Move On

Move On
Dua Puluh Enam



"Kamu kenapa bisa putus dari Maya? bukannya Maya itu idaman kamu banget ya? dewasa, cantik, anggun sempurnalah sebagai wanita" Ucap Safira.


Elbram tersenyum, meski pembahasan Safira tak menyenangkan untuk nya namun ia tetap merasa bahagia karena sang istri mengajaknya bicara. Tidak seperti biasanya, kebersamaan mereka lebih banyak dihabiskan dengan keheningan. Hanya Elbram yang selalu memulai percakapan. Biasanya El akan lelah sendiri saat Safira tak kunjung menimpali ucapannya.


"Harus banget bahas ginian?" Tanya Elbram. Safira bisa menangkap keengganan pada diri Elbram untuk membahas masa lalu mereka.


"Nggak harus sih, aku penasaran aja. Tapi kalo kamu emang nggak mau bahas ya itu hak kamu" Ucap Safira. Jelas apa yang ia katakan tak sesuai dengan hatinya. Nyatanya ia sangat berharap El mau bercerita.


Elbram diam, pria itu tampaknya sedang memikirkan ucapan sang istri.


"Kalo aku jawab sebenarnya aku sama Maya nggak pacaran kamu percaya nggak?"


"Nggak" Jawab Safira cepat. Elbram tertawa melihat antusias Safira menjawab pertanyaan nya.


"Tapi aku sama Maya emang nggak pacaran" Safira tersenyum sinis, ia menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Tapi kenapa ciuman kalo nggak pacaran? bisa aja kalian uda ngelakuin yang lebih dari sekedar ciuman juga kan" protes Safira.


"Sumpah aku nggak pernah ngelakuin apa-apa ke Maya selain yang waktu itu sayang." Sangkal Elbram cepat.


"Aku emang pernah tinggal di luar negeri tapi aku nggak pernah melakukan sesuatu yang di luar batas" lanjut Elbram.


"Yah terserah juga sih, mau ngapa-ngapain sama Maya juga bukan urusan aku. Aku nggak peduli sama sekali El" Tanpa terasa sarapan miliknya sudah habis tak bersisa. Harus Safira akui masakan Elbram selalu cocok di lidahnya.


"Aku sama Maya beneran nggak ada hubungan apa-apa waktu itu. Tapi aku akui aku sangat bersalah sama kamu atas apa yang terjadi. Karena kata maaf nggak akan pernah bisa menghapus semuanya maka aku lebih memilih menghapus jejak luka di hati kamu dengan cara terus berusaha menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab untuk kamu sampai akhirnya kamu pulih dan bisa merasakan ketulusanku padamu sayang" jelas Elbram.


"Aku nggak ngerti El. Kamu bilang nggak ada hubungan apa-apa sama Maya tapi aku melihat sendiri kalian berciuman waktu itu. Kamu juga bilang kamu menyukai sosok Maya yang dewasa sementara sama aku kamu hanya bisa menganggap ku sebagai adik. Setelah dulu kamu membuang ku di depan Maya kenapa sekarang kamu malah berbalik mengganggu hidup aku? semua terlalu membingungkan buat aku El" lirih Safira.


"Aku nggak tau gimana caranya menjelaskan sama kamu tentang kejadian itu Safira. Jujur sebenarnya aku nggak mau mengingat peristiwa itu lagi. Dengan mengingat nya akan membuatku kembali membenci diriku sendiri, aku benci pada kebodohan ku waktu itu" ucap Elbram sambil tersenyum getir.


"Nggak usah berbelit-belit El. Kamu membuat kepala ku sakit" ketus Safira yang merasa gemas karena El tak kunjung menjelaskan apapun padanya. Elbram tertawa lagi, sepertinya melihat Safira gusar begitu menyenangkan untuk nya.


"Apa dengan aku bercerita akan mengubah perasaan mu padaku Safira? apa kamu akan menerima pernikahan ini?" Elbram sebenarnya lebih memilih untuk memperbaiki masa sekarang dan masa depan mereka ketimbang harus membuka cerita usang yang telah lalu. Ia mengakui dirinya bersalah di masa lalu, tak ada niat sedikitpun untuk membela diri dan membuatnya benar di mata Safira.


"Aku nggak tau, aku uda bilang sebenarnya aku nggak menuntut penjelasan apapun dari kamu El. Aku cuma penasaran aja kenapa hubungan kamu dan Maya bisa berakhir. Itupun aku nggak maksa kamu harus cerita. Sesederhana itu sebenarnya, tapi kamu malah melebar ke mana-mana." ucap Safira.


Elbram tersenyum melihat raut kesal istrinya. Ia ingin menggenggam tangan Safira, sayang nya gadis itu dengan cepat mengelak dan menjauhkan diri dari jangkauan Elbram.


"Kamu tau kan saat pertama pulang ke sini aku baru putus dari Vanya mantan pacarku karena dia berselingkuh dengan rekan kerjaku bahkan hingga hamil. Aku mengaku baik-baik saja padahal harga diriku sangat terluka. Aku merasa marah dan kecewa. Lalu aku bertemu kamu. Aku seolah menemukan dunia baru yang penuh warna dengan keceriaan kamu. Kamu begitu menyenangkan, di satu sisi kamu terlihat lugu namun di sisi lainnya kamu cerdas dan istimewa, aku selalu suka membahas banyak hal dan bertukar fikiran dengan mu. Aku benar-benar merasa nyaman" Elbram tersenyum pada Safira yang terlihat fokus mendengarkan. Meski wajah gadis itu terlihat datar tak menunjukkan ekspresi apapun.


"Tapi aku terlalu bodoh mengartikan perasaanku padamu Safira. Karena aku pernah gagal, aku tak ingin buru-buru, aku jadi lebih berhati-hati untuk memulai kisah yang baru. Ternyata di alam bawah sadar ku ada rasa trauma pada diriku, aku takut akan kembali dikhianati. Tanpa aku sadari aku melukai kamu karena aku seolah menarik ulur perasaan mu. Bodohnya aku nggak peka, aku nggak tau kalo sebenarnya diam-diam kamu menantikan kejelasan dari aku sayang" Elbram menatap penuh rasa bersalah pada Safira. Gadis itu memalingkan wajahnya, mendengar ucapan Elbram seolah membuka luka lamanya kembali, Safira kembali mengingat masa-masa berat nya menantikan kejelasan dari Elbram. Meski tak ia pungkiri ada masa-masa manis yang pernah ia dan Elbram lewati dulu.


"Sejak awal saat kita dekat, meski aku belum memberi status yang jelas pada hubungan kita tapi fokus aku hanya ke kamu. Nggak ada sama sekali niatan untuk mendekati perempuan lain. Sampai suatu hari saat aku sedang bersantai di taman belakang rumah Maya datang dengan wajah sedihnya. Kamu dan Dini sedang pergi mencari bahan untuk skripsi katanya, Maya mengaku nggak bisa fokus karena baru putus cinta sehingga memilih untuk tidak ikut pergi bersama kalian berdua, dia bilang dia butuh teman. Saat itulah kebodohan ku yang kedua dimulai. Aku seperti melihat sosok Vanya pada diri Maya, gesture tubuh Maya begitu mirip dengan mantan ku. Tanpa sadar aku mulai terkenang pada sosok Vanya melalu Maya. Sejak saat itu aku dan Maya mulai dekat tanpa sepengetahuan kamu, tapi aku selalu resah. Aku takut kamu tau kedekatan kami berdua lalu kamu akan menjauh dari aku. Aku sama sekali nggak siap kehilangan kamu Safira. Karena itu meski aku dekat sama Maya, Kamu tetap menjadi prioritas aku. Tapi Maya tak pernah protes soal itu" Raut wajah Safira sedikit berubah, Elbram tau istrinya tengah menahan perasaan kesal mendengarkan cerita darinya. Inilah alasan Elbram memilih untuk diam selama ini, membahas kembali apa yang pernah terjadi hanya akan membuat luka itu kembali basah.


🍁🍁🍁