Move On

Move On
Part 58



‘’Iya om, Ray janji akan selalu menjaga Vio. Ray nggak mungkin menyakitinya karena Ray sangat mencintainya.’’ Rayn penuh kesungguhan dan ketulusan yang sama sekali tidak perlu diragukan lagi.


‘’Oke om percaya sama kamu.’’


‘’Oh ya ma-pa kenapa datangnya hari ini? Perasaan kata papa dua hari lagi deh.’’ Vio tiba-tiba teringat akan perihal kedatangan kedua orang tuanya. Awalnya papanya mengatakan bahwa mereka akan datang untuk melihatnya 2 hari lagi tapi entahlah kenapa menjadi sedikit cepat.


‘’Besok ulang tahun sahabatnya mama dan papa jadi kami harus datang kalau tidak dia pasti akan mengomel selama beberapa dekade dan tentunya itu akan membuat kami pusing.’’ Andrea tersenyum dengan setengah mengomel.


‘’Sahabat mama-papa? Tante Anastasya maksudnya?’’ Setelahnya Vio melihat pada Rayn. ‘’Besok mamamu ulang tahun?’’ tanyanya yang mendapat anggukan dari Rayn.


‘’Tentu saja Anastasya memangnya siapa lagi sahabat mama-papa,’’ jawab Andrea lagi.


‘’Lah aku nggak ada persiapan apa-apa.’’


*****


‘’Jadi maksudnya kalian sudah benar-benar bersama sekarang. Ini nggak bercanda doang atau prank karena mama ulangtahun kan Ray?’’ Anastasya ikut heboh, ikut senang karena itu berarti Rayn nggak akan galau-galau lagi.


‘’Iya ma, ini benaran. Katanya Vio nggak bisa hidup tanpa aku ma, sweet kan?’’ Si Rayn malah menggoda. Vio langsung saja mencubit perut kotak-kotak sang pria.


‘’Aduh Vi sakit Vi, kok dicubit sih, mending dicium kan enak.’’


Mata Vio melotot. Memang si Rayn, nggak tau tempat banget. Vio kan malu. Selain malu, Vio juga masih canggung. Tadinya dia pikir kalau Anastasya dan Al tidak akan menerimanya lagi. Maklumlah, dia sudah menyakiti Rayn. Tapi syukurlah, ketakutannya tidak terjadi.


‘’Vi.’’ Panggilan Anastasya mengalihkan perhatian mereka. ‘’Tante hanya ingin memastikan. Kali ini kamu sudah benar-benar yakin kan, tentang perasaan kamu pada Rayn?’’


Vio tersenyum, sekilas menatap Rayan, lalu menganggukan kepalanya kuat. ‘’Kali ini Vio benar-benar yakin tan. Walau Rayn agak sedikit menyebalkan, tapi dia selalu bisa diandalkan dia juga selalu siap siaga saat dibutuhkan. Vio pikir, akan sangat menyenangkan jika bisa terus bersama pria ini.’’


‘’Kamu ngelamar aku Vi?’’


Vio agak salah tingkah. Pipinya mulai merona dan itu malah bikin Rayn gemas sendiri.


‘’Ih ngegemesin banget sih pacar aku ini.’’ Rayn mencubit gemas pipi Vio. Wanita itu langsung memasang wajah manyun, pura-pura bete.


‘’Kamu kayak gitu malah lebih ngegemesin Vi.’’ Rasanya Rayn ingin menggigitnya, saking gemasnya.


‘’Kalian ini, ada kami loh disini. Heran deh.’’ Andrea menegur dan tidak lama malah tertawa, ikut gemas melihat pasangan yang lagi dimabuk cinta itu.


Jam 21. 50


Vio dan Rayn pamit pulang. Katanya besok Rayn harus bangun pagi karena ada meeting penting yang harus dihadiri dan tidak bisa diwakilkan. Sekarang Rayn sudah tinggal di apartemennya lagi. Biar lebih gampang untuknya bertemu Viona.


‘’Katanya besok ada meeting penting Ray, pulang gih tidur.’’


Bukannya pulang, Rayn malah menarik Vio untuk duduk di pangkuannya. Tangan Rayn melingkari pinggang Vio. Viona duduk menyamping.


‘’Vi.’’


‘’Hhmm?’’


‘’Nikah yuk.’’


Vio tersenyum malu-malu. Dia mengangguk menyetujui dan Rayn pun berteriak saking senangnya.


‘’Beneran Vi?’’ Vio kembali mengangguk.


‘’Makasih Vi.’’ Rayan melayangkan kecupan-kecupan kecil hampir di seluruh wajah Vio.


‘’Udah, gitu aja?’’ Kening Rayn mengerut. Ini maksudnya Vio mau ciuman yang lebih h*t apa gimana?


‘’Kamu ngelamar tanpa persiapan? Cincin nggak ada?’’


Rayn mengangguk pelan, menggaruk hidungnya yang tidak gatal sama sekali. Rayn memang belum menyiapkan cincin lagi, karena tidak pernah menyangka Vio akan kembali padanya lagi.


‘’Kok gitu sih Vi?’’ Rayn menarik pinggang Vio lagi, untuk mendekat padanya.


‘’Ya lagian kamu nggak romantis banget sih. Ngelamar masa nggak pake cincin mana nggak nyiapin bunga lagi.’’


Tiba-tiba Rayn tertawa. ‘’Aku pikir kamu nggak suka hal-hal seperti itu Vi.’’


Vio mendengus, melepaskan tangan Rayn dan langsung masuk ke kamarnya, membiarkan Rayn yang masih terkekeh gemas.


*****


Begitu bangun dari tidurnya, Vio langsung tersenyum lebar, teringat akan lamaran Rayn semalam.


Cepat-cepat Vio menutup matanya lagi. Pura-pura tidur saat mendengar pintu yang akan dibuka dari luar. Sekedar info ya, semalam Rayn tidur di sofa ruang tamu, dia tidak sekalipun masuk kamar Vio kecuali pagi ini.


‘’Vi, bangun yuk udah pagi.’’ Rayn duduk di ujung ranjang. Tangannya memencet gemas puncak hidung Vio.


‘’Vi, sayang bangun yuk.’’ Bukan main senangnya Vio, mendengar Rayn memanggilnya dengan sebutan sayang, apalagi dengan nada lembut yang terdengar sangat romantis. Astaga Tuhan, rasanya Vio ingin berteriak, saking senangnya.


‘’Vi.’’ Rayn menempelkan bibirnya di kening Vio lama.


Sama seperti Vio, Ryan juga merasa sangat bahagia. Bisa bersama Vio seperti sekarang, adalah mimpi terbesar yang pernah dia punya dan Rayn harap, kedepannya mereka akan lebih bahagia lagi.


Dulu, saat pertama kali Kevin datang Rayn pikir dia akan benar-benar kehilangan Vio dan itu sangat menyakitkan baginya. Tapi syukurlah, ternyata Tuhan memberinya kesempatan untuk bisa bersama Viona lagi.


Rayn tau bukan keputusan yang mudah untuk Vio memilihnya dan Rayn sangat berterimakasih untuk itu. Rayn janji, kedepannya dia akan selalu membahagiakan wanita itu.


‘’Vi, bangun yuk, aku udah nyiapin sarapan’’


Vio pura-pura mengusap, mengerjap matanya beberapa kali lalu tersenyum. Vio pikir ini adalah pemandangan terindah yang pernah dia lihat pagi hari. Wajah tampan Rayn yang tepat berada di depan matanya.


Vio membeku saat tiba-tiba Rayn melabuhkan bibirnya diatas bibir Vio. Itu hanya ciuman singkat tanpa adanya aksi tambahan. Vio rasa tubuhnya baru saja tersengat listrik.


‘’Morning kiss.’’ Semakin salah tingkah saja Vio, melihat manisnya senyum Rayn pagi ini.


‘’Bangun yuk,’’ ucap Rayn lagi.


Matanya Vio berkedip kedip gemas, seperti anak kecil saja.


‘’Mandi gih, aku juga harus siap-siap. Aku udah siapin sarapan dimakan ya,’’ ucap Rayn lagi sebelum keluar dari kamar Vio.


Lagi dan Lagi, Vio tersenyum lebar.  Ah rasanya akan sangat menyenangkan jika setiap pagi bisa bersama Rayn seperti ini. Rasanya akan sangat menyenangkan jika melihat wajah Rayan dipagi hari, saat pertama kali dia membuka mata.


''Apa aku lamar aja ya si Rayn?'' Vio terkekeh karena ucapannya sendiri.


*****


''Hallo Vi, udah selesai belum siap-siapnya?'' Rayn menelpon Vio, pria itu sudah menunggu Vio di lobby apartemen.


Rayn mengakhiri panggilan teleponnya saat melihat Vio yang baru keluar dari lift.


''Ngapain nungguin, katanya lagi buru-buru.''


Rayn memberikan tangannya, untuk Vio genggam. ''Nggak pa-pa, aku pengen berangkat sama kamu.''


Dari luar gedung, Kevin mengeram kesal, melihat kemesraaan Vio dan Rayn yang membuat hatinya panas.


Tadinya, kevin datang untuk menjemput Vio tapi dia urungkan saat melihat Rayn duduk di lobby.


''Vi, kenapa bisa segampang itu kamu ngelupain aku? Ngelupain kita dan tentang semua mimpi kita?''


Bersambung .....