Move On

Move On
Part 70



Di luar kamar, Sabila berjalan uring-uringan. Sudah hampir 1 menit Kevin di dalam kamar dan pria itu belum keluar juga.


''Bagaimana ini?'' Dia memutar otaknya, mencari ide.


Parfum. Sabila mengambil parfum yang ada di kantongnya. Dia memegang parfum itu erat dan perlahan mulai melangkah ke arah pintu. Dia pikir, dia bisa menggunakan parfum itu kalau-kalau di dalam sana sedang terjadi hal buruk pada Viona.


Sebelumnya, Sabila juga sudah mengirim chat yang berisi nomor kamar pada Daniel.


Sementara di dalam kamar. Kevin, pria itu duduk dengan wajah sendunya, dia memperhatikan wajah Vio dengan baik. Hatinya sakit karena harus melakukan perbuatan sekeji ini, hatinya sakit mengingat dia yang akan menyakiti Viona tapi, dia tidak punya cara lain lagi.


Dia tidak mau Viona jadi milik Rayn, dia tidak siap kalau benar-benar harus kehilangan Viona.


''Maafin aku Vi,'' ucapnya mencium kening Viona lama. Air matanya menetes disaat yang bersamaan. ''Saat kamu bangun nanti, aku harap kamu mengerti,'' ucapnya lagi dengan bibir yang masih menempel di kening Viona.


Perlahan, Kevin mulai membuka pakaiannya sendiri. Setelah itu, dia beralih menatap Viona lagi dan mulai membuka pakaian Viona. Tangannya bergetar, seakan tidak sanggup melakukan itu. Tapi Kevin mengeraskan hatinya.


''Hanya ini caranya agar kamu bisa memiliki viona lagi,'' ucapnya pada diri sendiri.


Kevin sudah berhasil membuka pakaian Viona dan hanya menyisahkan pakaian dalamnya. Pria itu mulai mendekat, mulai mencium kening Viona lagi dan perlahan turun ke mata, pipi, hidung hingga bibir Viona. Perlahan, bibir Kevin semakin turun, tidak lupa dia meninggalkan beberapa bekas kemerahan di leher Viona. Saat akan membuka bra Viona, tiba-tiba pintu kamar di ketuk dari luar.


Kevin tidak menggubris tapi suara ketukan semakin besar dan sangat mengganggunya. Mau tidak mau Kevin turun dari ranjang, dia memakai pakainnya terlebih dulu sebelum berjalan membuka pintu.


''Sabila!?'' ucapnya terkejut.


Sabila tidak mengatakan apa-apa. Matanya langsung tertuju ke arah ranjang, yang dimana sedang terbaring Viona dalam keadaan tidak sadarkan diri. Matanya membulat, melihat pakaian-pakain Viona yang berserakan diatas ranjang.


''Dasar bre*gsek kamu Kevin.'' Darah Sabila naik, dia mendorong kuat tubuh Kevin hingga hampir jatuh. Cepat-cepat dia menghampiri Viona, dan .....


Sabila jatuh pingsan bahkan sebelum dia sempat membangunkan Viona.


Febby, wanita itu baru saja memukul kuat punggung Sabila hingga membuatnya jatuh dan langsung pingsan. Tadi, di depan hotel Febby tidak sengaja melihat mobil Sabila, makanya dia cepat-cepat kembali ke kamar dan sesuai dugaannya, Sabila hampir mengacaukan rencananya.


''Hal seperti ini saja kamu tidak becus melakukannya Atau apa aku harus mencari pria lain, untuk mencicipi tubuh wanita sia*an itu?'' Febby berbalik dan menatap Kevin penuh kekesalan. Disaat yang sama, Kevin langsung mencengkram kuat rahang Febby.


''Berani kamu melakukan itu, maka aku akan membuatmu tidak bisa melihat dunia lagi.''


Febby hampir kehabisan nafas karena Kevin yang mencengkramnya dengan sangat kuat. Wanita itu mengamuk, minta untuk segera dilepaskan.


''Keluar dari sini!'' Kevin menghempas kasar wajah Febby. Febby tentu kesal karena perbuatan Kevin itu, dia melirik Kevin dengan mata tajamnya, sebelum melangkah keluar.


''Kamu siapa?'' Febby agak kaget, karena melihat ada Daniel yang berdiri di depan pintu.


Daniel tidak menjawab, pria itu menyingkarkan tubuh Febby dengan kasar. Dibelakangnya ada beberapa pria yang langsung menahan Febby, saat wanita itu kembali ingin mendekati Daniel.


''Siapa kamu?'' Kevin membentak. Daniel tidak mempedulikan, matanya mengarah pada Sabila dan Viona yang sudah tidak sadarkan diri. Untungnya tubuh Viona tertutupi oleh selimut.


''Bren*sek.'' Daniel berbalik dan langsung menonjok pipi kanan Kevin. Kevin ingin melawannya tapi Daniel kembali lebih dulu menyerang pria itu. Daniel menghantam perut Kevin dengan beberapa tonjokan, hingga pria itu tertunduk di lantai, menahan sakit.


''Kamu siapa br*ngsek!?'' Febby meneriaki Daniel.


Daniel menyeringai. Pria itu melangkah menghampiri Febby dan langsung mencengkram kuat rahangnya. ''Apa yang kalian lakukan pada kekasihku?'' ucapnya dengan nada marah.


Febby tidak menjawab. Matanya hanya semakin membesar, menatap Daniel seperti ingin membunuh pria itu.


''Kalian, bereskan 2 orang ini.'' Daniel memberi perintah.


Sedangkan dia kembali melangkah dan langsung menggendong Sabila. Daniel meminta seseorang untuk menggendong Viona.


Untung saja Daniel kepikiran untuk membawa beberapa orang bersamanya. Orang-orang yang Daniel bawa sebenarnya adalah bawahannya di kantor. Tadi sewaktu Sabila menelpon, Daniel sedang makan bersama dengan mereka.


Dengan kuat Daniel menendang Kevin, hingga pria itu jatuh tidak sadarkan diri. Daniel benar-benar geram.


''Ad - ada apa ini?'' Nindy baru sampai di kamar itu, dengan membawa kamera. Dia merasa bingung, melihat Kevin yang pingsan dengan wajah yang babak belur sedangkan Febby, tangannya sedang diikat dan disana dia juga melihat beberapa pria berseragam. Seragam hotel maksudnya.


''Feb.''


''Vio si*lan itu lolos lagi. Apa aku harus membunuhnya langsung?'' geram Sabila dengan mata yang penuh dendam. Lagi dan lagi rencananya gagal dan itu semakin membuatnya kesal dan bertambah benci pada Viona.


''Loh ... loh mereka mau dibawa kemana?''


''Mbak mengenal mereka?'' tanya salah satu staff hotel. Dengan cepat Nindy menggeleng, dia takut terkena imbas. Nindy yakin kalau Kevin dan Febby akan diserahkan pada pihak yang berwajib.


''Oh nggak, tadi saya hanya lewat saja,'' ucapnya dan langsung keluar begitu saja.


''Nindy, woi mau kemana kamu?'' teriak Sabila saat Nindy lari meninggalkannya.


*****


Dengan tergesah-gesah, Rayn berlari ke ruang rawat Viona. Disana sudah ada Anastasya dan Al, yang sedang menjaga Viona. Tadi Rayn sedang meeting dan parahnya dia meninggalkan ponselnya di ruangannya. Baru 45 menit yang lalu sejak Rayn mengetahui sang kekasih masuk rumah sakit. Rayn belum tau apa yang terjadi.


''Ma, Vio kenapa?'' ucapnya dengan raut khawatirnya. Pria itu langsung membelai wajah Vio, manatap dalam pada mata sang kekasih yang masih setia menutup.


''Ma-pa, Vio kenapa?''


Mama dan papanya menggeleng. Sejujurnya mereka juga belum tau apa yang terjadi, Tadi, Daniel hanya menelpon dan memberitahu Vio sedang di rumah sakit.


''Kami nggak tau Ray, nanti kita tanyakan pada Daniel.''


''Daniel?'' Rayn berbalik, menatap kedua orang tuanya.


''Iya, tadi Daniel yang memberitahu kalau Viona sedang dirawat disini, Sabila juga dirawat di ruangan samping.''


''Sabila?''


Anastasya mengangguk, mengiyakan.


Di ruangan sebelah, Sabila baru membuka matanya. Wanita itu memegang punggungnya yang terasa sangat perih.


''Ini dimana?''


''Bill.'' Daniel datang mendekat.


''Daniel, ini aku dimana?'' Mata Sabila bergerak memperhatikan seisi ruangan. Sebenarnya, dari tampilannya Sabila sudah bisa menebak kalau itu rumah sakit, tapi yang bikin dia bingung, kenapa dia ada di ruamh sakit. Seingatnya dia ada di ....


Secepat kilat Sabila mendudukan dirinya, menyingkirkan selimut dan hendak turun dari ranjang pasien.


''Bill mau kemana?''


''Vio, Viona dimana?'' tanyanya dengan wajah khawatir.


''Vio di ruangan sebelah.''


Sabila sedikit menyingkirkan tubuh Daniel. Dia berlari ke ruangan sebelah. Begitu membuka pintu, dia langsung menangis, melihat Viona yang masih belum sadar.


''Vi ....'' ucapnya disela tangis. Langkahnya perlahan melambat, matanya terus menatap pada Viona. Sabila takut kalau sesuatu terjadi saat dia pingsan tadi, Sabila takut kalau-kalau Kevin sudah ....


Bersambung .....