
"Dua dari tiga pekerja sudah ditemukan tertimbun longsoran tanah dalam keadaan meninggal" Safira gemetar dengan wajah memucat mendapatkan informasi terbaru mengenai pencarian korban.
Mama Elbram yang histeris membuat Safira semakin merasa tak berdaya. Kepalanya terasa sakit, ia bahkan kesulitan bernafas. Perlahan keyakinan bahwa Elbram baik-baik saja mulai terkikis.
Safira menutup wajah dengan kedua telapak tangan nya. Ia mulai terisak, rasa takut mengerubungi dirinya. Ia benar-benar ketakutan kali ini, bahkan ia tak pernah merasa setakut ini sepanjang hidupnya.
"Papa, gimana kalo Elbram nggak selamat. Mama nggak sanggup" ucap mama Elbram lemah, ia terisak dalam dekapan suaminya. Sementara Safira harus menghadapi ketakutan nya sendiri tanpa pelukan dan usapan yang mampu menenangkan nya.
"El pasti akan ketemu dalam keadaan sehat ma, jangan putus berdoa" Papa Elbram berusaha menguatkan.
'Ya Elbram baik-baik saja, dia pasti akan pulang dengan selamat' Safira meneriakkan kata-kata itu di hatinya sebagai upaya untuk kembali membangun keyakinan nya yang sempat runtuh.
'Selamatkan dia ya Tuhan' Kali ini Safira ikut menyematkan doa tulus. Ia benar-benar tak mau Elbram pergi dari sisi nya dengan cara seperti ini.
Meski sulit Safira terus berupaya membangun fikiran positif tentang keadaan suaminya. Ia tak ingin semakin lemah dengan mengikuti pemikiran-pemikiran yang akan semakin memperburuk keadaan.
"Safira kamu juga harus kuat, terus doakan suamimu" Safira mengangguk pada papa mertua yang menatap iba padanya. Safira tau tak mudah menjadi pria itu, ia juga pasti merasakan khawatir juga ketakutan di dalam dirinya namun ia harus menyimpan perasaan nya dan terlihat kuat di depan Safira dan mama Elbram yang terlihat begitu rapuh.
Hari sudah beranjak sore pencarian Elbram dan dua pekerja lain masih terus dilakukan, untung saja cuaca hari ini cukup cerah dan tidak terjadi hujan lebat seperti kemarin sehingga memudahkan pencarian.
Safira dan kedua mertuanya juga orang-orang yang ada di sana terus menantikan info terbaru dengan harap-harap cemas.
Mereka berharap Elbram akan segera ditemukan sebelum hari gelap, Safira tak bisa membayangkan kondisi Elbram jika harus kembali melewatkan malam di hutan yang dingin.
"Kasihan Elbram pa, dia pasti kedinginan di luar sana, pasti El kelaparan juga. Mama nggak tega pa" apa yang terlontar dari bibir sang mama mertua juga adalah hal yang terus berkecamuk dalam otak Safira. Memikirkan kesulitan Elbram di luar sana membuat hati Safira terenyuh.
Ia berjanji di dalam hati akan mencoba memperbaiki hubungannya dengan sang suami jika Elbram telah kembali nantinya. Walaupun belum bisa mencintai Elbram kembali seperti dulu, setidaknya ia ingin membangun hubungan baik tanpa kebencian dengan pria itu.
🍁🍁🍁
Safira terbangun mendengar ketukan kuat di pintu diiringi panggilan namanya, entah berapa lama ia tertidur dengan memeluk baju suaminya setelah lelah menangis beberapa waktu lalu. Ia melirik jam di tangannya, waktu menunjukkan hampir tengah malam.
Ia bergegas berjalan menuju pintu dan membukanya. "Elbram dan satu pekerja yang hilang sudah ditemukan, sekarang sedang berada di puskesmas karena kondisi mereka yang lemah" ucap rekan kerja Elbram dengan senyuman namun matanya berkaca-kaca.
Safira menutup mulutnya yang ternganga, akhirnya berita yang ia nantikan datang sesuai harapannya. "El ditemukan?" Tanya Safira meyakinkan bahwa ia tak salah mendengar.
"Iya sudah ditemukan" Rekan kerja Elbram mengangguk pasti.
"Elbram selamat? Dia ditemukan dalam keadaan hidup" ulang Safira dengan air mata yang berhamburan. Gadis itu teramat lega, namun masih tersemat rasa takut jika ini hanya mimpi atau juga rekan kerja El sedang berbohong hanya untuk menenangkannya. Karena itu Safira beberapa kali mencubit pipinya sendiri.
Tanpa berbicara lagi Safira segera bergegas menemui mertuanya yang terlihat memang sudah menunggunya.
"Sayang, Elbram sudah ditemukan." ucap mama Sofia penuh semangat pada menantunya, kondisi sang mertua tampak berbeda saat ini. Terlihat lebih segar dan tak sehancur sebelumnya. Mama El menyambut dan memeluk Safira, wanita itu juga tampak menangis.
"Kabar ini nggak bohong kan ma? Elbram beneran uda ketemu? Elbram selamat?" Safira masih belum berani untuk sepenuhnya percaya karena takut jika fakta yang sebenar nya berbeda, namun gadis itu sangat mengharapkan bahwa apa yang ia dengar benar-benar nyata.
"Enggak sayang, El benar-benar sudah ditemukan dalam keadaan selamat." jawab mama Sofia. Keduanya kembali berpelukan sambil menangis. Beban berat seakan sudah terangkat, meski tetap terselip keraguan di dalam diri Safira. Ia pasti akan merasa sangat hancur jika harapan nya yang terlanjur melambung tak sesuai dengan kenyataan yang ada. Ia tetap harus menyiapkan 1 persen hatinya untuk sebuah kemungkinan terburuk.
"Ayo, kita harus segera melihat kondisi Elbram" ucap papa El pada mama Sofia dan Safira.
Kedua wanita itu segera tersadar dan saling melepaskan pelukan lalu saling berpegangan tangan mengikuti langkah papa El.
"Puskesmas nya jauh nggak dari sini?" Tanya Safira tak sabar. Rasanya ingin berlari meski nyatanya langkah kaki mereka sudah begitu lebar menapaki jalanan
"Cuma 5 menit dari sini mbak" Jawab salah satu penduduk yang mengabarkan bahwa Elbram telah ditemukan.
"Kenapa nggak naik mobil aja biar cepat sampai?" Mama Sofia juga terlihat begitu ingin segera tiba dan bertemu putranya.
"Tanggung ma, kan puskesmas nya dekat." ucap papa El.
"Tuh puskesmasnya uda kelihatan" Timpal rekan kerja Elbram. Menyadari hal itu Safira mempercepat langkahnya hingga setengah berlari ke arah puskesmas tempat di mana Elbram berada.
Safira mulai kehilangan kendali dirinya, ia seolah tak merasakan kakinya berpijak pada tanah. Rasa gugup, takut, dan penasaran berebutan memasuki jiwanya.
Dengan nafas terengah akhirnya ia berhasil menjangkau pintu puskesmas.
"Suami saya di mana sus?" Tanya Safira pada suster yang ia temui. Wanita berseragam putih itu langsung paham karena mungkin memang sedang tidak ada pasien lain selain Elbram dan pekerja yang sedang di rawat di puskesmas tersebut. Ia segera mengantarkan Safira ke ruang rawat, semakin dekat tubuh Safira semakin bergetar. Ia begitu takut pada kenyataan yang akan ia temui beberapa detik lagi.
Pemikiran bahwa Elbram selamat dan bayangan kondisi sebaliknya bergantian mengerubungi otak Safira, terasa begitu menyesakkan baginya.
Safira merasakan bersemangat juga ketakutan secara bersamaan. Elbram selalu saja berhasil membuat perasaan nya teraduk tak menentu.
Saat tiba di depan pintu kamar rawat Safira memejamkan matanya, ia menghela nafas dan membuangnya. Gadis itu melakukannya secara berulang. Ia mempersiapkan diri pada apa yang akan ia temui di depan nya kini.
🍁🍁🍁
Maunya Elbram dibikin mati atau gimana? 😂😂