Move On

Move On
Part 65



Viona hanya bisa menggeleng kepalanya, memperhatikan banyak jenis bunga yang ada di cafe tersebut. Pandangannya teralihkan, saat melihat Rayn yang baru balik dari toilet. Tadi sih katanya Rayn mau ke toilet ya tapi kan Vio nggak percaya begitu saja.


''Ada apa Ray?'' Vio memperhatikan Rayn yang belum menyentuh makanannya. Sejak tadi, pria itu terus mengawasinya.


''Kamu kenapa sih Ray?'' Vio masih berpura-pura tidak tau. Vio yakin, kalau Rayn sudah menaruh cincin lamaranya ke dalam kue coklat yang ada di hadapannya. Bagaimana tidak, sejak tadi pria itu terus mempromosikan kue itu dan cepat-cepat menyuruh Vio untuk mencobanya.


Bukannya cepat mencoba, Vio malah mengerjai. Dia makan kue lain dan pelan-pelan sekali. Wanita itu sangat menikmati ekspresi Rayn yang nampak sedikit gelisah, matanya terus menatap pada kue coklat tersebut.


''Kenapa diliatin terus, makan aja kalau kamu mau.'' Vio malah sengaja memberikan kue coklat itu pada Rayn.


Rayn tentu menolak, dengan ekpresinya yang sangat lucu. ''Nggak Vi, aku udah kenyang kok. Kamu aja yang makan, itu enak loh, katanya paling laris disini.''


''Oh gitu.'' Vio mengangguk. Dia mengambil sendok kecil. Terlebih dulu dia melirik Rayn lagi. Mata pria itu melebar dan terlihat seperti sedang menahan nafas.


''Ah nanti aja deh, aku mau coba yang lain dulu.'' Vio masih iseng saja.


''Yang itu aja Vi, nanti nggak enak loh kalo udah kelamaan disuhu ruang.'' Rayn semakin mendekatkan kue coklat itu pada Viona.


''Yaudah kalo gitu tinggal nggak usah dimakan aja Ray, kalo emang udah nggak enak nanti.''


Vio hampir tidak bisa menehan tawanya, saat melihat wajah Rayn berubah bete. Bibir pria itu manyum kedepan dan pandangannya langsung dia arahkan ke samping.


Tanpa Rayn sadari, Vio sudah memakan kue coklat itu dan hanya dalam sekali lahap, cincin sudah masuk ke mulutnya. Vio tidak mengatakan apa-apa. Dia mengambil cincin itu diam-diam dan langsung memakaikannya ke jari manis tangan kanannya.


''Vi, kuenya udah dimanakan?'' tanya Rayn saat sadar. Viona hanya mengangguk saja. Vio tersenyum, melihat Rayn yang fokus pada kue, tanpa sadar kalau cincin itu sudah melingkar di jari manisnya.


''Pantas paling laris, kuenya enak banget ternyata,'' Vio baru memasukan satu sendok terakhir kue coklat tersebut ke dalam mulutnya.


Rayn nampak serius, matanya mengarah pada mulut Vio.


''Vi, kamu nggak...?'' Rayn nampak bingung. Kuenya sudah habis, Vio juga sudah menelan potongan terakhir, tapi kenapa cincinya tidak kunjung ditemukan. Ini pelayan salah ngasih kue apa gimana sih?


Rayn agak kesal. Pria itu ingin berdiri, menghampiri pelayan tapi tangannya sudah lebih dulu ditahan.


''Nyari ini?''


Vio menggoyang-goyangkan jari tengahnya, sambil tersenyum lebar. Rayn menangkap tangan Vio itu. ''Kok aku nggak liat pas kamu ketemu cincinnya Vi?''


Viona hanya tersenyum. Rayn kembali melepaskan cincin itu dari jari Vio. Pria itu berlutut. Tatapannya berubah serius.


''Vi aku nggak bisa menjanjikan banyak hal untukmu, tapi aku janji, akan selalu membahagiakanmu dan mencintaimu selamanya. Nanti, mungkin kita akan lebih saling bertengkar, berselisih paham tapi aku janji akan selalu mengalah untuk kamu. Mungkin kedepannya kita juga akan menghadapi beberapa masalah, tapi aku janji, aku akan selalu berdiri tegap disamping kamu. Vi, bukan suatu perkara yang mudah untuk bisa berada disini, berdiri disampingmu, mengganggam tanganmu. Semua yang sudah kita lewati bersama membuat aku sadar seberapa besar aku mencintai kamu dan menginginkan kamu dalam hidupku. Vi, kamu mau nggak menikah sama aku, jadi istriku dan jadi ibu dari anak-anakku?''


''Aku mau, aku mau, aku mau.'' Vio mengangguk beberapa kali. Air matanya sudah menetes saja, saking bahagianya.


Setelah memakaikan cincin, mereka langsung berpelukan. Beberapa kali Rayn mengucapkan terimakasih karena Vio yang sudah menerima larannya. Vio juga sama, dalam hatinya dia sangat bersyukur. Dia tidak pernah membayangkan, bertemu Rayn akan menjadi satu hal paling membahagiakan dalam hidupnya. Pria itu memberi warna pada hari-harinya yang dulu nampak sunyi.


''Katanya kamu nggak bisa menjanjikan banyak hal, tapi dari yang aku dengar kok banyak banget janjinya Ray, awas aja kalo nggak bisa ditepati semuanya.'' Vio sedikit bercanda. Wanita itu tertawa sambil menangis, begitupun dengan Rayn.


''Apa-apaa ini, mereka akan segera menikah!?'' Kevin membanting ponselnya ke ranjang. Dia baru saja mendapat kiriman foto dari Febby. Pria itu berteriak seperti orang kerasukan, saking frustasinya mendengar kabar Vio yang akan segera menikah.


Mamanya sempat melirik ke arah tempat tidur. Dia melihat ponsel Kevin yang sedang menampilkan foto Vio bersama dengan seorang pria.


''Kev.'' Mamanya menghampiri. Kevin sudah memberontak. Pria itu membanting barang-barang yang ada di kamarnya, sambil terus berteriak menyebut nama Vio. Mamanya menangis, ketakutan melihat Kevin yang seperti itu.


Hal yang sama juga terjadi pada Febby. Wanita itu mengamuk, berteriak akan membunuh Viona.


*****


''Aku senang banget hari ini Vi.'' Sejak tadi, Rayn terus mengecup punggung tangan Vio.


''Fokus menyetir Ray.''


''Iya Vi.'' Rayn kembali tersenyum, Viona juga ikut tersenyum melihatnya.


''Oh iya Vi, kamu nyangka nggak, kalau tadi aku bakalan ngelamar kamu?''


Vio malah tertawa mendengar pertanyaan itu. Wanita itu kembali mengingat bagaimana ekspresi Rayn tadi, saat memaksanya masuk dan saat memaksanya makan kue coklat itu.


''Kok malah ketawa sih Vi?''


''Aku udah tau dari awal kali Ray, aku malah sengaja ngerjain kamu. Lagian itu terlalu kentara, semua orang pasti bisa menebaknya.''


Rayn kembali melirik Viona. Pria itu benar-benar tidak menyangka kalau Viona bisa menebaknya. Ah, harusnya dia tidak percaya pada sarannya Daniel.


Vio memperhatikan wajah Rayn yang agak manyun. ''Ray, makasih ya, malam ini aku senang banget. Yey, akhirnya aku punya cincin yang melingkar dijari manisku. Kalau Sabila melihat ini, dia pasti akan iri.'' Vio jadi heboh sendiri. Dia mengangkat tangannya ke depan, sambil menggoyang-goyangkan jari tangannya.


Wanita itu ingin menghibur Rayn, karena tau Rayn sempat kecewa karena rencananya berhasil ditebak olehnya.


Vio juga menyesal, seharusnya dia tidak perlu sejujur itu dan terus berpura-pura tidak tahu.


Di sampingnya, Rayn juga sudah kembali tersenyum lagi. Tangan pria itu terangkat untuk mengusap lembut puncak kepala Viona.


''Aku juga makasih sama kamu.''


Malam ini Vio dan Rayn benar-benar bahagia. Tinggal selangkah lagi, mereka akan jadi suami istri. Mereka sangat tidak sabar menunggu hari itu.


*****


''Vi, aku punya hadiah buat kamu.''


''Apa?'' Rayn berdiri, masuk ke kamar dan tidak berapa lama kembali dengan membawa satu kotak besar. Sekarang mereka ada di apartemen Rayn.


''Buat kamu.''


''Hadiah lamaran buat aku?'' Vio kesenangan dan cepat-cepat membuka kotak itu.


''Ray, ini kan ....?''