertinya hubungan Safira dan Dini sudah mulai membaik, ia kira istrinya juga akan bersikap lebih cair padanya. Namun ternyata raut wajah Safira masih datar dan memasang wajah tidak ramah.
Elbram menghela nafas dan menghembuskan dengan kasar. Ia berusaha menahan perasaan nya menghadapi sikap Safira dan akan terus bersabar untuk meluluhkan hati istrinya kembali.
Pria itu lalu berjalan menuju dapur, seingatnya masih ada nasi sisa mereka makan tadi siang. Elbram memutuskan untuk memasak nasi goreng untuknya dan Safira. Karena sempat kuliah dan bekerja di luar negeri, Elbram sudah terbiasa mandiri. Memasak dan membereskan rumah bukan hal yang asing baginya.
Pria itu mulai memasak nasi goreng yang diberi potongan sosis dan bakso ikan. Elbram ingin menghidangkan nasi goreng spesial untuk sang istri, semoga bisa sedikit menyenangkan hati Safira dengan masakan terbaik darinya.
Setelah selesai dengan nasinya, Elbram menggoreng telor mata sapi dan meletakkan di atas nasi goreng yang telah ia taburi bawang goreng. Elbram juga melengkapinya dengan potongan tomat dan mentimun serta daun selada.
Pria itu tersenyum puas melihat hasil masakan nya. Tak hanya tampilannya saja yang terlihat cantik, soal rasa pun pria itu begitu puas.
Elbram meletakkan dua piring nasi goreng dan dua gelas air putih ke atas meja makan lalu pria itu berjalan menuju kamar untuk memanggil sang istri. Elbram tersenyum lagi saat mendapati Safira tengah duduk memeluk lututnya dengan tubuh bersandar di ranjang.
"Sayang, aku uda selesai masak. Yuk makan malam dulu" Safira menatap ke arah Elbram. Tadinya ia ingin membuat pria itu kesal mengetahui dirinya yang tidak bisa memasak. Padahal jika hanya masakan sederhana Safira mampu melakukannya.
Tapi ternyata bukannya marah, Elbram malah memasak untuk nya. Safira ingin menolak tapi tak ia pungkiri perutnya sudah meronta minta diisi. Akhirnya tanpa berkata apapun Safira turun dari ranjang dan berjalan menuju meja makan. Elbram mengikuti langkah sang istri dan mengambil posisi duduk di depan Safira.
"Aku masak nasi goreng spesial buat istriku yang cantik. Semoga kamu suka sayang" ucap Elbram dengan senyum lebarnya.
Safira menahan kesal di hati, rayuan Elbram sungguh membuatnya mual. Kalau saja saat ini perutnya masih bisa diajak berkompromi ingin sekali ia melemparkan nasinya ke wajah Elbram.
Safira menghela nafas untuk meredakan amarahnya. Gadis itu meraih gelas berisi air putih dan menyesapnya hingga habis setengah. Lalu tanpa basa basi Safira mulai menyendok makanan di piring nya.
"Gimana rasanya sayang? kamu suka?" Elbram menanti jawaban Safira dengan tidak sabar. Terlebih ekspresi gadis itu masih datar sehingga El tak bisa menebak apakah Safira menyukai masakan nya atau tidak.
"Nggak baik bicara saat makan El" Meski Safira akui nasi goreng buatan El enak dan sesuai dengan lidahnya. Jujur Safira menyukai masakan suaminya tersebut. Namun Safira tak akan sudi untuk memuji pria itu.
"Oh ya sayang, Kamu nggak bisa masak nggak apa-apa, jangan difikirkan. Aku bisa memasak untuk kita berdua sayang jangan khawatir" ucap pria itu lagi. Safira kembali tak merespon ucapan suaminya hingga membuat Elbram tampaknya lelah sendiri dan memutuskan berhenti berbicara. Elbram mulai menikmati nasi goreng miliknya.
🍁🍁🍁
Bangun tidur di pagi hari Safira heran tak mendapati suaminya di kamar. Namun ia juga merasa lega karena tak seperti hari-hari kemarin saat membuka mata ia harus melihat wajah Elbram yang tengah tersenyum menatap nya lalu dengan sikap sok manis mengucapkan selamat pagi.
Safira berharap semua yang ia alami beberapa hari ini adalah mimpi. Hatinya masih begitu sulit menerima pernikahannya dengan Elbram, ia masih terus berharap ikatan ini segera terlepas. Safira ingin bebas hidup sendiri tanpa pria itu di sisinya.
Safira membuka ponselnya, matanya berbinar saat melihat untuk pertama kalinya Zio membuat story di aplikasi wa. Safira tak sabar untuk melihat aktivitas pria itu, rasa rindu pada mantan atasannya yang namanya masih bertahta di hati gadis itu terus memenuhi benaknya.
Safira yang awalnya begitu bersemangat merasa kelu seketika menyadari postingan pria itu. Zio memposting fotonya bersama Davina, terlihat begitu mesra tak seperti seorang om dan keponakan. Foto tersebut menampilkan keduanya sedang menatap kerlip lampu kota dengan posisi Zio memeluk mesra Davina dari belakang dengan dagu yang ia letakkan di pundak Davina. Keduanya tampak tersenyum bahagia. Zio hanya membubuhkan emoticon love berwarna merah sebagai caption foto tersebut.
Selama ini Safira tau Zio memang sangat perhatian pada Davina dan seolah gadis itu adalah pusat dunianya. Namun Safira mengira perhatian dan kasih sayang Zio terhadap Davina hanyalah sebatas kasih sayang seorang om pada keponakannya.
Namun semua anggapan itu kini sirna, foto yang ia lihat cukup membuat Safira menyadari bahwa ada sesuatu diantara Zio dan Davina. Senyum dan pancaran kebahagiaan dari mata Zio yang tak pernah Safira lihat selama ini mampu menjawab semuanya.
Tanpa Safira sadari air mata nya berjatuhan, rasa sakit di hatinya kian menjadi. Ia merasa cemburu dan kecewa pada semesta yang seolah terus mengejeknya.
"Safira kamu kenapa?" Elbram yang baru masuk ke dalam kamar dan mendapati istrinya menangis terlihat begitu khawatir.
Pria itu mendekat dan memegangi wajah Safira yang bersimbah air mata.
"Kamh kenapa menangis? ada apa sayang?"
Menyadari keberadaan Elbram Safira segera menepis tangan pria itu dan menghapus air matanya.
Tanpa menggubris Elbram yang masih dilanda kekhawatiran Safira beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Elbram menatap kaku ke arah Safira yang meninggalkannya. Pria itu terperanjat kaget kala Safira membanting pintu kamar mandi.
Fokus Elbram kemudian teralihkan saat melihat ponsel Safira yang masih menyala. Pria itu tak sengaja melihat pada satu-satunya story whatsapp yang tidak Safira bisukan.
Elbram tersenyum getir, ia kini mengerti kenapa istrinya menangis. Hatinya seperti ditusuk-tusuk menyadari istrinya menangisi pria lain. Rasanya teramat menyakitkan terlebih Safira sama sekali tak peduli pada kekhawatirannya dan terus saja mengabaikan nya.
🍁🍁🍁