Move On

Move On
Sembilan Belas



Safira menarik selimut hingga menutupi keseluruhan tubuhnya, ia memaki di dalam hati karena saat membuka matanya pertama kali ia mendapati wajah Elbram yang sedang menatap nya. Pria itu bahkan tersenyum saat menyadari Safira telah bangun dari tidur.


Entah sudah berapa lama pria itu memandangi wajahnya, Safira mengumpati dirinya yang terlambat bangun. Ia takut Elbram melakukan sesuatu padanya saat ia masih tidur.


"Kenapa ditutupi? kamu sangat cantik saat baru bangun tidur begini" Elbram menarik selimut yang menutupi wajah Safira.


"Kamu nggak macam-macamin aku kan selama aku tidur?" Tanya Safira ketus.


"Aku akan mengambil hak ku hanya di saat kamu sudah merelakannya Safira. Kamu bisa memegang janjiku. Semalam aku sudah mengatakan hal itu kan sayang?" Safira tak habis fikir pada Elbram yang masih bersikap manis padanya, padahal gadis itu merasa banyak sekali ucapan menyakitkan darinya sejak kemarin dan tadi malam.


"Nggak usah panggil sayang, aku bukan sayang nya kamu" balas Safira dengan kesal.


"Kata siapa bukan? kamu itu istri aku, sayang nya aku Safira"


"Menjijikkan tau nggak El" Bukannya tersinggung, Elbram malah tertawa dan mengacak rambut istrinya dengan gemas, hal itu semakin memancing kekesalan Safira.


"Aku sudah memesan sarapan. Mungkin sebentar lagi sarapannya datang. Sebaiknya kamu bersihkan diri kamu, jam 10 kita check out dan pulang" Safira merasa lega karena tak perlu berlama-lama di sini bersama Elbram. Ia sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah dan ia bertekad tak akan menemui Elbram lagi.


"Tadinya aku mau lebih lama di sini, tapi karena kamu belum siap untuk melakukan itu jadi lebih baik kita pulang aja. Nanti kalo kamu uda siap kita bisa kembali lagi ke sini untuk menciptakan malam pertama yang indah dan tak terlupakan" Ekspresi dan Senyum yang terukir di wajah Elbram membuat kekesalan Safira semakin tersulut.


"Hanya dalam mimpimu El!" ucapnya dengan penuh penekanan. Gadis itu lalu beranjak menuju kamar mandi. Meninggalkan Elbram yang tersenyum getir memandangi sang istri yang menghilang di balik pintu kamar mandi.


🍁🍁🍁


"Kita ngapain ke sini El?" Safira panik saat mobil Elbram berhenti di basement apartemen.


"Tentu saja pulang sayang" Elbram turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Safira.


"Pulang?" Safira terlihat bingung.


"Iya untuk sementara waktu kita akan tinggal di apartemen ini dulu. Nanti setelah kamu hamil dan melahirkan kita baru pindah ke rumah" Sebenarnya Elbram sudah menyiapkan rumah untuk ia tempati bersama Safira setelah menikah. Namun melihat sikap Safira yang seolah membangun jarak dengannya akhirnya pria itu memutuskan untuk mengajak Safira tinggal di apartemennya.


"Aku mau pulang ke rumah aku El" ucap Safira.Gadis itu tak bergeming sedikitpun dari posisinya, ia tak berniat ke luar dari mobil pria itu.


"kita sudah menikah, sudah seharusnya kita hidup mandiri dan tinggal terpisah dari orang tua Safira. Aku juga sudah membahas ini sama kedua orang tua kamu dan juga kedua orang tua aku bahwa kita akan tinggal terpisah dari mereka, dan mereka nggak keberatan sama sekali"


"Tapi aku yang keberatan, aku nggak mau tinggal berdua sama kamu El. Pokoknya aku mau pulang. Terserah kalo kamu mau tinggal di sini. Nggak usah ajak-ajak aku!" Elbram menggelengkan kepalanya dan membuang nafasnya berulang kali menghadapi istrinya yang keras kepala.


Safira memukuli dada Elbram saat pria itu malah menggendongnya.


"Jangan keras kepala ku mohon, aku suami kamu dan kamu harus menuruti keputusan aku terkait kehidupan rumah tangga kita" Gadis itu berdecak semakin kesal, Elbram selalu menyinggung tentang pernikahan juga selalu menyebut status sebagai suami untuk menyudutkannya.


"Turunin aku El, aku bisa jalan sendiri!" Safira meronta agar Elbram segera melepaskan nya.


"Berisik! buruan turunin aku brengs*k!" Safira membulatkan matanya karena Elbram menyatukan bibir mereka dan menyesapnya. Gadis itu kembali memukuli dada Elbram agar pria itu melepaskan ciumannya. Kemarahan tampak jelas di wajah gadis itu.


"Itu hukuman karena kamu berani mengumpati suamimu sayang" ucap Elbram setelah melepaskan pag*tan nya pada bibir Safira. Safira melompat cepat dari gendongan Elbram saat pria itu sedikit lengah.


Plak!


Elbram sangat terkejut saat Safira mendaratkan tamparan di pipinya.


"Kamu keterlaluan! kamu bilang kamu nggak akan maksa aku kalo aku nggak mau" Wajah Safira memerah.


"Janjiku hanya untuk yang satu itu Safira. Selain dari pada itu aku bebas melakukannya." Ucap Elbram santai.


"Breng...." Safira mengurungkan niatnya untuk mengumpati Elbram ketika pria itu menatap tajam dan mendekatkan wajah padanya. Gadis itu tak mau Elbram kembali menciumnya.


"Ayo sayang" Elbram menggenggam tangan Safira dengan erat, upaya Safira untuk melepaskan genggaman tangan Elbram hanya sia-sia. Mau tidak mau Safira pasrah dan mengikuti langkah Elbram menuju unit pria itu.


"Password nya tanggal lahir kamu sayang" Ucap Elbram tanpa menoleh pada istrinya. Safira terpaku sesaat, memperhatikan angka-angka yang Elbram tekan untuk membuka pintu apartemennya. Setelah diperhatikan memang benar angka yang Elbram masukkan sebagai password adalah tanggal lahirnya.


Safira segera menepis perasaan aneh yang mulai merayapi hatinya, ia meyakinkan hatinya agar tak mudah goyah. Hanya karena password apartemen menggunakan tanggal kelahirannya bukan berarti pria itu bisa dipercaya untuk Safira kembali menitipkan perasaan nya.


Bisa saja Elbram mengubah password itu baru-baru ini saat mereka akan menikah. Bukan hal yang istimewa juga jika pria itu masih mengingat bulan dan tahun kelahirannya.


"Aku langsung memakai tanggal lahir kamu sebagai password saat pertama kali aku membeli apartemen ini 4 tahun yang lalu" Ucap Elbram, Safira terhenyak mendengar ucapan pria itu yang seolah tau apa yang ada dalam fikiran nya.


Safira tak menimpali sama sekali, sejak tadi ia hanya diam. Safira mengamati apartemen yang akan ia dan Elbram tinggali, tak terlalu besar namun terlihat nyaman. Penataan ruangan terlihat simple namun rapi dan indah.


"Di mana kamar aku?"


"Kamar kita di sana" tunjuk Elbram pada sebuah pintu yang masih tertutup.


"Kamar aku mana?" Ulang Safira lagi.


"Aku uda bilang kan kalo kita akan tinggal di kamar yang sama? kebetulan apartemen ini juga hanya memiliki satu kamar" Tinggal di apartemen dan menunda rencananya untuk tinggal di rumah yang telah ia siapkan memang sengaja Elbram lakukan untuk membangun kembali kedekatan dengan Safira.


Dengan tinggal di apartemen yang tak terlalu luas Elbram berharap mereka bisa selalu merasakan kehadiran satu sama lain. Elbram takut jika mereka langsung menempati rumah yang ia siapkan Safira akan menolak untuk tinggal sekamar dengannya. Rumah yang cukup luas akan menyulitkan upaya nya untuk selalu dekat dengan gadis itu.


Bahkan Elbram sengaja tak akan mempekerjakan asisten rumah tangga untuk sementara waktu. Ia hanya ingin tinggal berdua dengan istrinya tanpa gangguan dari siapapun.


🍁🍁🍁