
"Apa ini?" Safira menatap penuh tanya pada Elbram yang menyodorkan lembaran kertas pada nya. Pria itu tiba-tiba datang ke rumahnya tanpa memberitahu gadis itu lebih dulu. Padahal Safira sedang menikmati waktu santainya dengan membaca novel setelah beberapa bulan ke belakang ia disibukkan dengan skripsinya. Jika tau El akan datang setidaknya Safira ingin sedikit berdandan agar tak terlihat pucat seperti ini.
"Kantor aku ngadain family gathering selama 3 hari. Ini jadwal kita selama di sana dan tempat-tempat yang akan kita kunjungi. Aku kasih kamu ini supaya kamu tau apa aja yang mau kamu siapin, juga nyocokin sama outfit yang bisa kamu pakai biar nggak salah kostum." ucap Elbram, pria itu terlihat begitu yakin Safira akan ikut sehingga Elbram bahkan tak menanyakan kesediaan gadis itu terlebih dahulu.
"Kamu mau ajak aku?" tanya Safira yang masih tak mengerti.
"Iya, memangnya mau ajak siapa lagi? aku belum punya istri dan anak seperti rekan-rekan yang lainnya. Teman-teman kantor yang masih single juga pada ngajakin pacar mereka masing-masing kok. Saat ini aku nggak punya teman dekat selain kamu, yah walaupun ada juga aku tetap mau ngajak kamu sih." jawab Elbram santai.
"Kok nggak nanya dulu aku setuju atau enggak? kalo aku nolak gimana?" walaupun sebenarnya Safira tak mungkin menolak ajakan menggiurkan pria itu. Apalagi setelah melihat lembar kertas yang Elbram berikan padanya, tempat yang akan dikunjungi adalah salah satu tempat yang menjadi impian Safira. Padahal berwisata ke sana merupakan rencana jangka panjang yang artinya belum akan ia wujudkan dalam waktu dekat, namun siapa sangka nasib baik tengah berpihak. Impiannya akan segera terwujud ditambah ia datang ke sana bersama pria yang ia cintai.
"Ya karena kamu emang harus setuju, nggak boleh ada penolakan. Aku juga yakin banget kamu bisa. Kamu juga nggak ada kesibukan lagi kan di kampus? tinggal nunggu wisuda doang. Itung-itung refreshing setelah beberapa bulan ini kamu dipusingkan sama skripsi. Kalo istilah anak zaman sekarang tu healing, self reward" ucap pria itu sambil terkekeh. Safira tersenyum masam, Elbram memang selalu saja mendominasi.
"Aku perlu izin mama dan papa dulu El" timpal Safira.
"Nggak perlu, kemaren saat nungguin kamu aku uda izin sama mama kamu. Beliau setuju" Safira menatap tak percaya pada Elbram. Kemaren Elbram memang mengajaknya makan malam berdua, ia tak menyangka pria itu sempat mengobrol dengan mamanya saat Elbram datang menjemput.
"Gila ya, aku baru dikasih tau sekarang tapi mama uda dikasih tau duluan" Pria itu benar-benar penuh kejutan dan selalu membuat Safira tak berkutik.
"Yang penting sekarang uda dikasih tau. Kamu mau belanja untuk keperluan selama di sana kan? ayo aku temenin. Kamu siap-siap sana" Bak kerbau yang dicucuk hidung nya Safira menuruti apa yang pria itu perintahkan tanpa melakukan protes sedikitpun. Ia bergegas masuk ke kamarnya untuk berganti baju. Elbram memang laki-laki luar biasa. Tak heran jika Safira kesulitan menemukan jalan untuk menjauhi pria itu. Semua hal yang Safira impikan dari seorang laki-laki ada pada diri Elbram.
🍁🍁🍁
Safira memegang erat tangan Elbram saat pesawat mulai take off mata nya terpejam dan wajahnya tampak memucat. Elbram balas menggenggam tangan Safira saat melihat gurat ketakutan di wajah itu. Ia berusaha memberikan kenyamanan pada Safira agar gadis itu tak semakin ketakutan.
"Kamu takut naik pesawat ya?" tanya Elbram setelah Safira mulai tenang.
"Pas take off aja ngerasa agak ngeri, abis itu enggak. Norak banget ya?" Safira tersenyum malu.
"Enggak kata siapa, malah gemes" jawab Elbram yang semakin membuat Safira tersipu.
"Masa gitu aja gemes" Safira memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Nggak tau juga ya. Menurut aku kamu tu emang sangat menggemaskan." Entahlah kapan Elbram akan berhenti membuat Safira salah tingkah.
"Selain sama aku, kamu pernah nggak pergi bareng cowok lain?" tanya Elbram, Safira menoleh ke arah pria itu yang kebetulan juga sedang menatap ke arahnya.
"Nggak pernah, ini pertama kalinya aku pergi nggak sama orang tua aku"
"Wah aku spesial dong" Elbram tertawa lebar.
"Ya bisa dibilang begitu" jawab Safira.
"Tapi mungkin nanti aku bakalan ngerepotin kamu banget El, aku packing pakaian aja nggak bisa" Biasanya semua disiapkan oleh sang mama. Safira selalu payah untuk urusan hal itu, ia ceroboh dan sedikit berantakan.
Selama ini saat jalan bersama dua sahabatnya, Dini atau Maya yang selalu memastikan tidak ada barang bawaan Safira yang tertinggal. Karena Safira anak tunggal sang mama terlalu memanjakannya dan selalu mengurusi semuanya.
"Nggak apa-apa, itulah gunanya aku kan?"
"Makasih ya El" Ucap Safira.
"Nggak perlu bilang makasih, kan aku yang ajak kamu. Jadi aku yang bertanggung jawab penuh atas kamu" Balas Elbram.
Wanita mana yang tidak akan bertekuk lutut jika diperlakukan semanis ini oleh seorang laki-laki? Safira merasa Elbram benar-benar laki-laki yang tepat untuknya, ia akan berusaha semampu yang ia bisa untuk memiliki pria itu.
Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam pesawat mendarat di kota tujuan. Elbram begitu sigap menjaga Safira dan mengurusi barang-barang milik gadis itu dan miliknya. Mereka beserta rombongan dari kantor El dijemput oleh bus yang akan membawa mereka ke penginapan.
"Capek ya?" Elbram menggenggam tangan Safira, mereka duduk bersebelahan di dalam bus yang mulai berjalan.
"Nggak juga"
"Kamu happy?" Tanya pria itu lagi.
"Iya happy banget El, makasih ya uda ajak aku." jawab Safira antusias.
"Syukurlah kalo gitu, aku yang makasih karena kamu uda mau nemenin aku. Kalo kamu nggak ikut aku nggak kebayang gimana bosannya. Secara teman-teman pada bawa pasangan dan keluarga" Elbram mengusap rambut Safira sambil tersenyum.
"Makanya buruan cari pasangan El, biar ada yang nemenin ke mana-mana"
"Ngapain repot-repot cari, kan ada kamu" ucap El tanpa beban. Safira tersenyum getir, posisinya di hidup Elbram masih saja abu-abu.
"Kamu tidur aja dulu ya, kita baru akan sampai sekitar satu jam lagi"
"Iya El" Safira menyandarkan tubuhnya, gadis itu perlahan memejamkan matanya. Tak Safira pungkiri ia memang merasa mengantuk. Karena di pesawat ia tak sempat tidur. Sepanjang perjalanan ia dan Elbram habiskan dengan mengobrol.
Usapan lembut tangan El di rambut nya semakin mempercepat datangnya kantuk hingga beberapa saat kemudian Safira terhanyut dalam lelap nya.
🍁🍁🍁
Sabar ya guys, paling banyak 2 episode lagi nih flash backnya... 🥰