
Agar Elbram benar-benar pulih, akhirnya pria itu dirawat di rumah sakit setiba nya di kota mereka. Awalnya Elbram menolak dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Elbram memang terluka di beberapa bagian tubuhnya namun tidak ada luka yang serius. Hanya goresan-goresan kecil yang tidak terlalu dalam. Namun karena bujukan dari kedua orang tuanya juga dari Safira akhirnya pria itu menyerah.
"Tapi kamu nggak akan ninggalin aku kan sayang?" Ucapnya pada Safira dengan raut wajah memelas.
"Iya, aku bakalan nemenin kamu El. Kamu nggak usah khawatir" ucap Safira meyakinkan. Pria itu tampak lega mendengar jawaban dari istrinya.
"Tapi aku pulang ke apartemen sebentar boleh ya? mau ambil perlengkapan aku juga perlengkapan kamu" Ucap Safira yang langsung mendapat gelengan kepala dari Elbram.
"Suruh Dini aja bisa sayang, aku nggak mau kamu ninggalin aku" Pria itu tampaknya begitu takut Safira akan pergi meninggalkannya dan tidak kembali lagi, El masih mengingat dengan baik pembahasan mereka tentang permintaan Safira yang ingin berpisah darinya sebelum ia berangkat ke luar kota tempo hari.
"Manja banget kamu El" Sang mama menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka putranya akan bertingkah seperti ini pada Safira.
"Manja sama istri sendiri nggak ada salahnya ma, kalo El manja-manja sama mama pasti suami mama keberatan, iya kan pa?" ucap Elbram sambil menatap ke arah papanya.
"Iya Elbram benar ma" Sang papa terkekeh sembari merangkul istrinya.
"Ya udah aku telfon Dini dulu kalo gitu" ucap Safira.
"Telfonnya di sini aja, nggak usah keluar" Safira menghela nafas jengah, namun gadis itu berusaha memaklumi suaminya yang tengah sakit. Mungkin juga pria itu masih trauma karena sempat melewatkan malam di hutan hanya bersama satu pekerja. Entah apa saja yang pria itu alami, Safira masih belum berani menanyakan nya.
"Iya El" Safira menyerah. Gadis itu kemudian menghubungi sang adik ipar agar membawakan barang-barang yang ia dan El butuhkan selama suaminya dirawat di rumah sakit.
"Mama sama papa kalau mau pulang nggak apa-apa. Mama dan papa harus istirahat biar nggak ikutan sakit" Ucap Safira pada kedua mertuanya yang tampak lelah sehabis ia menghubungi Dini.
"Nggak apa-apa mama nemenin kamu aja di sini. Kamu juga butuh istirahat, pasti akan kewalahan kalo kamu jaga El sendirian" Ucap mama Sofia.
"El janji kok ma nggak akan ngerepotin Safira. Mama dan papa nggak apa-apa pulang aja" Timpal Elbram yang membuat mama Sofia heran.
"El ingin berdua saja dengan istrinya ma, pasti El udah kangen banget sama Safira" Bisik papa Elbram. Sebagai sesama pria sang papa begitu mengerti perasaan dan keinginan putranya.
"Ya sudah kalau begitu, kamu beneran ya jangan banyak mau nya. Safira kalo ada apa-apa hubungin mama dan papa ya" Ucap mama Sofia.
"Iya ma tenang aja" jawab Elbram cepat.
Setelah memastikan semuanya aman, kedua orang tua Elbram akhirnya pulang meninggalkan Safira dan Elbram.
Safira merasa kaku berada di ruangan hanya berdua dengan Elbram, tapi ia sama sekali tak bisa menghindar. Sang suami bahkan menggenggam erat tangannya seolah Safira akan lari jika pria itu melepaskan tangannya.
"Tidur El, supaya cepat sembuh dan kita bisa segera pulang" Ucap Safira, ia benar-benar dibuat salah tingkah karena El terus menatap pada dirinya.
"Kamu akan tetap berada di sisi ku kan sayang? kamu nggak akan ninggalin aku kan?"
"Bukan itu maksud aku sayang, kamu mau kan melanjutkan pernikahan kita? kamu nggak akan minta berpisah lagi dari aku kan?" tanya pria itu lagi.
"Iya El, udah ya. Jangan bahas yang berat-berat dulu. Sekarang kamu tidur, kalo nggak nurut aku nggak mau nemenin kamu di sini" Ancam Safira, dan berhasil pria itu mengangguk dan memejamkan matanya.
🍁🍁🍁
Malam semakin beranjak selepas kepergian Dini dan kedua orang tua Safira yang datang untuk membesuk menantunya, kini Safira kembali hanya berdua dengan Elbram. Ia sudah sangat mengantuk namun El masih betah membuka matanya.
"Kamu ngantuk ya?" Tanya El saat melihat Safira menguap untuk ke sekian kalinya.
"Iya, kamu belum ngantuk emang nya?" seperti sebelumnya tangan El tak lepas menggenggam tangan istrinya. Sudah dipastikan Safira tak akan bisa beranjak meninggalkan suaminya selama Elbram masih belum terlelap.
"Ayo tidur di sini" Elbram menggeser tubuhnya memberikan ruang agar Safira bisa tidur di ranjang yang sama dengannya.
"Nggak muat El, kamu nggak akan nyaman kalo aku ikut tidur di sana. Aku tidur di sana aja ya?" Safira menunjuk sofa yang tak begitu jauh dari ranjang Elbram.
"Kamu di sini aja, muat kok sayang. Aku justru nggak akan nyaman kalau tidur tanpa kamu" timpal Elbram.
"Nanti kena marah suster El, aku nggak berani" Tolak Safira.
"Nggak akan ada yang berani marah sayang aku jamin" Elbram menatap penuh harap pada Safira.
"El aku tidur di sofa aja, nanti badan kamu sakit semua kalo ranjang nya sempit" Safira masih berusaha menolak, ia tak bisa membayangkan jika ia ikut tidur di ranjang maka posisi nya akan sangat dekat dengan Elbram. Safira masih belum terbiasa akan hal itu. Selama ini meski ia dan El tidur di ranjang yang sama namun masih ada jarak diantara mereka karena ranjang mereka yang luas.
"Kalo gitu aku ikut tidur di sofa juga" Elbram tetap kukuh pada keinginan nya.
"Kamu nyebelin El" sungut Safira kesal. Dengan wajah ditekuk Safira naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya. Benar saja tubuhnya dan El saling menempel saking dekatnya mereka. Elbram tersenyum puas karena usahanya membuahkan hasil.
Elbram menyelipkan tangannya ke bawah leher Safira agar gadis itu membantalkan tangannya. Pantas saja pria itu menolak untuk diinfus, ternyata ia sudah menyiapkan rencana nya sendiri.
Safira memiringkan tubuhnya membelakangi Elbram agar pria itu tak melihat rona merah di wajah nya. Selama ini ia kerapkali terbangun dalam pelukan Elbram di pagi hari mengingat mereka tidur di ranjang yang sama. Namun hal itu terjadi di luar kesadaran nya. Berbeda dengan malam ini, ini adalah kali pertama ia begitu dekat dengan Elbram dalam keadaan sadar.
"Selamat malam, mimpi indah sayang" Bisik Elbram, hembusan nafas hangat pria itu membuat tubuh Safira meremang. Apalagi saat ini Elbram melingkarkan tangan yang satu lagi di pinggangnya. Safira dibuat mati kutu oleh pria itu, Elbram benar-benar memanfaatkan keadaan dengan baik.
"Selamat malam, kamu juga buruan tidur" ucap Safira. Gadis itu berusaha memejamkan matanya, padahal rasa kantuknya telah lenyap berganti dengan rasa gugup yang luar biasa.
🍁🍁🍁