Move On

Move On
Dua Puluh Lima



Safira mengulum senyum dan memasang ekspresi yang terkesan meremehkan mendengar ucapan Maya.


"Lupakan May, jangan ungkit masa itu lagi. Aku sudah melupakan nya. Aku nggak mau mengotori kenangan-kenangan berharga milikku dengan menyimpan kejadian yang tak lebih hanya sampah itu. Aku sudah melupakan nya May, bahkan aku juga sudah melupakan bahwa kamu pernah menjadi sahabatku" kata-kata itu terucap dengan santai dan tanpa beban, Safira sama sekali tak peduli Maya akan merasa sakit hati akibat ucapannya.


"Safira ak-aku..." Safira mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan Maya.


"Cukup basa-basi nya May, jangan bicara lagi. Kamu nggak usah repot-repot minta maaf sama aku. Asal kamu tau aku bahkan sudah melupakan bahwa di dunia ini ada manusia bernama Maya jadi apa menurutmu aku akan terus mengingat peristiwa yang membuatmu merasa bersalah hingga detik ini?" ucap Safira dengan kejam. Wajah Maya berubah pias dengan kesedihan yang terlihat jelas.


Safira menatap ke arah Elbram yang masih memasang raut datar.


"Aku duluan ya, kalian nikmati waktu berdua. Tadi Maya bilang kalian uda lama nggak ketemu kan? siapa tau malam ini kalian bisa bernostalgia dan kembali merajut apa yang sempat terputus sebelumnya" ucap Safira sambil tersenyum tipis pada suaminya.


"Kita pulang bersama sayang" Tegas Elbram, dan tanpa gadis itu duga El meraih tangannya dan menautkan jemari mereka.


"Kalian?" Gumam Maya seraya menatap bingung pada apa yang El lakukan pada Safira sementara Safira memelototi suaminya yang bertindak tanpa persetujuan darinya


"Aku dan Safira sudah menikah satu bulan yang lalu. Tadi Safira hanya bercanda, dia tidak berubah kan? selalu menggemaskan" El tersenyum sambil menatap dengan penuh pemujaan pada istrinya.


"Selamat atas pernikahan kalian" ucap Maya lemah setelah terpaku beberapa saat, keterkejutan belum sirna sepenuhnya dari wajah gadis itu.


"Elbram yang bercanda May, aku mana mungkin mau menikah dengan nya. Kamu lebih percaya padaku kan May?" balas Safira panik. Namun Maya hanya menatap diam pada El dan Safira.


"Ayo sayang kita pulang sekarang. Sudah cukup akting nya" Elbram menarik tangan Safira yang masih ingin melayangkan protes. Pria itu melupakan niat awalnya yang akan pulang setelah bersalaman dengan pengantin.


Karena tak ingin menarik perhatian dari para undangan Safira akhirnya terpaksa memilih pasrah mengikuti langkah suaminya. Namun hatinya terus melayangkan umpatan pada pria itu.


"Kamu menjatuhkan harga diriku di depan Maya El, aku benci banget sama kamu!" kecam Safira setibanya mereka di dalam mobil.


"Menjatuhkan harga diri? apa maksud kamu?" Elbram berusaha menelaah kalimat yang diucapkan oleh Safira.


"Yah harga diri aku jatuh di depan Maya karena kamu memberitahu bahwa kita sudah menikah. Mungkin Maya sekarang sedang menertawakan aku karena aku memungut sampah yang sudah dibuang oleh nya" ucap Safira sinis.


Wajah Elbram memerah dengan tatapan tak percaya. Ucapan Safira jelas melukai hati dan harga dirinya.


Elbram mengepalkan tangan nya, rahangnya tampak mengeras. Pria itu membuang nafasnya berulang kali dengan kasar sebelum akhirnya pria itu beranjak keluar dari dalam mobil.


Safira memperhatikan Elbram yang bersandar di pintu mobil dengan heran. El tampak memainkan ponselnya untuk menelfon seseorang. Namun Safira enggan untuk mengejar pria itu. Hingga hampir 20 menit kemudian sopir keluarga El datang.


"Kamu pindah ke bangku belakang" ucap Elbram saat membuka pintu di sebelah Safira. Nada suaranya terdengar datar.


"Kamu pulang diantar pak Andi" Ucap El sebelum menutup pintu mobil. Awalnya Safira mengira El akan ikut masuk ke dalam mobil. Nyatanya tidak, Elbram malah berjalan menjauh dari sana.


Fikiran Safira berkelana, ia menerka Elbram pergi menemui Maya. Mungkin seperti yang ia katakan tadi, El ingin bernostalgia dengan Maya dan kembali merajut kisah bersama gadis itu.


Safira meradang, ia ingin menepis pemikiran itu dan berusaha untuk tak peduli apapun yang akan El lakukan bersama Maya, tapi tetap saja ia merasa gusar.


Safira tersenyum pahit, jika memang El membiarkan nya pulang sendiri karena ingin menemui Maya, Safira merasa dirinya benar-benar menyedihkan.


🍁🍁🍁


"Selamat pagi, sarapan sudah aku siapin. Kamu cuci muka abis itu langsung sarapan ya?" Sapa Elbram saat Safira terbangun. Seperti pagi-pagi yang sudah terlewati sepertinya El telah lama memandangi wajah Safira saat gadis itu masih terlelap.


"Kamu?" Safira mengernyit heran akan keberadaan El. Wajah pria itu sudah terlihat seperti biasa tidak seperti tadi malam. Entah kapan pria itu kembali, meski penasaran tapi lagi-lagi Safira enggan untuk bertanya. Ia tak mau Elbram salah paham pada sikapnya.


"Aku kenapa?" tanya El heran.


"Kamu ngapain pulang lagi setelah tadi malam seenaknya ngirim aku pulang sama sopir. Dasar nggak bertanggung jawab" Mengingat kejadian tadi malam Safira kembali merasa kesal. Bayangan El menghabiskan malam bersama Maya membuat Safira geram. Bahkan tadi malam ia merasa kesulitan untuk tidur memikirkan itu semua.


"Maaf, aku hanya takut terjadi sesuatu karena membawa mobil dalam keadaan kalut. Makanya aku panggil pak Andi buat anterin kamu pulang. Aku butuh menenangkan diri dan memulihkan hatiku terlebih dahulu setelah mendapatkan kata-kata pedas dari istri cantikku ini" Ucap El sambil terkekeh.


Safira mencebik sinis mendengar penuturan suaminya. "Jadi menghabiskan waktu bersama Maya adalah cara kamu menenangkan diri?" sindir Safira.


"Menghabiskan waktu bersama Maya? omong kosong macam apa itu, aku hanya pergi ke suatu tempat untuk menyendiri sayang. Bukan bersama Maya, tuduhan kamu nggak masuk akal sama sekali" Elbram mencubit hidung Safira. Gadis itu menepis tangan Elbram dengan kesal.


Safira benar-benar jengah menghadapi Elbram, meski seburuk apapun sikap yang ia tunjukkan Elbram tetap saja bersikap biasa seolah tak terjadi apapun di antara mereka.


"Apa istriku ini sedang cemburu?" Tanya Elbram dengan senyum lebarnya. Matanya terlihat berbinar dan penuh semangat.


"Jangan bermimpi El! ngapain aku cemburu,


memang nya kamu siapa. Aku hanya gak terima kamu mendekati dan bermain gila dengan wanita lain saat masih terikat pernikahan dengan ku. Semua demi harga diri aku sebagai seorang wanita dan sebagai seorang istri di mata orang lain" ucap Safira ketus.


"Aku nggak akan pernah melakukan hal itu sayang, percayalah aku akan terus menjaga pernikahan kita, aku nggak akan mungkin mengkhianati kamu. Aku akan terus menjaga harga diri istriku hingga nafas terakhirku." ucap Elbram penuh kesungguhan


🍁🍁🍁