
Elbram telah pergi selama 3 hari, tak ada pesan apapun yang ia kirimkan pada Safira. Diam-diam Safira menantikan kabar dari pria itu, tanpa sadar ia sering sekali menatap ponselnya menunggu kabar dari suaminya.
"Mungkin aku akan jarang menghubungi kamu, kabarnya di sana susah sinyal mesti naik bukit atau pohon dulu katanya. Tapi nanti aku akan tetap usahain buat cari sinyal supaya bisa kabarin kamu" Sebelum pergi Elbram memang sempat memberitahunya tentang masalah ini. Perusahaan tempat Elbram bekerja sedang menangani proyek pembangunan air bersih di daerah yang cukup terpencil.
"Nggak usah, aku juga nggak butuh kabar dari kamu" jawab Safira saat itu. Seperti biasa Elbram hanya terkekeh. Sekarang Safira menyesali jawaban yang ia lontarkan pada suaminya tersebut.
"Mikirin apa sih Fir" Suara Dini memecahkan lamunan Safira.
"Nggak mikirin apa-apa kok Din" Jawab Safira gelagapan.
"Dari tadi aku panggil-panggil nggak dengar. Bohong banget kalo nggak lagi mikirin apa-apa" ucap Dini yang semakin membuat Safira salah tingkah.
"Emang ada apa?" Safira berusaha tampak biasa saja.
"Jadi desain nya kamu mau pilih yang ini atau yang ini?" Dini menunjuk dua gambar desain interior yang ada di ponselnya untuk toko bunga mereka.
Safira menatap pada kedua gambar yang Dini berikan padanya. Karena dirinya yang sedang tidak begitu fokus ia kesulitan menentukan pilihannya.
"Kita serahin aja ke desainer interior nya Din. Dia pasti tau lah gimana bagusnya." ucap Safira.
"Ya udah deh" Dini menutup ponselnya.
"Din aku capek banget. Boleh nggak kamu aja yang ketemu sama desainer nya, nanti kamu tolong jelasin secara garis besar kita maunya ruangan yang seperti apa" Lanjut Safira yang diangguki oleh Dini.
"Iya nggak apa-apa"
"Makasih ya Din, aku duluan ya?" Safira membereskan tas nya lalu beranjak meninggalkan adik iparnya tersebut.
Dini bukan tak menyadari ada yang aneh pada diri Safira. Ia tau sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja. Safira sering melamun, Dini juga beberapa kali melihat Safira yang tampak gelisah memeriksa ponselnya.
Karena itu Dini menyetujui apa yang Safira perintahkan tanpa melayangkan protes sedikitpun.
Sementara itu setibanya Safira di apartemen, gadis itu langsung menuju kamarnya. Ia merebahkan diri sembari memegang ponselnya. Ia membuka aplikasi chat ataupun telfon, sayang nya belum ada pesan atau panggilan dari nomor suaminya.
Setelah berperang dengan isi kepalanya, Safira memutuskan untuk menghubungi Elbram lebih dulu. Safira menduga sang suami tak menghubunginya karena menuruti perkataan dari Safira yang mengatakan tak ingin pria itu menghubunginya.
Untuk kali ini Safira ingin menepis egonya, ia tak ingin dilanda risau berhari-hari karena tak mengetahui keadaan suaminya. Terlebih saat mengingat ungkapan-ungkapan cinta yang Elbram lontarkan tempo hari Safira tiba-tiba menyadari banyak sekali kata-kata janggal yang mengarah kepada salam perpisahan yang Elbram ucapkan.
Hati Safira berdenyut ngilu kala mendapati suara operator yang menyatakan bahwa nomor suaminya sedang berada di luar jangkauan. Bayangan buruk tiba-tiba menghantuinya membuat Safira semakin dilanda gundah.
"Kamu bohong El, kamu nggak berubah. Kamu bilang mau berusaha cari sinyal supaya bisa ngabarin aku. Nyatanya kamu bohongin aku, sesibuk apa sih kamu sampai nggak ada waktu buat hubungin istri sendiri" Gerutu Safira tanpa sadar.
🍁🍁🍁
Ia merasa semakin khawatir pada Elbram setelah mimpi yang menghampirinya. Dalam mimpi tersebut ia bertemu dengan Elbram, pria itu tersenyum tulus padanya.
"Aku mencintaimu, jaga dirimu baik-baik selama aku pergi"
Persis seperti saat akan pergi tempo hari Elbram mengucapkan kata cinta pada nya lalu kemudian berjalan menjauh. Safira berusaha mengejar dan terus memanggil suaminya. Namun Elbram sama sekali tak menghentikan langkahnya. Hingga akhirnya pria itu menghilang dari pandangan Safira, ia kehilangan jejak suaminya.
"Ada apa sebenar nya El? apa kamu baik-baik aja di sana?" Gumam Safira.
Lamunan Safira terhenti, gadis itu dikejutkan oleh bel apartemen nya berbunyi. Gadis itu melirik jam di dinding. Waktu masih menunjukkan jam 5 pagi. Entah siapa yang bertamu sepagi ini.
Karena bel berbunyi terus menerus mau tidak mau Safira berjalan ke luar dari kamarnya menuju pintu untuk memastikan siapa yang datang.
"Fir, buka pintunya ini aku Dini" Baru saja Safira akan mengintip ia sudah mendengar suara sahabatnya. Suara Dini terdengar begitu panik.
"Ada apa?" Tanya Safira ketika pintu sudah terbuka, menampilkan sosok sahabatnya yang terlihat kacau. Ada jejak air mata di pipi Dini menandakan ia sempat menangis. Dini datang bersama suaminya.
"Bang El Fir" Ucap Dini dengan suara bergetar.
"Kenapa dengan El?" Tanya Safira, perasaan Safira mulai tak menentu.
"Biar aku yang jelasin sayang" ucap suami Dini sambil mengusap lengan istrinya. Ia tau Dini kesulitan untuk berbicara karena terlalu panik.
Safira menatap tak sabar pada Hendra suami Dini. "Pegawai dari kantornya bang El menghubungi ke rumah. Mengabarkan bahwa kemaren ada bencana tanah longsor saat bang El sedang melakukan survei ke mata air di perbukitan. Bang El dan tiga pekerja di kabarkan hilang. Sedang dilakukan upaya pencarian tapi belum ada kabar tentang keberadaan mereka sampai subuh ini" Ucap Hendra hati-hati.
Safira terpaku, ia menatap syok pada pria yang ada di hadapannya. Tubuhnya bergetar, bibirnya ingin mempertanyakan kebenaran kabar itu namun ia tak mampu membuka bibirnya sedikitpun. Ia berharap ini hanya sekedar gurauan, Safira berusaha mengingat tanggal hari ini. Siapa tau mereka ingin memberikan kejutan padanya. Tapi hari ini bukan ulang tahun nya. Belum lagi wajah khawatir Dini juga wajah serius Hendra. Rasanya mereka tak mungkin sedang mengerjainya.
"Mama dan papa meminta kami menghubungi kamu Fir, mereka akan berangkat ke sana pagi ini." Lanjut Dini.
"Aku ikut Din" jawab Safira cepat, meski mungkin keberadaan nya tak akan membantu apa-apa namun ia begitu ingin berada di sana untuk memastikan kondisi Elbram suaminya.
"Iya Safira. Sebaiknya kamu siapkan barang-barang kamu" jawab Hendra. Safira mengangguk. Namun ia masih berada pada posisi nya dan tak beranjak sedikitpun.
"Safira ayo siap-siap" Ucap Dini karena hampir 5 menit berlalu Safira tetap pada posisi nya.
"I-iya Din, tapi aku nggak tau aku harus nyiapin apa" Safira menatap bingung pada Dini. Gadis itu merasa begitu kacau saat ini hingga mengganggu kinerja otaknya. Ia tak mampu berfikir apa-apa. Yang ada di dalam benaknya saat ini hanyalah pertanyaan tentang bagaimana keadaan suaminya.
"Nggak tau, mas apa yang harus Safira bawa?" Tanya Dini pada suaminya, Dini tampak nya juga kesulitan berfikir.
🍁🍁🍁🍁
Semoga mager ini segera enyah 😂😂