Move On

Move On
Empat Belas



"Rencana kamu setelah wisuda apa?" tanya Elbram pada Safira saat keduanya tengah menikmati malam di tepi pantai. Acara malam keakraban para karyawan kantor baru saja selesai, karena merasa belum mengantuk begitupun dengan Safira akhirnya Elbram mengajak gadis itu bersantai sejenak sebelum kembali ke penginapan yang letaknya tak begitu jauh dari tempat mereka saat ini.


"Ya seperti orang-orang pada umumnya El, abis kuliah pasti pengen kerja. Begitupun aku" jawab Safira.


"Oh kirain kamu uda mau langsung nikah" goda Elbram.


"Ngeledek? kamu tau sendiri kan kalo aku masih jomblo. Pacar aja nggak punya jadi belum ada rencana pernikahan dalam waktu dekat ini" sungut Safira


"Ya siapa tau aja kan ada yang mau langsung melamar kamu. Kamu kalo uda nikah mau tetap kerja?" Safira menatap ke arah Elbram, ia jadi salah tingkah atas pertanyaan pria itu.


"Tergantung, kalau misalnya suami aku ngebolehin ya aku maunya tetap kerja. Tapi kalo emang diminta buat urus suami dan anak aja di rumah aku juga nggak apa-apa El" Pembahasan ini seperti obrolan sepasang kekasih yang sedang merencanakan masa depan menjelang pernikahan nya. Rasanya begitu indah bagi Safira, apalagi jika ia benar-benar mengalami hal ini nantinya terlebih jika pria yang akan menikahinya adalah Elbram. Sosok yang sudah ia nantikan selama hampir satu setengah tahun ini.


"Nggak sayang sekolah tinggi-tinggi kalo ujung-ujungnya kamu di rumah aja urus anak dan suami?" tanya Elbram lagi.


"Enggak lah, kan apa yang aku dapat selama menempuh pendidikan baik itu pelajaran akademik ataupun pengalaman bisa aku pakai buat didik anak-anak aku nantinya" timpal Safira sambil tertawa.


"Kok malah ketawa?"


"Nggak apa-apa. Aku cuma ngerasa lucu aja sama pembahasan kita malam ini. Beda dari biasanya" jawab Safira.


"Ya nggak ada salahnya kalo sesekali bahas masa depan" Tubuh Safira memanas saat tiba-tiba El mengusap lembut rambutnya. Gadis itu tak berani menatap ke arah pria itu. Safira takut semakin lupa diri dan terbakar pesona Elbram.


"Kalo menikah nanti, aku nggak akan ngelarang istri aku. Mau kerja atau enggak aku bebasin mau pilih yang mana. Yang penting istri aku nggak mengabaikan tugasnya mengurusi aku dan anak-anak. Keluarga harus tetap jadi prioritas utama" ucap pria itu.


Safira menoleh ke arah Elbram, tatapan keduanya bertemu. Suasana yang sepi karena malam yang mulai beranjak serta dinginnya hembusan angin malam yang menyapa kulit mereka membuat keduanya terhanyut.


Elbram menatap Safira semakin dalam, tangannya perlahan terangkat meraih wajah Safira dan mengusapnya. Safira seolah kehilangan kesadarannya untuk sesaat, ia terbuai pada perlakuan pria itu.


Safira terhenyak dengan tubuh bergetar, ia tersadar saat merasakan bibir Elbram menyapa bibirnya. Kelembutan dan kehangatan menyatu dalam sesapan pria itu. Tubuh Safira memanas, kepalanya terasa pening. Rasa cinta terasa kian membuncah akibat sentuhan Elbram padanya.


Safira menunduk ketika Elbram melepaskan pertautan bibir keduanya, ia seolah kehilangan kuasa atas dirinya. Tubuhnya terasa begitu lemas. Ia masih berusaha menata hatinya yang tak menentu, begitu sulit dipercaya bahwa pria itu menciumnya, Elbram merebut ciuman pertamanya!


Keterkejutan Safira belum benar-benar usai namun ia harus kembali dibuat terpana kala Elbram menyusupkan jarinya pada jemari tangan Safira.


"Uda malam, di sini dingin. Kita kembali ke penginapan" Bisik pria itu. Safira tak menjawab, bibirnya masih terasa kelu.


Elbram menuntun tubuh Safira untuk beranjak dari duduk nya, ia membawa Safira berjalan menuju penginapan. Tak ada obrolan diantara mereka, keduanya disibukkan oleh fikiran masing-masing tentang apa yang baru saja terjadi.


Setibanya di depan pintu kamar Safira, Elbram melepaskan genggaman tangannya.


"Kamu langsung istirahat ya, mimpi indah" Safira kembali terpaku saat El mendaratkan kecupan di kening nya dan mengusap lembut pipinya.


"Ayo masuk dan langsung tidur" Bisik pria itu lagi.


"I-iya, selamat malam El" Safira buru-buru membuka pintu kamarnya dan segera masuk. Untung teman sekamarnya yang merupakan karyawan perempuan di kantor El tak mengunci pintu kamar mereka.


🍁🍁🍁


Safira masih gugup membayangkan bertemu dengan El karena kejadian tadi malam, ia kebingungan harus bersikap seperti apa di depan pria itu. Bahkan tadi malam ia kesakitan memejamkan mata karena selalu terbayang saat El mengambil ciuman pertamanya


Jantung Safira berdegup 2 kali lebih kencang mendengar bel kamarnya berbunyi, karena teman sekamarnya sudah pergi duluan sudah dipastikan Elbram lah yang sedang menunggunya di luar. Safira memegangi dadanya lalu membuang nafas secara berulang untuk menenangkan dirinya. Setelah dirasa cukup tenang Safira memberanikan diri membuka pintu, benar saja Elbram dengan wajah tampannya tersenyum pada gadis itu.


"Selamat pagi gadis tercantik sejagat raya" Ucap pria itu.


"Pagi-pagi uda gombal aja" Sungut Safira padahal hatinya berbunga-bunga.


"Udah yuk, yang lain uda pada nungguin" Seperti biasa Elbram tanpa diminta menggenggam tangan Safira.


Elbram tampak biasa saja, seolah tak pernah terjadi apapun diantara mereka. Safira jadi bertanya-tanya apakah kejadian tadi malam tak berarti apa-apa bagi pria itu? apa dirinya saja yang menganggap spesial ciuman tadi malam?


"Hei ngelamunin apa?" El mengibaskan tangannya di depan wajah Safira yang sejak tadi tak merespon ucapannya.


"E-enggak ngelamun El" sangkal gadis itu.


"Kalo nggak ngelamun kenapa dari tadi pertanyaan aku nggak di jawab." Elbram membawa Safira ke meja yang masih kosong saat mereka tiba di restoran penginapan.


"Emang kamu nanya apa?" Tanya Safira salah tingkah.


"Hari ini agendanya kita mau snorkeling, kamu berani nggak?"


"Snorkeling? berani El" Jawab Safira antusias. Menikmati keindahan taman laut adalah salah satu dari list impiannya.


"Tapi nanti kamu tetap nggak boleh jauh-jauh dari aku ya" tegas Elbram.


"Iya tenang aja" Safira terus tersenyum, gadis itu tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Menikmati keindahan bawah laut bersama Elbram pasti akan sangat menyenangkan. Kebahagiaan yang tengah Safira rasakan berhasil menutupi rasa gugup yang sempat menghinggapi diri Safira beberapa saat lalu.


"Janji ya? kalo nggak mau nurut kita nggak usah iku aja"


"Iya El aku janji, kamu tenang aja aku bukan anak kecil lagi" Safira terkekeh melihat kekhawatiran El terhadap dirinya seolah ia adalah anak TK yang sedang mengikuti rekreasi sekolah dan harus dijaga dengan ekstra.


"Good girl" Elbram menyeringai, terlihat menyebalkan. "Aku ambilin sarapan, kamu mau apa?"


"Nasi goreng sama teh hangat aja"


🍁🍁🍁


Guys author ada novel baru, nggak bisa dibilang novel baru juga karena novel itu udah duluan netas dibanding ke 5 novel author sebelumnya. Tapi emang itu adanya di platform lain sempat stuck nggak dilanjutin. Akhirnya author boyong ke sini juga. Dipantau ya..


Judulnya "Temptation" uda ada 7 episode.