Move On

Move On
Lima Puluh Lima



"Beneran nggak mau ke rumah sakit?" Tanya Elbram entah untuk ke berapa kalinya, pria itu dengan hati-hati merebahkan tubuh Safira ke atas ranjang mereka. Meski Safira mengatakan ia baik-baik saja dan kuat untuk berjalan namun El tetap memaksa menggendong istrinya sejak turun dari mobil sampai ke dalam kamar mereka.


"Iya beneran El, istirahat sebentar aku pasti juga enakan" Ucap Safira dengan tatapan meyakinkan.


"Janji kalau setelah istirahat tetap ngerasa pusing bilang aku ya? kita langsung ke rumah sakit aja" Safira tersenyum, merasa benar-benar beruntung menjadi istri pria di hadapannya yang menatap dengan penuh rasa khawatir padanya. El mengusap rambut Safira yang berhasil mengalirkan rasa nyaman pada diri istri nya. Perlakuan-perlakuan sederhana Elbram membuat Safira benar-benar merasa dicintai.


"Iya aku janji El, kalo tetap nggak ada perubahan bakalan bilang ke kamu" Safira menggenggam tangan El yang beralih mengusap pipinya.


"Jangan sakit ya? aku nggak mau kamu kenapa-kenapa sayang" Bisik Elbram sendu.


"Tenang aja El, aku nggak apa-apa."


"Ya udah kalo gitu kamu istirahat aja sekarang, aku siapin buat makan malam dulu. Nggak apa-apa kan aku tinggal sebentar?" tanya Elbram lembut.


"Iya nggak apa-apa, maaf ya El harusnya aku yang siapin makan malam buat kita" Safira merasa bersalah, ia memang sudah berusaha menjalankan peran nya namun tetap saja Safira merasa belum sepenuhnya sempurna. El seringkali masih harus ikut turun tangan. Seperti saat ini, karena kondisi tubuhnya terpaksa harus membiarkan El menyiapkan makan malam.


"Ssst, nggak perlu minta maaf. Kamu sama sekali nggak salah. Sudah seharusnya suami istri itu saling membantu dalam segala hal" kata-kata yang El ucapkan membuat Safira tak bisa menahan rasa haru nya.


"Makasih El, kamu selalu ngertiin aku. Aku makin jatuh cinta sama kamu" ucap Safira sambil menunduk, menyembunyikan rona kemerahan di wajahnya. Sementara Elbram begitu terpana, kata cinta yang terucap dari bibir Safira sangat berharga baginya. Meski ini bukan pertama kalinya namun tetap saja kata cinta itu membuat Elbram digulung oleh rasa bahagia yang meluap.


Elbram tak jadi beranjak, pria itu malah menarik tubuh Safira ke dalam dekapan nya. Tanpa kata El terus menghujamkan banyak ciuman pada puncak kepala istri nya.


"El, katanya mau nyiapin makan malam?" Tanya Safira setelah beberapa saat mereka saling berpelukan.


"Iya-iya, saking bahagianya aku jadi lupa." Elbram terkekeh sambil melepaskan rengkuhannya pada diri Safira.


"Istirahat ya, aku mau langsung ke dapur" lanjut Elbram sambil mendaratkan kecupan di kening Safira. Lalu dengan berat hati beranjak meninggalkan istrinya yang terlihat memejamkan matanya.


🍁🍁🍁


"Romi bilang kalian menolak kerja sama itu, kenapa?" El mengusap rambut Safira yang merebahkan tubuhnya di dada pria itu. Sehabis makan malam El langsung mengajak Safira beristirahat di kamar karena masih merasa khawatir pada kondisi kesehatan istrinya.


"Kamu ketemu Romi?" Tanya Safira tanpa beranjak sedikitpun dari posisinya. Tidur dalam rengkuhan Elbram adalah posisi Favoritnya.


"Iya, tadi Romi datang ke kantor"


"Iya aku sama Dini menolak kerja sama itu El" Jawab Safira kemudian.


"Kenapa?" tanya Elbram heran.


"Karena kamu nggak suka, Hendra juga sama jadi ngapain kerja sama nya diterima?"


"Tapi bukannya kalian menginginkan kerja sama itu?" Tanya Elbram yang masih penasaran karena belum sepenuhnha menemukan alasan dari Safira.


"Sunny Florist itu cuma sampingan buat aku dan Dini El. Kamu tetap yang utama buat aku, suami aku jauh lebih berharga. Gimana mungkin aku mengorbankan kamu untuk hal yang tak lebih penting?" Lanjut Safira yang kian membuat hati Elbram berbunga-bunga.


"Aku benar-benar terharu dan sangat bahagia mendengarnya sayang, makasih kamu uda mau ngertiin aku" Elbram mengeratkan pelukannya pada Safira dan mendaratkan kecupan di puncak kepala wanitanya. Safira tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Melihat Elbram bahagia begitu menyenangkan hatinya.


Elbram benar-benar merasa lega, sedikit demi sedikit kepercayaan dirinya mulai tumbuh. Keyakinan bahwa ia telah merebut hati Safira semakin menguat.


"El, aku kesulitan bernafas" Rengek Safira karena tanpa sadar El semakin erat memeluk Safira.


"Maaf sayang" Elbram terkekeh, melepaskan dekapan nya dan mengubah posisi agar bisa memandangi wajah istrinya.


"Aku terlalu bahagia" Lanjut Elbram. Safira yang pura-pura merajuk mengerucutkan bibirnya, hal itu membuat Elbram kesulitan menguasai dirinya. Bibir basah nan menggemaskan itu terlihat menggoda. El tak ingin menahan diri lebih lama, dengan cepat pria itu segera menautkan bibirnya pada bibir Safira, memagut dan menyesapnya dengan penuh semangat namun tetap berhati-hati.


Lenguhan yang keluar dari bibir Safira semakin membuat Elbram bersemangat bermain dengan bibir Safira yang terasa manis dan kenyal.


Kening Safira berkerut dan menatap kecewa saat El melepaskan pertautan bibir keduanya. Safira merasa kehilangan dan itu membuatnya sangat bersedih. Safira tak mengerti kenapa ia bisa sangat sensitif begini.


"Kenapa berhenti El? kamu uda nggak mau ya sama aku? apa aku uda nggak menarik?" Mata Safira berkaca-kaca, hal itu membuat Elbram terperangah. Ia tak menyangka Safira akan merespon seperti ini.


"Sssstt, kamu kenapa bisa berfikiran begitu? aku berhenti bukan karena nggak mau sayang. Aku cuma takut nggak bisa menahan diri, aku sangat menginginkan kamu, selalu dan akan terus menginginkan kamu. Tapi kondisi kesehatan kamu sedang nggak baik sekarang. Aku takut kamu kelelahan dan semakin sakit" Ucap Elbram dengan suara yang begitu lembut. Pria itu menatap dalam istrinya dan mengusap lembut pipi wanita yang teramat ia cintai itu.


"Aku uda nggak apa-apa El, tolong jangan berhenti karena aku menginginkan kamu sekarang" Ucap Safira setengah berbisik. Safira memalingkan wajahnya yang memerah setelah mengucapkan kata-kata yang pada akhirnya begitu ia sesali.


"Apa sayang? kamu ngomong apa coba ulangi?" Tanya Elbram sambil meraih dagu Safira agar wajah sang istri kembali menatap ke arahnya, pria itu tampak menahan senyum.


"L-lupakan El, aku nggak ngomong apa-apa" Jawab Safira gugup, ia merasa malu meski ada sesuatu di dalam dirinya yang begitu menginginkan sentuhan Elbram.


"Katakan lagi apa yang kamu ucapkan sebelumnya sayang" Desak Elbram. Safira tersenyum salah tingkah.


"A-aku menginginkan kamu sekarang" Ucap Safira terbata. Sebenarnya ia merasa begitu berat untuk berucap, namun tatapan penuh harap suaminya membuat Safira nekat mengatakan apa yang ada dalam benak nya.


"Benarkah?" Elbram tersenyum lebar. Matanya berbinar dengan penuh kebahagiaan.


"Dengan senang hati akan kuberikan sayang" Ucap Elbram dengan suara berat ketika Safira menganggukkan kepalanya.


🍁🍁🍁


Untuk Temptation mungkin aku lanjutin setelah kisah El dan Safira tamat ya, biar bisa fokus.


Jadi sabar ya buat yang uda kangen sama pasangan Dara dan Reynand (eh mereka pasangan nggak sih? 😀😀)