Move On

Move On
Part 61



Dan disinilah Viona sekarang, duduk diantara teman-teman dekat Kevin. Viona kenal mereka, tapi nggak dekat.


‘’Tambah cantik aja Vi,’’ sapa Endar, salah satu teman kevin.


‘’Nggak nyangka aku, kalian awet banget ya.’’ Shanti temannya juga ikut menimpali.


Viona memberikan senyum paksanya. Tadi, Kevin juga memintanya untuk jangan dulu memberitahu teman-temannya, perihal hubungan mereka yang telah berakhir. Lagi-lagi, Vio mengiyakan, wanita itu masih tidak enak hati untuk menolak permintaan Kevin. Dia masih merasa bersalah pada pria itu.


Ponsel Viona berbunyi, Rayn yang sedang menelpon.


''Kev, aku angkat telepon bentar ya,'' ucapnya pada Kevin dan meninggalkan mereka. Viona berbicara di luar cafe.


''Hallo Vi, kamu dimana, aku udah depan butik nih.''


Viona menggigit bibirnya kuat. Merutuki dirinya yang lupa meminta Rayn untuk tidak datang menjemputnya.


''Vi, kamu dengar aku?''


''Maaf Ray, aku lagi nggak dibutik, aku lupa ngabarin kamu tadi.''


''Yaudah kamu dimana sekarang, biar aku jemput disana.''


Viona mempertimbangkan dan beberapa detik kemudian memberi alasan dan malah meminta Rayn menunggunya di apartemen. Vio bukannya ingin berbohong, dia juga tidak ingin menyembunyikan hal ini dari Rayn. Hanya saja, dia tidak bisa meminta Rayn datang dan menjemputnya, karena bagaimana pun, teman-teman Kevin masih menganggapnya sebagai pacaranya Kevin.


''Siapa yang nelpon Vi?'' Viona membalik badannya cepat, melihat pada Kevin yang sudah berdiri di belakangnya.''


''Hallo Vi.'' Dari seberang telepon, dia juga mendengar suara Rayn.


''Rayn ya?'' Kevin malah sengaja membesarkan suaranya. Dia ingin membuat Rayn cemburu, dan berharap hal ini bisa membuat Rayn dan Viona bertengkar hebat dan putus.


''Vi...?'' Rayn kembali berbicara.


''Ray, maaf ya, nanti aku jelasin.'' Viopun mengakhiri teleponnya.


Rayn tersenyum kecut. Dia yakin kalau Viona sedang bersama Kevin. Dia sedikit kecewa pada wanita itu, apalagi barusan Viona terkesan seperti lebih mengutamakan Kevin daripada dirinya.


''Vi, sampai kapan pria itu akan ada diantara kita?'' Rayn menyandarkan kepalanya di kursi mobil dan menutup matanya singkat. Jelas dia terganggu, saat Viona masih sering bertemu Kevin. Rayn hanya takut, kalau mereka kembali bersama.


''Rayn ya?'' tanya Kevin pura-pura tidak tau.


Viona mengangguk, wajahnya sedikit sendu.


''Rayn nggak mungkin cemburu sama aku kan Vi? Dia tau nggak kalau kita udah berteman sekarang? Vi, Rayn bukan tipe yang cemburuan kan? Bahaya loh Vi, kalau pacaran sama orang yang suka cemburuan nggak jelas, bikin tertekan terus lama-lama kamu jadi stres sendiri.''


''Nggak, Rayn nggak gitu kok orangnya.'' Vio kembali masuk, meninggalkan Kevin yang masih berdiri dengan perasaan kesalnya. Pria itu kesal, saat mendengar Viona yang membela Rayn.


Ditempat lain


Sabila baru sampai di cafe, dimana dia akan bertemu dengan pria gebetannya.


''Hai, maaf ya agak telat datangnya.'' Sabila masih berdiri, menyapa pria yang sedang duduk sambil memegang Hp tersebut.


Pria itu menengadah, lalu berdiri, memberikan tangannya pada Sabila. ''Sabila ya, aku Miller,'' ucapnya memperkenalkan diri.


Lalu mereka pun duduk. Si pria memberikan buku menu, meminta Sabila melihat apa yang wanita itu ingin pesan.


''Oh ya, maaf ya, tadi agak macet jadi telat nyampenya.''


''Nggak masalah, santai aja kali, aku belum lama kok nyampenya.''


Sabila tersenyum. Kayaknya pria di depannya ini asyik deh buat diajak ngobrol, tidak kaku dan menyenangkan.


Sabila tidak sadar, sejak tadi ada sepasang mata yang terus mengawasi, melihat ke arahnya. Dicafe itu, di meja paling pojok, ada Daniel yang sedang nongkrong dengan Acel.


''Sabila bukan sih?'' tanya Acel ikut memperhatikan.


''Dan, kamu kenapa sih?'' Acel menegur. Tapi Daniel tidak peduli, pria itu malah berdiri, menghampiri Sabila dan tanpa aba-aba langsung menarik tangannya.


Cepat Miller berdiri, dia menahan satu tangan Sabila. ''Bisa pelan-pelan nggak?'' Miller agak kesal, pria itu menatap Daniel kesal.


''Daniel?'' Sabila kaget, melihat pada Daniel.


''Kamu kenapa sih, lepasin tangan aku dong, sakit ini.'' Daniel tidak menggubris. Daniel, pria itu ikut melempar tatapan tajamnya pada Miller.


''Dan.'' Acel juga datang menghampiri.


''Lepasin nggak tangannya?'' Daniel menyuruh. Dia tidak senang melihat pria itu menggenggam tangan Sabila.


''Bill, dia pacar kamu?'' Miller beralih dan bertanya pada Sabila. Sabila tentu menggeleng, ya karena kan emang dia nggak punya hubungan apa-apa dengan Daneil.


Miller menyeringai dan itu semakin bikin Daniel kesal. ''Sabila calon pacarku, apa hakmu untuk melarangku memegang tangannya?''


''Daniel sakit.'' Sabila mendengus, karena Daniel yang menguatkan genggaman tangannya.


''Dia tunanganku.'' Sabila sontak menatap Daniel, begitupun dengan Acel.


''Ap-apa maksud kamu Daniel? Pertunangan kita udah batal.''


Daniel beralih menatap Sabila, pria itu menyeringai. ''Kata siapa?'' ucapnya yang bikin kening Sabila mengerut. Agak bingung dengan ucapan Daniel.


Acel hanya mengamati.


''Lapaskan tanganmu dari tunanganku,'' ulang Daniel pada Miller.


Miller kembali menatap Sabila. ''Bill, kalian beneran?''


Sabila menggeleng, tapi di detik kemudian dia sudah diam membeku. Daniel, pria itu baru saja menciumnya. Singkat sih, tapi cukup bikin jantung Sabila bergejolak tak karuan.


''See.'' Daniel memberi senyum sinisnya. Miller pun melepaskan tangan Sabila dan langsung berlalu pergi. Semenara Sabila, wanita itu masih diam membeku, hanya matanya yang berkedip kedip gemas.


''Cel, aku pulang duluan ya.'' Daniel pamit dan langsung menarik Sabila bersamanya.


Dimobil, Daniel terus memperhatikan Sabila yang masih diam seperti patung. Beberapa kali dia berdehem, tapi Sabila tidak menggubris,


''Yang tadi ...?''


''Jangan dibahas lagi.'' Sabila tidak ingin membahas masalah ini sekarang. Entahlah, otaknya seperti beku, dia tidak bisa berpikir sekarang.


Viona baru tiba di apartemen. Dia pulang dengan diantar Kevin. Tadinya Vio mau naik taxi saja, tapi Kevin memaksa ingin mengantarnya dan Viopun menyetujui.


''Makasih ya Kev.''


''Vi.'' Kevin mendekat. Pria itu menyeringai, melihat Rayn yang berdiri tidak jauh dari mereka.


''Rambut kamu rontok Vi,'' ucapnya memperlihatkan satu helai rambut Viona yang ada ditangannya.


Rayn mengepal tangannya, menahan rasa sesak didadanya. Rayn pikir Vio dan Kevin tengah berciuman, karena dari tempatnya berdiri memang terlihat seperti itu.


''Makasih kev.'' Vio tersenyum.


''Oh ya Vi, ini buat kamu.'' Kevin memebrikan satu kotak kecil pada Viona.


''Ini apa Kev?''


Kevin hanya tersenyum. Kevin pergi tanpa menjawab pertanyaan Viona. Viona tidak terlalu ambil pusing dan memutar tubuhnya untuk masuk ke gedung apartemen.


Rayn tidak disana lagi, pria itu sudah lebih dulu masuk, karena tidak mau melihat kebersamaan Vio dan Kevin lebih lama.


Bersambung ....