Move On

Move On
Tiga Puluh Lima



Setelah dilakukan pemeriksaan, kondisi Elbram sudah cukup stabil. Pria itu hanya perlu memulihkan tenaga nya. Sepanjang pemeriksaan Elbram tak ingin Safira berada jauh darinya, bahkan pria itu selalu menatap wajah sang istri.


"Sayang, kamu uda bangun?" Suara mama Sofia yang baru datang terdengar bergetar. Wanita paruh baya itu menghambur memeluk putranya sambil menangis. Ia terus mengucapkan syukur karena sang putra benar-benar kembali dengan selamat.


Safira memandang haru pada mama Sofia yang memeluk erat tubuh Elbram. Hati Safira menghangat menyadari betapa besar cinta yang dimiliki oleh seorang ibu untuk anaknya meski sang anak telah dewasa.


"Mama sangat takut kamu akan ninggalin mama nak" ucap mama Sofia terisak.


"El baik-baik aja ma, mama lihat sendiri kan sekarang El uda kembali dalam keadaan selamat. Mama jangan sedih lagi" bisik Elbram menenangkan sang mama.


"Saat mendapat kabar kamu hilang mama rasanya mau mati aja nak, mama nggak kuat membayangkan sesuatu yang buruk terjadi sama kamu. Mama nggak akan sanggup kehilangan kamu El. Mama sayang banget sama kamu nak" Adu sang mama lagi. Elbram tentu tau betapa sang mama mencintainya dan merasa khawatir atas apa yang menimpanya jika pun sang mama tak mengucapkannya.


"Iya ma El tau, El juga sayang banget sama mama. El nggak akan ninggalin mama sebelum kasih cucu yang banyak buat mama" ucap Elbram sambil terkekeh, berharap sang mama akan merasa terhibur dengan ucapannya. I tak tahan melihat sang mama terus menangis.


"Iya El, mama kamu terus menangis sampai papa kewalahan menenangkan nya" Timpal sang papa yang sejak tadi harus bersabar menunggu giliran untuk memeluk putranya karena sang istri yang tak kunjung melepaskan pelukannya pada Elbram.


"Nggak cuma mama, Safira juga sangat mengkhawatirkan kamu nak. Istri kamu terus menangis bahkan mama lihat sendiri Safira tidur sambil memeluk baju kamu" Ucap mama Sofia sambil melepaskan pelukannya, wanita itu menghapus air matanya.


Safira sangat terkejut, ia sama sekali tak menduga mama mertuanya akan berbicara seperti ini. Gadis itu menatap cepat ke arah Elbram yang juga tengah menatap ke arahnya dengan pandangan tak percaya namun penuh kebahagiaan. Safira merasa wajahnya memanas, ia teramat malu.


"Beneran sayang?" Tanya pria itu penuh harap, ia terlihat bersemangat. Safira kelabakan dan salah tingkah. Gadis itu tak berani membantah ucapan mertuanya, namun untuk mengatakan bahwa apa yang mama Sofia katakan adalah benar juga begitu berat bagi Safira. Ia masih merasa terlalu gengsi untuk mengakui, Safira tak ingin El tau bahwa ia sangat mengkhawatirkan sang suami selama pria itu hilang. Namun terlambat, mama mertua sudah terlanjur membocorkan nya.


Mungkin diam adalah pilihan terbaik, Safira tak lagi menatap pada suaminya yang ia yakini masih menatap kepadanya dan juga masih menantikan jawaban.


"Iya papa juga melihat istri kamu sangat mengkhawatirkan kamu, Safira juga sempat tak peduli pada keselematannya. Dia ingin ikut mencari kamu ke hutan karena nggak sabar ingin segera mengetahui kondisi kamu. Padahal kita tau Safira belum pernah menjelajah hutan sebelumnya." Sang papa semakin membuat Safira merasa kehilangan muka di hadapan Elbram. Sepasang suami istri itu begitu kompak menguliti dirinya.


Safira memberanikan diri melirik ke arah Elbram, gadis itu mengumpat di dalam hati melihat senyum penuh arti tersungging di bibir suaminya tersebut.


"Makasih ya sayang uda khawatir sama aku, aku terharu banget. Jangan khawatir lagi ya, aku uda ada di sini dan nggak akan pernah ninggalin kamu lagi." Ucap Elbram, kebahagiaan terpancar jelas di wajah pria itu. Safira hanya tersenyum tipis dengan wajahnya yang merona.


🍁🍁🍁


Karena kondisi Elbram yang sudah memungkinkan untuk melakukan perjalanan meski ia masih lemah kedua orang tua El memutuskan untuk membawa El pulang. Jika El masih butuh perawatan akan lebih baik jika El dirawat di rumah sakit kota mereka agar mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik mengingat pelayanan kesehatan di puskesmas tersebut masih serba terbatas.


"Kalau capek duduk mending tiduran aja El. Ini masih lama nyampe bandaranya" Ucap Safira. Elbram menolak untuk diantar menggunakan ambulance, sehingga ia tak bisa leluasa untuk tidur.


"Kamu duduk di mana kalo aku tidur?" El menatap bingung pada istrinya. Di samping kemudi ada rekan kerjanya, sementara di kursi belakang ada kedua orang tuanya.


"Tetap duduk di sini El, kepala kamu taruh di sini. Bisa kok, pasti kamu akan merasa lebih nyaman" Safira menepuk pahanya untuk dijadikan bantalan suaminya.


El menatap kaget pada Safira, ia sama sekali tak menyangka sang istri akan mengizinkan dirinya tidur berbantalkan paha istrinya itu.


"Emang boleh?" Tanya pria itu ragu. Namun bibirnya tetap tak bisa menahan senyum bahagianya.


"Iya boleh El" Safira mengangguk pasti.


"Nggak usah sayang, aku kayak gini aja. Nanti kamu susah gerak kalo aku tiduran di paha kamu, aku nggak mau kamu kecapean" ucap pria itu.


"Nggak apa-apa El, kita masih 2 jam lagi diperjalanan, pasti nggak nyaman banget kalo kamu tetap duduk seperti ini. Kamu nggak usah fikirin aku, aku pasti akan baik-baik aja kok." Ucap Safira meyakinkan suaminya. menempuh sisah perjalanan 2 jam baginya yang sehat tentu tak akan terlalu melelahkan, berbeda dengan El yang dalam kondisi sakit, duduk selama 2 jam tentu akan sangat menyiksa.


Elbram akhirnya menyetujui. Pria itu mengangguk lemah, El lalu perlahan mengubah posisinya. Meski tak terlalu leluasa namun setidaknya lebih nyaman karena posisinya yang rebahan. Terlebih ia bisa bebas memandangi wajah istrinya.


"Tidur El" Bisik Safira sembari menutup mata suaminya dengan telapak tangan nya. Ia sudah tak tahan dipandangi oleh Elbram. Safira merasa sedikit menyesal menawarkan posisi ini pada suaminya, gadis itu khawatir El akan mendengar detak jantungnya yang begitu kencang. Namun mengingat kondisi Elbram, Safira memilih untuk menahan perasaan nya.


Safira kembali terpaku kala El kembali mengubah posisinya, kali ini pria itu memiringkan tubuhnya hingga wajah El menempel di perut Safira, sementara tangan El memeluk pinggang ramping sang istri.


"El jangan kayak gini" Bisik Safira. Untung saja rekan kerja El juga kedua mertuanya tengah tertidur, kalau tidak ia akan merasa sangat malu dengan posisi mereka kini.


"Tapi posisi kayak gini paling nyaman buat aku sayang" suara lemah El yang mengiba membuat Safira tak bisa berbuat apa-apa. Mau tak mau ia harus membiarkan Elbram, meski ia tau ini hanya akal-akalan El yang mengambil kesempatan.


"Kalau sudah ada bayi di perut kamu, aku pasti akan selalu meluk kamu kayak gini. Biar anak kita bisa merasakan kehadiran papanya" Ucap Elbram sembari menciumi perut Safira.


🍁🍁🍁