Move On

Move On
Tiga Puluh Empat



Pelan-pelan Safira membuka mata, dadanya terasa sakit akibat degupan jantungnya yang menggila. Ia mati-matian melawan rasa takutnya untuk menerima segala kemungkinan yang akan terjadi.


Untuk sesaat Safira terpaku, melihat apa yang ada di hadapannya saat ini tubuh Safira terasa bagaikan melayang, air matanya berhamburan menyusuri pipinya. Safira bisa merasakan saat ini dirinya mampu menarik nafas dengan ringan. Gadis itu berjalan ke arah ranjang pasien di mana sosok Elbram tengah terbaring di atasnya.


Mata pria itu terpejam, namun dadanya tampak bergerak naik turun menandakan Elbram masih bernafas. Pria itu benar-benar kembali dalam keadaan selamat. Rasa lega dan bahagia tak bisa Safira ungkapkan dengan kata-kata.


Tak henti ia melantunkan syukur karena Tuhan mendengarkan doa dan harapannya, Ia tak kehilangan Elbram. Safira akan meraih tangan Elbram namun ia urungkan karena takut akan mengganggu istirahat suaminya.


"Pasien sedang beristirahat, kondisinya sangat lemah juga mengalami demam tinggi. Tapi kami sudah memberikan penanganan pada pasien" Benar saja, suster yang mengantarkan mama dan papa Elbram menjelaskan kondisi pria itu pada kedua orang tuanya.


Mau tidak mau mereka harus mengerti meski saat ini rasanya begitu ingin memeluk dan berbicara pada Elbram namun mereka harus bisa menahan diri demi kebaikan Elbram. Pria itu harus istirahat untuk memulihkan kembali tenaganya yang terkuras selama di hutan.


"Tuhan mendengarkan dia kita ma, Elbram pulang dalam keadaan selamat" ucap Safira terbata. Rasa bahagia membuat air matanya begitu sulit untuk ia hentikan.


"Iya sayang" Mama Sofia memandangi wajah putranya. Sama seperti Safira air mata wanita itu membanjiri wajahnya. Ia tak sabar ingin memeluk buah hatinya itu, namun karena rasa cintanya ia harus bisa memendam keinginan nya. Setidaknya saat Elbram sembuh nanti ia bisa dengan bebas memeluk putranya.


"Mama dan Safira beristirahat saja di rumah, biar papa yang nemenin Elbram di sini. Besok saja kalian ke sini lagi, mungkin El baru akan terbangun besok" Ucap papa El pada dua wanita yang terus menatap haru pada sosok Elbram yang terlelap dengan begitu tenang.


"Tapi mama juga mau nemenin El di sini" ucap mama Sofia. Ia tak tega meninggalkan putranya dalam kondisi seperti ini.


"Safira aja yang nemenin El di sini pa, papa istirahat aja bareng mama. Dari tadi Safira lihat papa belum istirahat sama sekali" Pria itu sejak menerima kabar yang menimpa putranya begitu sibuk menenangkan istrinya juga menghibur Safira hingga mengabaikan dirinya sendiri.


"Nggak Safira, papa bisa istirahat di sini. Kalian pulang saja, mama harus istirahat di rumah nggak boleh di sini. Nanti mama sakit kalau terlalu lelah" tolak papa El yang membuat mama Sofia mengangguk lemah. Ia tak bisa membantah suaminya.


"Tapi Safira ingin berada di samping El saat pertama kali El membuka matanya pa. Izinin Safira nemenin El di sini" Safira mengiba, mau tidak mau papa El mengalah melihat raut penuh permohonan menantunya. Pria paruh baya itu mengangguk.


"Baiklah, nanti kalau ada apa-apa segera kirim orang untuk menghubungi papa ya." ucap papa El sembari menepuk pundak Safira.


"Iya pa" Safira mengangguk dengan semangat. Ia bahagia papa mertua tak memaksanya lagi. Ia benar-benar ingin berada di samping Elbram saat ini, berharap bisa menebus kesalahan nya pada pria itu.


"Aku akan berjaga di luar. Kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungi aku" Ucap rekan kerja El yang sejak tadi hanya diam.


"Iya, makasih" jawab Safira.


"Jaga diri kamu Safira, kamu juga harus istirahat ya. Segera kabarin mama kalau El sudah bangun" Mama Sofia mengusap rambut Safira saat berpamitan. Ia tampak begitu berat meninggalkan Elbram. Tapi karena tak diperbolehkan terlalu banyak orang yang menjaga pasien mau tidak mau mereka harus pulang.


Sepeninggal kedua mertuanya Safira duduk di kursi di samping ranjang Elbram. Gadis itu menatap lekat wajah suaminya, terlihat pucat dan ada beberapa luka kecil di wajah Elbram. Tapi sama sekali tak mengurangi kadar ketampanan nya. Pria itu tetap terlihat gagah dan tak kehilangan pesona nya.


🍁🍁🍁


Tidur Safira terganggu saat merasakan usapan lembut di kepalanya. Saat menyadari bahwa ia sedang berada di puskesmas menemani Elbram, gadis itu segera mengangkat wajahnya. Kantuk yang masih bergelayut hilang seketika.


"Hai, selamat pagi sayang" mata Safira membola mendapati sapaan suaminya, suara Elbram terdengar lirih dan lemah namun pria itu menampakkan senyum dengan mata berbinar.


"Se-selamat pagi El, kamu uda lama bangun?" Tanya Safira terbata. Ia menahan diri agar tak menangis mendapati Elbram benar-benar telah bangun dari tidurnya.


"Baru saja, kamu kenapa tidur di sini. Badan kamu pasti sakit semua" Elbram menatap khawatir pada Safira, Sebelumnya saat membuka mata ia merasa begitu terkejut ketika mendapati sosok yang begitu ia kenali dan ia rindukan tengah tertidur dalam posisi duduk meski kepalanya menelungkup di ranjang. Hatinya menghangat, ia merasa teramat bahagia akan keberadaan istrinya tersebut.


"Aku nggak sengaja ketiduran, oh ya kamu butuh apa? minum?" tanya Safira setelah berhasil menguasai diri, sebenarnya ia ingin sekali menghambur memeluk Elbram namun entah mengapa ia belum bisa lepas mengekspresikan perasaan nya. Merasakan kepedulian Safira membuat senyum Elbram mengembang.


"Aku butuh kamu" Ucap Elbram. Safira mencebik terlebih saat melihat senyum menggoda suaminya.


"Kamu lagi sakit El, sempat-sempatnya ngegombal. Aku panggilin suster dulu" Safira akan beranjak namun Elbram menahan tangan gadis itu.


"Jangan ke mana-mana. Aku nggak butuh suster, aku cuma butuh kamu" Safira yakin wajahnya tengah memerah saat ini mendengar rayuan yang Elbram lontarkan. Apalagi menyadari dirinya yang baru bangun dari tidur, entah sekacau apa wajahnya kini.


"El kamu harus diperiksa dulu, lagian aku harus kirim orang untuk kasih tau mama dan papa kalo kamu uda bangun. Aku nggak akan lama" Safira masih merasa kaku bersikap seperti ini pada suaminya mengingat selama pernikahan mereka dirinya nyaris tak pernah bersikap manis pada pria itu.


"Janji ya jangan lama?" ucap Elbram penuh harap, ia merasa takut Safira akan pergi.


"Iya El aku janji" Safira mengangkat jari telunjuk dan jari tengah nya.


Dengan berat hati Elbram melepaskan tangan Safira. Gadis itu tersenyum tipis pada Elbram sebelum beranjak meninggalkannya.


"Sayang..." Panggil Elbram, mau tak mau Safira menghentikan langkahnya dan menoleh pada Elbram.


"Ada apa El?" Safira dapat melihat binar bahagia di mata Elbram mendengar jawaban lembut darinya.


"Cepat kembali" Ucap pria itu sambil mengulum senyum.


"Iya El" Safira balas tersenyum lalu melanjutkan langkahnya mencari petugas kesehatan yang dapat memeriksa suaminya.


🍁🍁🍁